Puisiku

Sajak yang (teramat) Sederhana

Ini sajak sederhana.
Ku tulis malam hari saat dinding dingin dan membisu.
Ketika aku mencari wangi rambutmu
dan seutas senyum manismu.

Bertemu tak bertemu jadi semu kini batasnya
maknanya, barangkali kita masih bisa menghargai
meluruskan langkah yang terkadang sia-sia
dalam perjalanan hidupku dan hidupmu.

Segala yang riang adalah kamu, Fina.
Jangan hapus aku,
ketika sinar purnama memasuki kamarmu.

Apakah cukup buat kamu sebait sajak, Fina?
Mending di pinggiran jalan saja nonton parade
orang-orang bergelimang uang.

Aku tidak bisa ikut dengan parade mereka itu, Fina
sebab aku telah ada dalam barisan para cecunguk.
Tapi aku yakin
kamu laksana alang-alang
yang selalu tunduk dihantam apapun,
tapi akarnya tak pernah tercabut,
menggeliat gemulai,
halus tak pernah menyakiti.
Apalagi hanya karena dasar barisan yang tidak sama itu.

Hari ini aku hanya punya sajak, Fina.
Dengan ini aku berusaha membasuh duka getirmu.
Ada tembang khatulistiwa, legenda baduy serta indahnya
musik klasik Mozart kucoba hantarkan melalui sajak ini.
Tapi, kemanakah gerangan senyummu?

Aku tak percaya bila sajak ini bikin kamu senyum, Fina
malah bikin kamu cemberut.
Ahh…tiuplah saja lilin kecemberutan itu.
Dekap erat bayangku
biarkan hari-hari terus bergulir.

Batas kultur adalah omong kosong,
walau akhirnya kita terbelenggu.

Kehidupan senantiasa merenggut apa saja, Fina
Tinggal tunggu Tuhan bersabda:
Kuunfayakuun; jadilah maka jadilah!

Kalau memang itu takdir Tuhan
maka bergemaslah,
pakai bajumu dan ikutlah bersamaku
meniti jalan-jalan kehidupan yang demikian terjal.
Aku akan senantiasa menggenggam tanganmu
dan tak akan kubiarkan sebongkah batupun menyentuh kakimu.

Waduh….
Entah kenapa kutulis sajak buatmu, Fina.
Maafkanlah aku sementara aku bingung
wangi rambutmu dan senyummu sepertinya ada dimana-mana.
Sekali lagi ini cuman terjadi dalam sajak sentimentil.

Maafkan aku, Fina
kalau sajak ini bangkitkan murka di keningmu
itu wajar, sebab sajak ini
Ku tulis di dalam kamar yang angkuh,
bersama dinding yang kusam dan bisu
yang juga tak pernah tersenyum. **

Medan, 29 Desember 2008

Curhatku buat Fina

Fina, saudaraku
mungkin saja kau bosan mendengar ocehan ini
mungkin pula kamu cuma membatu dengan sajak ini
tapi, biarlah,
karena aku hanya bercerita pada anak-anak Indonesia.

Fina, saudaraku
di kotamu mungkin masih ada sedikit cerita
tentang harimu yang panjang
sementara saudaramu ini, berangkat ke kota sudah tak sanggup
karena ada banyak bocah yang tak sanggup aku beri mainan.

Fina, saudaraku
berbahagialah pada hari-harimu
karena kamu masih punya sawah untuk ditanami
masih punya kebun untuk dipetik buahnya
dan kau akan tersenyum memandang semua itu.

Fina, saudaraku
di saat-saat sendiri saudaramu ini
terkadang aku bertanya: apakah kau tidak terenyuh melihat
jutaan orang lain yang tidak bisa panen dari hasil sawahnya
dan tidak ada yang dapat dipetik dari kebunnya.

Fina, saudaraku
ketika orang larut dalam do’a
aku hanya menggenggam kaki langit
dan tengadah pada senja buram
telah banyak syair tercipta
maka sebegitu pula aku padamu
tiap hati mengingat-ingat cerita kita
tentang Indonesia, yaitu anak-anak bangsa yang gelisah !!

Fina, saudaraku
seberapa sanggup kau pahami imajinasiku
yang meronta-ronta karena ketidakadilan
yang dialami oleh sebagian sahabatku:
gelandangan, tukang becak, tukang sampah, petani, buruh
biarlah dikau tertawakan aku,
yang penting aku telah sampaikan penderitaan mereka padamu.

Fina, saudaraku
terkadang orang tak pernah bosan menggurui kita
tentang sesuatu yang aneh di bumi Indonesia ini
seperti juga kamu,
aku juga belum sanggup untuk berkata
soal kemiskinan, soal kebodohan, soal kehidupan yang semakin tidak adil.
karena tanganku terpanggang arang materialisme
tak sanggup memegang himpitan hidup yang begitu dahsyat
meronta-ronta mengusik ketenanganku.

Fina, saudaraku
aku belum bisa bicara
meski aku masih menatap wajah buram
ribuan anak-anak Indonesia kita
dari matanya aku melihat lukisan derita
tiap mata mengandung dahaga
aku sampaikan ini padamu
agar kamu tahu bahwa Indonesia belum merdeka.
Semoga Indonesia tak memarahiku !!

Fina, saudaraku
mohonlah pendam ceritaku ini
jangan ceritakan kepada gunung-gunung dan batu-batu
karena telinga mereka belum sanggup mendengar
tangan mereka belum rela dan ikhlas
untuk mengentaskan semua itu.
Saat ini mereka seperti kehilangan makna
kehilangan hati nurani untuk menuai cerita luka.

Fina, saudaraku
maafkan saudaramu ini
tak pernah bosan mengadu padamu
tapi biarlah, aku terus berceloteh
di rumah-rumah yang kian sepi.

Fina, saudaraku
aku aku berceloteh padamu
bukan karena ada yang tak sanggup kugenggam dengan jemari ini
hanya saja aku teramat tak bosan
untuk menceritakan tangisan-tangisan ini.

Fina, saudaraku
entah seberapa lama aku sanggup menggenggam idealisme ini
yang lahir dari ketidakberbagian hidup
kelak, ketika aku telah menjadi gunung dan batu
berdoalah semoga aku
bisa membuat Indonesia selalu ramah !!

Fina, saudaraku
semoga pula saja kau tak jemu menjengukku
di perjuangan hidup negeri ini
hanya dengan itulah saudaramu ini
bertahan untuk mencakar-cakar langit Indonesia.

Fina, saudaraku
baiknya kita tutup saja dialog ini
agar kau tak merasa berdosa
dan aku pun tak berharap pula.
Amin pada Tuhan saja !!

Padang Bulan, Medio Oktober 2001

Tunggu Aku di Beranda Rumahmu!

Sore ini,
kalo cuaca lagi bagus
dan motor bututku tidak lagi ngadat
aku akan datang ke rumahmu.

Jika kamu dengar deru motorku
bukalah gerbangmu lebar-lebar
biarkan angin menyapu indah kulitmu.
Dan bunga mawar yang senantiasa
kamu sirami di taman kecilmu
biarkan memancarkan keindahan surgawi.

Sebelum aku datang,
jangan lupa siapkan secangkir kopi dan
sepiring pisang goreng
agar pertemuan kita sehangat pisang goreng dan
secangkir kopi itu.
Untuk kamu,
nanti aku bawa pecal uleg kesukaanmu.

Tapi sebelumnya,
burung perkutut peliharaan ayahmu itu
pindahkan saja dulu ke belakang.
Burung juga perlu suasana baru
biar dia tahu dunia bukan hanya teras rumah.
Lagi pula,
burung itu suka berisik
nanti kita bisa terganggu.

Jangan berdandan terlalu elok
lipstik juga seadanya saja
nanti akan terhapus juga.
Baju tidurmu itu pakai saja
meski sudah agak kumal
tapi keindahanmu terpancar dari sana.

Mungkin aku datang agak sore
tapi aku janji sebelum matahari benar-benar tenggelam
karena senja dan cahayanya
akan semakin menambah romantisnya pertemuan kita.

Sambutlah aku di gerbangmu
dengan sepotong senyummu
secangkir tawamu
sepiring binar matamu
dan biarkan kita melebur dalam cinta
di beranda rumahmu !!

Rahmad Nur Lubis, Medan, 13 Juni 2002



Aku Percaya Padamu, Perempuan!

Tiada lagi yang akan kuucapkan
selain aku percaya padamu.
Ku percayakan semua padamu, perempuan
yang kuharapkan dengan tulus akan melahirkan anak-anakku
dari benih-benih yang kutanam di pekaranganmu.

Tiada lagi yang akan kuucapkan
selain aku percaya padamu.
Kutitipkan yang bernama harapan
yang tersembunyi dalam wajah manis yang pucat
aku akan selalu mengajakmu duduk bercakap.

Tiada lagi yang akan kuucapkan
selain aku cinta padamu.
Dengan segala kewajaran kucintai kau, perempuan !!
yang dengan tulus kuminta memecahkan gelisahku.

Tiada lagi yang perlu kupikirkan
selain aku cinta padamu.
Lambaian tangan yang terhiba dan terurai
yang selalu mengharap pada rembulan pagi
mengucap janji,
aku akan selalu mencintaimu
aku akan selalu menginginkanmu
aku akan selalu mengharapkanmu
aku akan selalu suka bercakap denganmu
aku akan selalu mempercayaimu.

Selalu dan selalu begitu,
meski kau tak pernah menyambutku
ketika aku pulang dari kemurunganku.

Rahmad Nur Lubis,
Kamar Seroja 32, Repro medio Agustus 2004

Siang Itu

Hari ini kembali kulihat lagi
seuntai senyum yang telah bersembunyi
dalam lorong waktu.

Kari ini kulihat lagi
indah tatapmu.
Dalam desis kualunkan hamdalah
tembus anganku gundah.

Pertemuan kita siang itu
porak-porandakan kesepianku.

Rahmad Nur Lubis,
Kamar Seroja 32, awal Maret 1997


Lenyap

Gadis, asa yang dulu kau tancapkan di keningku,
asa yang dulu kau tanamkan di hatiku.
Hari Ini,
telah lenyap dari persimpangan jalan.

Ketika waktu,
tak lagi terbekap,
dan jarak,
tak lagi tersekat.

Rahmad Nur Lubis,
Medan, medio sept. 2001


Diammu

Jangan sayat aku dengan diammu
ungkapkanlah pada angin
bila ternyata rindu menyapa
dan bernyanyilah untuk dukaku
jika rindu masih mengembara.

Rahmad Nur Lubis,
Kamar Seroja 32, awal maret 1997

Seroja 32

Pecinta !
Berhentilah menanam rasa
dan berhentilah menimang duka
belokkan arah pulang kembali
sebab,
sekeping rindu sudah terobati.

(Pulang akhhh…..
Seroja 32 sudah menanti )

Rahmad Nur Lubis,
Kamar Seroja 32, 17 September 2001


Satu Tanggapan to “Puisiku”

  1. ndah baru tau kmu suka nulis puisi,menurut ndah bagus kok walaupun semua puisi yg kmu tulis gak ndah baca semua biz pusing trz cerita2 kmu juga bagus2 kok,mudah2an kedepannya lebih bagus lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: