Pelatih Hebat Itu Kini Terserang Kanker Paru

Malam ini, di atas peraduan, kabar tadi sore itu tiba-tiba meyelusup ke ruang hati dan pikiranku. Bayangan buruk langsung menggelayut di depan mataku. Pria tinggi besar yg atletis itu kini harus berjuang hidup mati untuk melawan kanker paru stadium 4 yg menggerogoti tubuh dan membuat matanya tak bisa melihat lagi.Sebenarnya, sudah sejak dua minggu lalu aku mendengar kabar dia sakit. Namun, tak terbersit dalam benakku bahwa dia akan mengalami sakit separah itu. “Ah, biasalah, mungkin sakit demam biasa saja,” pikirku.

Saat aku dengar dia mulai dirawat di RSUP Adam Malik, aku pun masih menganggapnya biasa. Ketika seorang teman mengabari bahwa sakitnya adalah lever, aku tetap menganggapnya biasa. Apalagi saat teman itu mengirim fotonya via BBM, aku lihat semua biasa saja. Fotonya yg tergolek di satu tempat tidur rumah sakit, mengenakan celana pendek dan kaos berkerah. Tubuhnya pun aku lihat (lewat foto itu) tetap menunjukkan keatletisan meski di pergelangannya tertancap jarum infus.

Aku memang terlalu menyepelekan persoalan, hingga tadi sore aku datang ke Stadion Teladan Medan untuk menonton laga amal sekaligus penggalangan dana buat pengobatannya. 

“Sakitnya apa bang? Lever kan?” tanyaku kepada Azam Nasution, Ketua Harian PSMS Medan.

“Kau udah pernah jenguk dia belum?”

“Belum.”

“Jenguklah. Dia kena kanker paru stadium empat, matanya terus mengeluarkan air berwarna hitam yang membuatnya tak bisa lagi melihat orang. Tapi ingatannya masih bagus, dia sadar, bilang saja namamu saat menjenguknya nanti,” jelas Azam.

Aku terdiam. Antara percaya dan tidak. Pertanyaan yg sama aku ajukan lagi kepada mantan Humas PSMS, Abdi Panjaitan. Lagi-lagi aku mendapat jawaban, “Parah, kankernya stadium empat, dokter pun sudah nyerah,” katanya.

Abdi pun menyarankan aku untuk menjenguknya. “Di ruangan Rindu A3, lantai tiga,” jelasnya menerangkan ruangan tempatnya dirawat di RSUP Adam Malik.

Pria yang kami perbincangkan itu adalah Rudi Saari. Aku mengenalnya sejak tahun 2005 lalu saat dia mulai dipercaya menjadi asisten pelatih PSMS Medan mendampingi M Chaidir.

Selepas musim 2005 itu, aku lumayan intensif berkomunikasi dengannya. Sebab, aku dipercaya manajemen PSKPS Padangsidimpuan yang saat itu berlaga di Divisi I Liga Indonesia untuk mencari pelatih. Dari awal, aku langsung tertarik menyodorkan nama Rudi Saari.

Pertimbanganku sederhana, sebagai klub yang baru merangkak naik, PSKPS perlu ditangani seorang pelatih muda, komunikatif, punya kemampuan “merangkul” pemain, dan terutama tak jadi provokator! Yap, aku tahu persis, banyak pelatih yg “diam-diam” mempengaruhi pemain agar menuntut macam-macam kepada manajemen. Yang lebih parah, banyak pula pelatih yg “berkepala dua”, lain omongannya di depan manajemen, dan lain di depan pemainnya.

Kala itu, aku mengenal Rudi baru 6 bulan. Tapi aku sudah bisa memastikan, karakteristik buruk banyak pelatih itu tak ada pada dirinya. Aku tahu persis karena hampir tiap hari berada di Kebun Bunga, mess PSMS. Aku juga lumayan intensif berkomunikasi dengan pemain dan beberapa mantan pemain PSMS. Nyaris semua memberikan komentar yg positif tentang sosoknya.

Rencanaku memboyongnya ke PSKPS tak kunjung terealisasi. Kontraknya sebagai asisten pelatih PSMS ternyata diperpanjang, bahkan dia dipercaya memimpin anak-anak Ayam Kinantan berlaga di Piala Emas Bang Yos 2006 di Jakarta, karena M Chaidir yg menjadi pelatih kepala sedang mengambil sertifikat kepelatihan AFC.

Hasilnya sangat mengejutkan; PSMS yang semula dianggap hanya berstatus underdog malah keluar sebagai juara, di bawah tangan dingin Rudi. Kisah sama terulang tahun berikutnya. Freddy Mully yang diangkat menjadi pelatih kepala PSMS menggantikan Chaidir, dan Rudi tetap jadi asisten. 

Di saat berlaga di Piala Emas Bang Yos 2007, Rudi kembali “naik status” sementara jadi pelatih kepala karena Freddy mengambil sertifikat kepelatihan AFC. Hasilnya, lagi-lagi PSMS berhasil meraih gelar juara!

Tapi itulah Rudi. Sifatnya yang tak terlalu suka menonjolkan diri, membuatnya sepi dari pemberitaan jor-joran. Orang seakan tak tahu bahwa Rudi lah sosok di belakang keberhasilan tersebut. Maklum, Rudi enggan berkomentar banyak kepada media, dan jika untuk pemberitaan, dia langsung meminta agar pelatih kepala atau manajer saja yg memberi komentar.

Sifat enggan menonjolkan diri ini sebenarnya sudah dia tunjukkan semasa menjadi pemain. Tiga kali berhasil membawa Harimau Tapanuli menjuarai Kompetisi Antar Klub se-Indonesia, nama Rudi jauh berada di bawah bayang-bayang Iskandar Jalil, Mardianto, Subandi, Sabda Lumbantoruan, dan pemain-pemain Harimau Tapanuli lainnya. Begitu pula saat dia menjadi pemain PSMS Medan.

Jauh dari hiruk pikuk pemberitaan, kendati dia sangat dekat dengan banyak wartawan, kembali dilakukan Rudi saat dipercaya menangani tim sepakbola PON Sumut 2012 lalu. Dia bekerja dalam sunyi, berpeluh dengan pemain-pemainnya selama berbulan-bulan di salah satu areal perkebunan di Simalungun. Di sana dia memimpin latihan Tim PON Sumut. Tanpa keluh kesah sedikit pun walau saat itu anggaran dana untuk timnya tidak ada!

Orang baru tercengang dan tersentak ketika tim PON Sumut maju ke Final melawan Kaltim. Tak ada yg menyangka. Di tengah karut marut dualisme kepengurusan PSSI Sumut, Rudi diam-diam membangun suatu kekuatan tim berisikan anak-anak muda berusia di bawah 21 tahun yang sangat menjanjikan.

Sayang, di partai puncak, tim hebat yang dibangun dengan dana seadanya ini harus mengakui keunggulan Kaltim 1-2 lewat perpanjangan waktu. Namun, semua angkat topi terhadap tim ini. Meraih perak adalah sebuah hasil yang sungguh tak disangka mengingat konflik internal di kepengurusan yang demikian kusut.

Raut wajah kecewa Rudi jelas terlihat setelah laga itu. Aku menyalaminya sesaat setelah keluar dari Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru. “Anak-anak mainnya sudah maksimal, tapi gimana lagi, mad, kita lengah di perpanjangan waktu,” katanya.

Hanya saja, Rudi tak mau menunjukkan kekecewaannya di hadapan para pemainnya. Setelah laga itu, bersama para pemain dan beberapa official tim PON Sumut, kami menghabiskan waktu hingga larut malam sembari bernyanyi-nyanyi di salah satu restoran sea food di Pekanbaru. Dia seperti ingin melupakan kekalahan itu dengan sesekali ikut berjoget ke atas panggung kibot.

Di hotel, sepulang dari sana, kami cuma sempat berbincang sejenak. “Aku dengar awak mundur dari Ketua PSMS Fans Club. Apa cerita?” tanyanya saat kami duduk di lobi hotel.

“Capek, bang. Pusing ngurusin orang yang berantam terus,” jawabku sekenanya. Kami lantas sama-sama tertawa.

Tak lama dia pun mohon izin untuk naik ke atas, mau tidur di kamarnya. Sebelum beranjak, dia masih sempat menanyakan, apakah aku akan ikut pulang besoknya bersama rombongan atau masih main-main dulu di Pekanbaru. Ketika aku jawab masih tinggal di Pekanbaru, dia menyeletuk, “Iyalah, itulah enaknya lajang. Awak sudah rindu mau pulang ke Medan. Sudah berbulan-bulan nggak dekat keluarga karena nangani tim ini,” katanya sembari menyalamiku. Kalau tidak salah, waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB.

Setauku, Rudi memang orang yg tak tahan begadang. Pola hidupnya sangat teratur. Merokok pun tidak, apalagi minum-minuman beralkohol. Berkali-kali aku duduk bareng beberapa mantan pemain PSMS di Kebun Bunga, dan sesekali ada minuman beralkolhol di sana, tapi sekalipun aku tak pernah melihat Rudy menyentuhnya.

Maka itu, Rudi sangat tidak suka kepada pemain yang tidak disiplin, apalagi merokok. Aku ingat betul, saat PSMS bertanding di Sidoarjo, dia pernah “mengetes” kedisiplinan pemainnya dengan pura-pura masuk ke kamar hotel pamit tidur. Diam-diam, Rudi keluar kembali dari kamarnya, menyelusup ke lobi mengintip pemain yang masuk ke hotel. Dan, “tertangkaplah” beberapa pemain yang diam-diam keluyuran keluar hotel.

Tapi jangan berpikir Rudi memarahinya saat itu. Dia mendiamkannya saja. Dia baru menyemprot si pemain saat briefing besok paginya. Si pemain pun tak bisa berkelit lagi. Aku ingat betul alasannya ketika aku tanya kenapa dia tidak langsung menyemprot si pemain sesaat setelah masuk hotel tengah malam itu.

“Mad, aku tidak suka memarahi pemainku di depan orang lain yang bukan bagian dari tim. Mereka sudah dewasa, tentu mereka akan sangat malu jika dimarahi di depan orang. Lebih bagus, marahi dia saat briefing, setelah itu ajak bicara berdua. Itu lebih efektif, dan buat dia lebih bisa menerima,” jelasnya.

Ah, Rudi.. Kenangan tentangmu terus mengalir hingga pagi buta ini. Aku terakhir melihatmu saat berdiri di pinggir lapangan memberi instruksi kepada pemain-pemain PSSB Bireuen melawan PSMS di Stadion Teladan, musim lalu. Tapi kita tak sempat bertegur sapa, karena sesaat habis pertandingan, aku langsung beranjak pulang.

Setelah itu, benar-benar putus kontak, walau aku tahu sekitar 5 bulan lalu, kau masih bermain bola bersama mantan-mantan pemain PSMS untuk penggalangan dana atas meninggalnya Wibisono, mantan pemain PSMS. Tak seorang pun menyangka, kemarin sore acara penggalangan dana juga digelar untukmu.

Setelah kabar kau terkena kanker paru stadium empat aku dengar tadi sore, duka langsung mengurungku. Istri dan ketiga anakmu masih sangat membutuhkanmu. Perjalanan ketiga anakmu masih sangat panjang. Mestinya mereka mandiri dulu sebelum kau pergi.

Pagi ini, kubayangkan pergumulanmu melawan penyakit itu, sementara kau ingin hidup lebih lama, seperti kemauan orang-orang yang menyayangimu.

Tapi jangan risau, mukjizat Allah SWT masih sangat mungkin kau dapatkan. Percayakan saja kepada Dia. Begitu pula jika nanti akhirnya kau harus menyerah. Percayalah, Allah SWT lewat tangan para malaikat-Nya akan menuntun langkah anak-anakmu. Kebesaran-Nya akan menghalau duka mereka.

Semoga masih bisa sembuh lagi, Bang Rudi. Nanti sore aku akan menjengukmu.

~ oleh rahmadlbs pada 22 Desember 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: