Liverpool, What Happen Baby?

10520_1226004643467_1029561114_737735_5057762_nJika ada orang yang bakal menjadi menjadi bulan-bulanan kritik tajam dalam pekan-pekan ini, saya pastikan dia bukanlah SBY atau Taufik Kiemas. Terlepas dari pidato SBY dalam pelantikannya sebagai Presiden yang menuai banyak kritik, termasuk metode pemilihan menteri yang dituding banyak pihak terkesan asal jadi dan ‘sandiwara’, tapi saya percaya asa 200 juta rakyat Indonesia masih begitu besar terhadapnya.


Begitu pula Taufiek Kiemas. Pidatonya yang berselemak peak dalam pelantikan Presiden SBY kemarin, sepertinya hanya akan menjadi konsumsi media yang sekilas lalu saja. Maklum, selain bangsa kita yang memang dari sononya dianugerahkan sifat pelupa, peran Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR sejatinya tidaklah begitu signifikan. Kendati berposisi sebagai kepala lembaga tertinggi negara, namun MPR praktis hanya bekerja sekali dalam lima tahun, kecuali ada kejadian luar biasa yang memaksa mereka menggelar sidang istimewa.

Lantas, siapa nama yang bakal menuai kritikan tajam itu? Sebuah nama yang keberadaannya nun-jauh di luar bumi pertiwi ini. Dia adalah seorang warga negara Spanyol yang mengais hidup dengan menjadi pelatih di Liverpool, salah satu klub besar sarat sejarah di dataran Inggris. Namanya adalah Rafael Benitez.

Dua kekalahan beruntun yang dialami Liverpool di Liga Champions musim ini, sepertinya sudah cukup menjadi alasan kuat bagi publik Anfield untuk menyoal kredibilitasnya. Ketika kekalahan pertama 0-2 melawan Fiorentina, publik mungkin masih bisa memaafkannya, karena itu terjadi di Artemio Franchi, kandang Fiorentina.

Menjadi aib besar bagi publik Anfield, ketika tadi malam, Liverpool harus menoreh luka di depan publiknya sendiri dengan menyerah kalah 1-2 dari Lyon, klub asal Prancis yang selama ini juga lebih dikenal sebagai penguasa liga domestik semata. Tragis, keunggulan 1-0 lewat gol Bennayoun di babak pertama, menjadi tidak berarti ketika dalam 20 menit menjelang pertandingan berakhir, Lyon membalas dengan dua gol lewat Gonalons dan Delgado.

Kekalahan yang tidak saja memalukan, tapi juga semakin memperkecil langkah Liverpool untuk berkiprah lebih jauh di Liga Champions musim ini. Kendati Steven Gerrard dkk masih menyisakan tiga pertandingan sisa, namun harus diakui mencuri poin dari kandang Lyon dan menjinakkan Firorentina di Anfield tentu bukan pekerjaan mudah. Apalagi jika menilik kepada trend menukik tajam yang terus ditunjukkan anak buah Benitez.

Liverpool kini benar-benar dalam masa kritis. Di kancah liga Inggris pun, Liverpool masih terdampar di posisi delapan, setelah hanya mampu mengumpulkan 15 poin dari sembilan pertandingan. Mereka berselisih tujuh angka dari Manchester United di puncak klasemen. Suatu posisi yang tentunya tak layak dihuni oleh sebuah tim dengan nama besar dan dikenal dengan suporternya yang militan.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan tim ini? Empat kekalahan beruntun yang dialaminya di Liga Inggris dan Liga Champions jelas menunjukkan bahwa sesungguhnya tim ini sedang menderita penyakit akut yang secepatnya harus diamputasi.

Penyakit apa? Keterbatasan dana pembelian pemain? Jelas tidak tepat jika ada yang menuding hal tersebut menjadi penyebab. Sebab, ditilik dari total anggaran yang dikeluarkan George Gillet dan Tom Hicks, dua pemodal klub ini, sejatinya sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan pemain berkaliber. Bahkan, dana yang mereka gelontorkan tercatat sebagai dana belanja terbesar yang pernah dikeluarkan Liverpool sepanjang sejarah.

Betapa tidak, dalam kurun waktu 18 bulan, dua konglomerat asal Amerika Serikat itu telah menggelontorkan dana sebesar 128 juta pounds atau setara dengan Rp2,1 triliun! Itu belum lagi dari dana segar yang didapatkan dari hasil penjualan Xabi Alonso ke Real Madrid dengan harga 30 juta pounds. “Kami mengeluarkan dana belanja lebih banyak ketimbang para pesaing demi mempertahankan sejarah klub ini,” ujar Gillet sebagaimana dikutip situs biangbola.com.

Tak ayal, penjelasan Gillet ini akan membuat posisi Rafael Benitez sebagai manajer akan semakin tersudut. Apalagi, Gillet sudah mulai mengarahkan telunjuknya ke Benitez pasca-kekalahan atas Chelsea pekan lalu. “Ini bukan lagi soal Gillet dan Hicks, namun Benitez,” ketusnya.

Saat tulisan ini saya buat, belum ada konfirmasi resmi dari pemilik modal Liverpool itu menyikapi hasil buruk timnya dari Lyon. Namun saya yakin, nama Benitez kembali bakal disebut-sebut sebagai biang kerok. Dan bukan tidak mungkin, kinerja lumayan bagus Benitez dalam kurun 4 musim belakangan, akan sirna tak berbekas dengan ‘hadiah’ pemecatan.

Layak ditunggu, apakah Benitez akan menjadi pengangguran paling tidak hingga paruh musim nanti pasca-kekalahan atas Lyon ini. Yang bisa dipastikan, kalangan pers Inggris yang terkenal ‘kejam’ terhadap kinerja seorang pelatih, akan berteriak keras menuding jidat Benitez. Sekarang, tergantung kekuatan telinga dari duet Gillet dan Hicks untuk menyikapi sorotan tajam media itu, plus kuat tidaknya desakan dari publik Anfield sendiri.

Namun, menurut saya, pemecatan terhadap Benitez tidak akan menyelesaikan persoalan di tubuh tim ini seutuhnya. Untuk jangka pendek atau setidaknya untuk memulihkan kepercayaan publik, kehadiran pelatih baru memang bisa menjadi pilihan. Hanya, untuk benar-benar mengembalikan nama besar Liverpool, itu saja jelas tidak cukup. The Reds butuh suatu kebijakan revolusioner.

Apa itu? Liverpool harus punya seorang Peter Kenyon. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan agar manajemen Liverpool mau mengeluarkan dana lebih besar untuk menarik seorang Kenyon dari Chelsea. Tapi, Liverpool butuh seorang pemandu talenta sekaliber Kenyon.

Adalah suatu fakta, pembelian pemain Liverpool musim ini tidak memberi ekses positif. Hal itu tentu tidak lepas dari lemahnya kemampuan seorang pemandu talenta dalam memberikan masukan kepada manajer. Musim ini, Liverpool memang telah mendatangkan bek timnas Yunani Sotiros Kyrgiakos dari AEK Athens dan menarik kembali Glen Johnson dari masa pinjamannya ke Portsmouth.

Pun begitu, kehadiran pemain tersebut jelas tidak bisa menggantikan Sami Hyypia, Alvaro Arbeloa, Xabi Alonso dan Albert Rieara yang eksodus awal musim ini. Di sinilah letak ketelodaran Liverpool, eksodusnya empat pemain yang tiga musim belakangan menjadi pemain jangkar ternyata tidak diimbangi dengan masuknya pemain yang memiliki kualitas setara.

Alhasil, ketergantungan tim terhadap sederet nama yang tersisa menjadi begitu besar. Lihat saja bagaimana Liverpool bermain tanpa Steven Gerrard dan Ferando Torres seperti yang terjadi melawan Lyon tadi malam. Nyaris tanpa pola dan kehilangan roh permainan. Padahal, bagi suatu tim yang mengarungi jadwal pertandingan yang sangat ketat, kualitas antara pemain inti dan cadangan tidak boleh begitu jauh.

Saya tidak tahu pasti, apakah Benitez mengalami overconfidence pada awal musim lalu. Mungkin saja dia berpikir pemain-pemain muda yang telah ada di Liverpool sudah cukup untuk menjadi pelapis. Dia sepertinya hakkul yakin bahwa Lucas, Ryan Babel dan N’gog sudah menemukan performa terbaiknya musim ini. Suatu keyakinan yang sejauh ini ternyata jauh panggang dari api, setelah menilik performa mereka yang masih gagok diberi tanggung jawab besar di lapangan.

Dengan pola pikir seperti itulah sebenarnya dibutuhkan peran besar seorang pemandu talenta. Dari bisikannya, seorang manajer bisa mendapat bahan masukan ketika membeli atau menjual pemain. Jika Benitez diberi cek kosong untuk melakukan pembelian dan penjualan pemain, tanpa masukan dari pihak lain, bisa saja dia cenderung subjektif seperti yang selama ini dituding banyak pihak ketika dia terinspirasi untuk membeli banyak pemain asal Spanyol.

Mulai dari sekarang, Liverpool harus kembali berbenah. Kritik tajam dari dua pemilik klub terhadap Benitez harusnya sudah dihentikan. Mereka harus duduk bersama untuk mengembalikan mental pemain dan pelan-pelan menata elemen klub. Jika memang reposisi pelatih adalah suatu pilihan, apa boleh buat, publik Anfield harus memahami itu sebagai upaya mengembalikan mental pemain dan kepercayaan publik.

Tapi tidak cukup itu saja. Sekali lagi, elemen klub harus benar-benar kembali ditata, termasuk dengan mendatangkan seorang pemandu bakat sekaliber Peter Kenyon. Tanpa itu, Liverpool akan terus berada di bawah bayang-bayang Manchester United dan Chelsea, plus cap sebagai klub kuda hitam yang angin-anginan.

Liverpool, Anda selayaknya berada di kasta tertinggi, bukan terseok-seok di papan tengah, apalagi hanya sebagai kuda hitam!

Salam saya,
Dedengkot Liverpudlian

Rahmad Nur Lubis

~ oleh rahmadlbs pada 22 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: