Luna Maya dan Jurnalisme Kumpul Kebo

Saya tidak punya hubungan apapun dengan Luna Maya. Tapi, kasus yang sedang dialaminya sekarang, telah memantik saya untuk ikut-ikutan berceloteh tentang dirinya. Sebab, sebagai jurnalis, sedikit banyaknya kasus ini membawa-bawa nama baik profesi saya.


Bagi Anda yang belum tahu latar belakang munculnya kasus Luna Maya yang diadukan ke polisi oleh sekelompok pekerja infotainment, saya akan coba deskripsikan berdasarkan informasi yang saya dapat.

Kasus ini berawal saat Luna Maya ‘mengumpat’ di twitternya. Tanpa tedeng aling-aling, Luna menulis; “Infotaiment derajatnya lebih HINA dari pada PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!”

Wow, jika Anda hanya membaca sampai di situ, mungkin Anda akan berpendapat bahwa Luna Maya memang keterlaluan. Namun, sesungguhnya tidak. Sekali lagi tidak. Saya sangat bisa memaklumi kenapa seorang Luna Maya sampai harus mengeluarkan umpatan yang mungkin kedengaran sarkas di situs jejaring sosial itu.

Munculnya tulisan tersebut sebagai akibat yang sesungguhnya sangat masuk akal untuk membuat orang geram. Semua itu berawal saat Selasa (15/12) malam, Luna Maya menghadiri pemutaran film Sang Pemimpi bersama orangtua dan putri Ariel ‘Peter Pan’ bernama Alleia. Bukan rahasia umum lagi, Luna Maya dan Ariel telah menjalin hubungan kekasih.

Seusai acara, Luna Maya menggendong Allea yang tengah tertidur. Merasa itu bahan liputan yang menarik, para pekerja infotainment kemudian mengejar Luna Maya untuk diwawancarai. Luna Maya sempat meminta agar pekerja infotainment itu bersabar karena dia hendak memasukkan dulu Alleia ke dalam mobil agar bisa tidur dengan nyaman.

Namun, para pekerja infotainment ini lebih memperdulikan permintaan wawancaranya ketimbang tidur si gadis kecil itu. Mereka tetap ngotot mengejar hingga kemudian Luna Maya terdesak, dan kepalanya terbentur kamera salah satu pekerja infotainment.

Amarah Luna pun muncul. Dia menyerahkan Alleia kepada ibunya Ariel dan meladeni kemauan pekerja infotainment untuk diwawancarai. Dalam wawancara tersebut, Luna tidak sedikitpun mengeluarkan makian atau umpatan. Dia hanya menyampaikan kekesalannya atas perlakukan para pekerja infotainment tersebut.

Hanya, setiba di rumahnya, amarah Luna sepertinya tetap membuncah di benaknya. Hingga akhirnya dia buat tulisan di twitter miliknya seperti yang saya kutip di atas tadi.

Setelah mengikuti kronologis kasus di atas, masihkah Anda menyalahkan Luna Maya? Kalau saya jelas tidak. Sebab, jika pekerja infotainment tersebut memang betul-betul jurnalis, maka mereka tentu harus menghargai privasi seorang narasumber. Mereka harusnya memberi kesempatan kepada Luna Maya untuk menempatkan si anak kecil yang sedang tertidur itu dalam tempat yang nyaman sebelum wawancara. Kalau pekerja infotainment memahami ini, mungkin makian di twitter tersebut jelas tidak akan pernah ada.

Di sisi lain, menurut saya, adalah hak seorang Luna Maya untuk mengungkapkan kekesalannya di Twitter yang memang miliknya sendiri. Bukankah kita kerap melakukan hal yang sama, bahkan kepada seorang Presiden SBY sekalipun? Lantas, apakah pekerja infotaiment ini sudah lebih hebat dari seorang Presiden, sehingga tidak boleh dimaki di situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter? Apakah mereka sudah menjadi lembaga yang tidak boleh dikritik?

Ketika kasus Prita Mulyasari muncul ke permukaan, kita ramai-ramai mengutuk RS OMNI yang kita anggap tidak berprikemanusiaan karena mempidanakan Prita hanya karena ungkapan kekesalannya di email. Bukankah sebenarnya kasus Luna dengan Prita ini memiliki kesamaan? Lantas, kenapa kita harus bermuka dua menyikapinya?

***

Terlepas dari itu, terus terang saja, sebagai jurnalis saya turut tercoreng muka oleh ulah rekan-rekan pekerja infotainment yang selama ini kerap menyebut dirinya dengan jurnalis ini. Saya tidak sepakat jika pekerja infotainment disebut dengan jurnalis.

Alasannya, metode kerja yang dilakoni jurnalis dengan pekerja infotainment tersebut memang berbeda. Jurnalis bekerja dengan mencari dan menyiarkan berita demi kepentingan publik dan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat yang lebih luas. Karena itu, seorang jurnalis harus bekerja berdasarkan standar profesi yang tinggi dengan regulasi yang diatur dalam Kode Etik Jurnalis Indonesia (KEJI).

Sedangkan para pekerja infotainment hanya berkutat pada wilayah personal yang lebih bersifat privasi dari seorang artis. Domain yang digarap adalah hiburan yang melulu bicara soal kehidupan pribadi artis, kawin, cerai, selingkuh, meninggal, melahirkan, pindah agama, merayakan hari besar dan bahkan profil dari benda-benda pribadi yang dimiliki si artis.

Semakin jauh dari kerja-kerja jurnalistik, para pekerja infotaintment ini pun banyak yang tidak memikirkan dampak sosial dari suatu informasi yang disampaikan. Salah satu contohnya, pekerja infotainment tidak merasa bersalah ketika menayangkan liburan sepasang artis yang nyata-nyata kumpul kebo, seakan-akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa kumpul kebo bukanlah perbuatan yang terlarang.

Mereka juga dengan gayeng saja mempertontonkan bagaimana seorang aktor dan artis menjalani liburan berdua tanpa didampingi keluarga. Bagi remaja-remaja kita, ini jelas sangat berbahaya karena bukan tidak mungkin akan tertanam di benak mereka bahwa berduaan dengan lawan jenis di tempat yang jauh dari keluarga adalah hal yang wajar.

Dengan demikian, pekerja infotainment ini lebih memfokuskan dirinya terhadap pemberitaan pribadi seorang artis, tanpa perduli apakah pribadi yang dipertontonkan itu berakibat buruk terhadap pembentukan mental masyarakat. Padahal, sejatinya, berita soal artis tidaklah harus melulu dari pribadinya, tapi bisa juga dari struktur ekonomi-politik-hukum dari dunia hiburan secara global.

Selain itu, saya tidak sepakat dengan cara-cara kerja banyak pekerja infotainment dalam mendapatkan informasi. Ketua Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI) Anwar Fuadi dalam buku Potret Pers Indonesia (yang diterbitkan Dewan Pers-2005) menyebutkan, para pekerja infotainment ini sering memaksa, mencaci maki, menggedor pintu dan bahkan lebih parah menerobos masuk pekarangan rumah narasumbernya untuk melakukan wawancara.

Padahal, artis yang menjadi domain liputan para pekerja infotaintmen ini bukanlah seorang pejabat negara. Jika seorang jurnalis berupaya keras mendapatkan wawancara dengan seorang pejabat negara, itu adalah hal yang wajar karena pejabat negara telah disumpah dan digaji oleh negara. Jadi, adalah hal yang wajar pula jika publik harus tahu apa yang mereka kerjakan terkait pelaksanaan tugasnya. Sekali lagi, itu pun hanya menyangkut pelaksanaan tugas yang dibebankan negara kepadanya, bukan soal pribadi dan keluarganya.

Apakah artis bisa disamakan dengan pejabat negara? Jelas tidak. Artis, pada dasarnya, adalah profesi. Tak beda dengan profesi jurnalis, pengacara, konsultan, akuntan, dan sebagainya. Lantas, sepenting apa bagi masyarakat untuk mengetahui kehidupannya sehingga dia harus dipaksa berbicara?

Karena itu, saya sangat menyayangkan dan menyesalkan sikap PWI Jaya dan pekerja infotainment yang melaporkan Luna Maya ke polisi. Tindakan itu layak ditolak, karena tidak boleh ada institusi atau pun individu yang mencoba menjerat komen-komen pengguna situs jejaringan sosial ke jalur hukum. Itu adalah bentuk kriminalisasi berekspresi yang melanggar Hak Azasi Manusia (HAM).

Dan lebih mengkhawatirkan lagi, tindakan pekerja infotainment lewat PWI Jaya tersebut akan menjadi preseden buruk bagi pers Indonesia yang selama ini mengagungkan hak jawab bagi narasumber yang merasa keberatan atas pemberitaan media. Adalah hal yang kontradiktif, ketika narasumber keberatan dengan pemberitaan, kita meminta mereka menempuh jalur hak jawab, sementara ketika narasumber salah, kita dengan seenaknya langsung mempidanakannya.

Seharusnya, jika memang pekerja infotainment itu benar-benar sebagai jurnalis, mereka mengikuti aturan hukum dalam UU Pers untuk menyelesaikan persoalan ini. Mereka harusnya meminta klarifikasi ke Luna Maya terhadap pernyataannya tersebut. Jika tidak bisa juga, lakukan mediasi ke Dewan Pers.

Saya khawatir, jika pekerja infotainment ini disejajarkan dengan jurnalis, maka tindakan mereka ini akan merusak sistem jurnalistik yang belakangan ini pelan-pelan mulai terbangun di negeri ini. Besok, kejadian ini akan menjadi alat justifikasi bagi narasumber untuk tak menggunakan hak jawab atas pemberitaan yang merugikannya, melainkan langsung mempidanakan si jurnalis.

Sebelum itu terjadi, saya hanya bisa berharap agar para pekerja infotainment tak lagi menyebut dirinya dengan jurnalis. Jika tidak, mungkin sudah saatnya para jurnalis yang sebenarnya ramai-ramai melaporkan balik para pekerja infotainment ini, karena telah mempermalukan profesi jurnalis!

Jurnalis mengedepankan kepentingan publik, bukan kepentingan artis yang mau kawin cerai, apalagi artis yang kumpul kebo. Bagaimana PWI dan AJI, apakah kalian berani mengatakan bahwa pekerja infotainment bukan jurnalis?

Medan, 18 Desember 2009

Rahmad Nur Lubis…
Jurnalis

~ oleh rahmadlbs pada 26 Desember 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: