Patah Hati Melahirkan Pemain Seperti Mahyadi

“Kurang ajar benar dia. Kurang apa lagi yang kubuat ke dia. Skripsinya aku bantu, lamaran kerjanya aku antarkan. Mau ini, mau itu, aku turutin. Eh, gitu aku ajak pacaran, banyak kali alasannya. Payah!!”

Oleh: Rahmad Nur Lubis

Dengan wajah setengah gusar, teman saya melancarkan sumpah serapahnya. Dapat dimaklumi, berbulan-bulan sudah dia melakukan pendekatan, namun panah asmara yang dia tancapkan ternyata tak bersambut. Teman saya begitu terpukul.

Wajahnya kusut masai seakan kehilangan gairah hidup. Harapan yang telah dia bangun, runtuh tak berbekas seperti kota Hiroshima yang dibombardir pasukan sekutu pada akhir perang dunia kedua.

Namun, tak berapa lama kemudian, dia mengapungkan sebuah tekad. Entahlah, apakah itu jujur dari hati kecilnya atau hanya bagian dari penghiburan terhadap dirinya sendiri.

“Biar sajalah. Suatu saat dia akan menyesal pernah menampik lelaki sebaik aku,” ujarnya sembari menyanyikan lagu Iwan Fals, ‘Aku Bukan Pilihan.’ Alamak……

Berbulan-bulan saya hilang komunikasi dengan teman itu. Hingga pada suatu pagi, dia mengontak saya dan mengajak bertemu di salah satu coffe shop pusat perbelanjaan besar di kota ini. Saya tersentak begitu melihatnya. Dia tidak lagi seperti lelaki yang saya kenal beberapa bulan lalu.

Penampilannya yang dulu awut-awutan dan rada slebor, kini berubah lebih rapi dan metropolis. Jins dengan bagian lutut koyak yang selama ini kerap dipakainya, kini telah berganti dengan celana keeper yang klimis. Syal melingkar di lehernya ditimpali jas dan kemeja yang bersih.

Rambutnya tidak lagi gondrong, tapi dibuat agak mowhak di beberapa sisi. Saya kurang tahu istilahnya apa. Yang jelas, penampilan teman saya itu memang jauh lebih mengenakkan untuk dilihat ketimbang beberapa bulan lalu.

Perbincangan kami mengalir, mulai dari soal pekerjaan hingga soal perempuan. Nada bicaranya jauh berubah. Jika dulu dia tergolong serius melulu, kini dia sudah bisa melemparkan banyak canda di antara perbincangan yang serius. Dia sudah bisa melemparkan joke-joke segar untuk menghidupkan suasana. Dia tidak sekaku dan tidak segaring dulu lagi.

Akhirnya saya tak bisa memendam sebuncah tanya. “Bung, jujur saja, Anda begitu banyak berubah. Gaya Anda tidak begajulan lagi, public speaking Anda juga begitu menarik. Apakah Anda banyak belajar dari saya?” tanyaku setengah bergurau.

Dia tersenyum dan mengingatkan saya ceritanya beberapa bulan lalu. “Kau masih ingat ketika aku cerita soal penolakan seorang cewek yang kualami? Itu benar-benar memberi hikmah kepadaku. Dari situ aku banyak belajar, aku harus membentuk pribadi yang lebih bagus jika ingin mendapatkan cewek bagus,” jawabnya.

Teman saya ini lantas bercerita, pasca-penolakan itu, dia banyak intropeksi diri dan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa dia harus merubah dirinya untuk tampil lebih menarik. Dia mengikuti seminar kepribadian dan belajar banyak soal metode berkomunikasi.

“Jadi bung, jangan pernah berpikir untuk mengejar cewek. Tapi berpikirlah bagaimana membuat dirimu menarik. Jika kau menarik, cewek yang akan datang sendiri kepadamu,” jelasnya sembari tertawa.

Pengalaman buruk selalu menyisakan hikmah, apabila kita mau belajar dan tidak menyerah kepada kondisi. Petuah lama ini ternyata benar-benar diterapkan oleh si teman saya itu. Mungkin, teman saya itu akan terus menjadi sosok yang jauh dari mengenakkan untuk dilihat dan jauh dari mengasyikkan untuk diajak bicara, jika dulu dia tidak ditampik perempuan yang dia cintai setengah mampus.

Rasanya tidak berlebihan, jika cerita di atas bisa saya analogikan seperti yang dialami PSMS saat ini. Terlalu sederhana memang jika hubungan romansa antara dua pribadi diperbandingkan dengan persoalan mengurusi PSMS yang melibatkan begitu banyak kepala.

Namun, ada satu hal yang jelas-jelas sama, yaitu hikmah. Inilah yang dilupakan para pengurus, suporter dan seluruh elemen PSMS sekarang. Kita mungkin lupa bahwa ada hikmah besar yang harus diambil ketika PSMS terlempar ke Divisi Utama. Dan sayangnya, hikmah tersebut kita lupakan dan akhirnya kita kembali terjatuh ke lubang yang itu-itu lagi.

Persoalan dana seakan tak bosan diteriakkan pengurus. Padahal, kalau boleh jujur, jauh sebelumnya mereka harusnya sudah menyadari bahwa PSMS di musim ini tidak akan mendapat suntikan dana dari APBD. Kondisi itu seyogyanya disikapi dengan perekrutan pemain yang lebih ekonomis tapi tidak asal-asalan.

Tapi itu tidak terjadi. Di awal musim, PSMS malah lebih banyak merekrut pemain apkiran. Punya nama dan pernah membesarkan PSMS, tapi sayang sudah tidak di usia emasnya lagi dan tinggal hitungan bulan menutup karirnya di dunia sepakbola. Apa yang ada di benak pemain seperti ini? Apalagi kalau bukan uang.

Alhasil, begitu gaji macet dan begitu ada persoalan yang menyangkut keuangan di tim, para pemain yang memang sudah menggantungkan hidupnya dari sepakbola ini – ditambah lagi beban keluarganya yang harus dia tanggung – akan bermain ogah-ogahan. Terjadilah kondisi yang tidak kondusif di dalam tim. “Saya di sini mau cari nafkah, bukan saatnya lagi cerita fanatisme kalau istri dan anak tak makan,” kata seorang pemain.

Banyak pihak tak mengerti, kenapa pengurus tidak belajar dari pengalaman musim-musim lalu. Padahal jika mau, ada sebenarnya pembelajaran yang sangat baik yang bisa diambil pengurus, yaitu saat PSMS terjerumus ke Divisi I (Divisi Utama sekarang), lima musim lalu.

Saat itu, beberapa pilar PSMS eksodus. Namun, hikmah terbesar dari eksodusme itu adalah munculnya beberapa pemain muda yang selama ini tenggelam di bawah bayang-bayang. Siapa yang kenal Legimin Rahardjo, Mahyadi Panggabean, Agus Cima, Saktiawan Sinaga dan Susanto saat itu.

Justru karena PSMS terdegradasilah, mereka punya peluang untuk masuk ke tim inti dan akhirnya bisa membesarkan namanya. Yang paling fenomenal tentu masuknya Mahyadi Panggabean. Saya tidak percaya, jika seandainya PSMS tidak pernah terdegradasi ke Divisi I, anak muda asal Sibolga ini akan menjadi salah satu ikon sepakbola nasional.

Betapa tidak. Saya masih ingat benar ketika Parlin Siagian membawanya dari Sibolga dan menyuruhnya berlatih di PSMS dengan bayaran yang sangat minim. Sebagai putra Sibolga, saat itu bayaran tidak begitu penting bagi Mahyadi, tapi yang terbersit di benaknya adalah suatu kebanggaan mengenakan kostum PSMS dan bagaimana menunjukkan permainan terbaik agar kelak bisa menjadi pemain besar.

Dan terbukti, pemain-pemain antah berantah yang berjiwa muda dan memiliki spirit luar biasa ini hanya butuh waktu tiga tahun untuk membawa PSMS berlaga di laga puncak Divisi Utama (Liga Super sekarang), dan membawa PSMS runner-up 2007/2008.

Romantisme Mahyadi ini semula saya harapkan bakal muncul lagi saat PSMS terlempar ke Divisi Utama dua musim lalu. Namun sayang, hingga musim ini akan berakhir, tidak saja ambisi PSMS lolos ke Liga Super yang semakin tidak jelas, tapi juga harapan munculnya pemain asli Medan yang berpotensi tidak terlihat.

Ya, pengurus sekarang tidak punya keberanian untuk mencari pemain-pemain muda baru dan menerjunkannnya lebih sering dalam laga. Pengurus masih tetap berharap kepada pemain-pemain jadul (jaman dulu). Tragisnya, kesalahan itu baru mereka sadari setelah semuanya nyaris terlambat.

Karena itu, sudahlah, musim ini publik Medan harus tetap bersabar melihat prestasi yang masih jauh dari genggaman PSMS . Namun, sudah seharusnya PSMS mengambil hikmah dengan mencari bibit-bibit pemain muda ke berbagai pelosok. Atau paling tidak, hidupkan kembali Kompetisi Antar-klub PSMS.

Hanya dengan begitu, pengurus tidak lagi selalu berteriak soal kekurangan dana dan minimnya perhatian pemerintah. Tak kalah penting pula, manajemen harus membuang jauh-jauh tradisi pemain titipan.

Sekali lagi, ambillah hikmah dari suatu kegagalan dan belajarlah dari situ. Hentikan menyalahkan orang lain.

Atau, haruskah teman saya yang pernah patah hati itu kita usulkan saja jadi Ketua Umum PSMS agar dia bisa menularkan spirit perubahan kepada para pengurus?  (***)

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Global, Edisi 12 Februari 2010

~ oleh rahmadlbs pada 16 Juni 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: