Surat Terbuka untuk Om Gerrard

“Anda ingin saya bertaruh? Jika seseorang mengatakan kepada saya sekarang, ‘buatlah tatto di separuh tubuh Anda dan Anda akan memenangkan Priemer League’, saya akan melakukannya besok.” ~ Steven Gerrard.

Om Gerrard, Anda memang tak mengenal saya. Tapi saya sudah mulai memperhatikan Anda sejak Final Piala UEFA tahun 2001 lalu. Izinkan saya bercerita sedikit beberapa momen hidup yang saya lalui “bersama” Anda. Seumur hidup, saya selalu mengingat itu.

Ketika sundulan Anda menjebol gawang AC Milan di Final Champions 2005, saya nyaris membayar ganti rugi yang jumlahnya tidak sedikit ke salah seorang pemilik kedai kopi di Padang Bulan, Om Gerrard. Betapa tidak, tanpa sadar, saya melompat tinggi saat gol itu tercipta, dan sialnya saat mendarat lutut saya menyentuh meja. Cukup keras, Om Gerrad, sampai gelas-gelas di atas meja itu goyang dan hampir terjatuh.

Beruntung, saat itu saya menonton dengan orang-orang yang mengerti filosofi sepakbola yang saya anut. Di negara kami, Indonesia, tidak ribut bukanlah menonton bola namanya, tapi menonton bokep. Jadi sesama penghuni warung kopi itu hanya tersenyum melihat ulah saya yang seperti kelebihan hormon merayakan gol Anda.

Sayangnya, ketika Liverpool FC akhirnya menang lewat drama adu pinalti, saya seperti kehilangan tenaga. Saya sudah begitu lelah menikmati momen-momen tiga gol beruntun di babak kedua, dan orgasme setiap kamera televisi menyorot ke arah Anda yang dengan gestur tubuh terus mengajak teman-teman Anda “berjuang” mengejar ketertinggalan 0-3 di  babak pertama.

Gambar

Kegilaan saya kembali terulang setahun kemudian. Di Final Piala FA 2006 saat Liverpool menghadapi West Ham United. Tepatnya di menit 91, tempat tidur saya nyaris jebol karena kelakuan Anda, om Gerrard. Ketika waktu sudah memasuki injury time, sejujurnya saya sudah pasrah Liverpool kalah 2-3. Saya pun memilih menikmati laga dengan hanya tiduran.

Tiba-tiba… baaaaaammm!!!! Satu tendangan cannon ball dari luar kotak pinalti Anda lesakkan. Sungguh, saya hanya dapat melihat bola itu sudah bersarang di gawang West Ham. Bahkan, dalam beberapa kali slowmotion yang ditayangkan, kerasnya aliran bola tetap sulit diikuti kamera secara utuh.

Gol itu tidak saja menyelamatkan Liverpool, tapi juga membuat gelar juara Piala FA yang sudah di depan mata West Ham melayang ke tangan Liverpool. Saya tak perlu menceritakan bagaimana euphoria saya setelah kemenangan itu, Om Gerrard. Yang jelas, pengamat sepakbola dan wartawan di Inggris mencatat, laga tersebut menjadi laga paling dramatis dalam sejarah Final Piala FA. Dan Anda lah aktor utamanya.

Anda pasti tahu itu, Om Gerrad. Yang Anda tidak tahu adalah kisah saya menikmati gol Anda tersebut. Lagi-lagi, tanpa sadar saya meloncat dari tempat tidur, mendarat kuat di satu anak tilam yang kebetulan saya keluarkan dari kolong tempat tidur. Suara deritan pegasnya terdengar kuat, dan sejak saat itu tempat tidur tersebut tak nyaman lagi ditiduri karena pegasnya rusak.

Anda memang luar biasa, Om Gerrard. Bahkan hingga kini jadi satu-satunya pemain di kolong jagad yang bisa mencetak gol di semua final kompetisi klub di daratan Inggris dan Eropa. Semakin fantastis karena Anda hanya memberinya untuk satu tim; Liverpool FC. Om Gerrard, saya belum pernah menemukan pemain sepakbola seloyal Anda kepada klubnya. Belasan tahun karier Anda hanya bermain untuk Liverpool FC. Dua kali ajakan Ferguson agar bergabung dengan MU tak Anda penuhi. Padahal, siapapun tau, di era itu MU sedang menjelma jadi satu kekuatan yang menjanjikan memberi banyak gelar.

Begitu pula berkali-kali ajakan Jose Mourinho bergabung ke setiap klub yang dia tangani, Anda masukkan ke keranjang sampah. Beda dengan Ferguson yang “jaim” mengakui kehebatan Anda kendati dia tak membantah dua kali berupaya mengajak Anda ke MU, Mourinho dengan terang-terangan ke media mengakui bahwa Anda masuk list pemain yang coba dia rekrut saat dia mulai menangani Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid.

Jika hanya ingin meraih gelar Priemer League, tentu tak sulit bagi Anda di musim-musim lalu. Anda cukup pindah ke klub kaya raya seperti Chelsea dan Manchester City, atau ke klub bertradisi panjang seperti MU. Semoga saya benar dengan statemen saya ini, Om Gerrard. Bagi Anda gelar tanpa Liverpool FC seolah tak memberi kebanggaan apa-apa.  Ironi memang, perjalanan panjang karier Anda yang luar biasa di Liverpool FC belum terasa sempurna karena belum pernah mengangkat tropy juara Priemer League.

Hanya itu satu-satunya yang belum Anda berikan ke klub yang jutaan pendukungnya di semesta ini sangat memuja Anda. Sementara usia Anda hampir memasuki masa injury time untuk bisa bermain maksimal sebagai pesepakbola pada umumnya. Apapun hasilnya kelak, termasuk kemungkinan terburuk Anda tetap gagal memberi gelar juara Priemer League untuk Liverpool FC, seluruh dunia pasti akan sepakat menempatkan Anda sebagai legenda yang belum tentu lahir dalam kurun 100 tahun. Siapapun boleh tidak menyukai Liverpool FC, tapi rasanya hanya orang tak mengerti sepakbola secara utuh yang tidak mengakui betapa fenomenalnya seorang Gerrard.

Karena itu, salah satu keberuntungan hidup yang pernah saya rasakan adalah saat melihat Anda secara langsung dari dekat, om Gerrard. Serasa mimpi ketika saya bisa melihat Anda hanya dari jarak kurang 20 meter, Juli 2013 lalu. Setidaknya dua kali saya mendapatkan momen itu. Pertama, saat bus yang membawa rombongan Liverpool FC dengan sirene meraung-raung menyalip mobil kami di jalanan pusat Kota Bangkok. Teman saya, Roy, sekelebat membuka kaca mobil dan mengibarkan scraf Liverpool FC ke arah bus yang melintas persis di samping kami. Ah, saya ingat bagaimana Anda tersenyum dan menjentikkan jari dari balik kaca bus ke arah kami.

Momen kedua, sesaat setelah Anda bersama rombongan keluar dari Hotel Meridian, Bangkok, menuju Stadion Rajamangala untuk laga persahabatan lawan Timnas Thailand. Ketika Anda sudah duduk di bus menunggu teman-teman Anda masuk, bersama beberapa fans lain dari Asia, saya berusaha mendekat sedekat mungkin.  Lumayanlah, Om Gerrard. Saya bisa mengabadikan Anda dari jarak kurang 10 meter. Seperti biasa Anda tersenyum, dan menoleh ke arah saya. Walau gagal berfoto bareng dengan Anda dalam dua kali kesempatan itu, bagi saya melihat Anda secara langsung saja pun sudah seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Biarlah orang-orang menyebut saya lebay, groupis, atau apapun sebutannya. Tapi sejujurnya saya sulit menyukai orang yang dijuluki superstar sekalipun sampai sebegitunya, kecuali orang itu memang saya anggap luar biasa dan menginspirasi. Izinkan saya Om Gerrad, untuk menyebut bahwa Anda masuk dalam daftar tersebut.

Sekian dulu, Om Gerrard. Saya mau mandi karena sebentar lagi saya mesti duduk di depan layar kaca untuk kembali menikmati “kebersamaan” saya dengan Anda.  Oya, jangan lupa doakan saya agar kelak bisa duduk di tribun Stadion Anfield. Walau mungkin tidak lagi menonton Anda sebagai pemain, melainkan melihat Anda memberi instruksi kepada para pemain Liverpool FC dari bench. Itu pun tak mengurangi kebanggaan saya.

Wabillahi taufik wal hidayah, Assalamualaikum warohmatulloh wi wabarao katu.

Gambar

~ oleh rahmadlbs pada 16 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: