Padang, antara Pengelabuan dan Kemaksiatan

Masih terasa lekat di kepalaku, ketika 14 tahun lalu dengan wajah termangu-mangu dan penuh kebingungan, aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota ini. Terminal Andalas, Padang, begitu tulisan besar yang kubaca di depan halaman luas tempat pemberhentian bus ALS yang membawaku dari kota kelahiranku; Padangsidimpuan.

Perjalanan hampir 24 jam dari kota Padangsidimpuan sudah cukup meremukkan segala persediaanku. Sebenarnya, tidak perlu melalui perjalanan selama itu. Normalnya, perjalanan darat dari Padangsidimpuan menuju Padang bisa ditempuh dengan 10 jam saja. Sebab, jarak dua kota berbeda propinsi ini ‘hanya’ sekitar 400 km, lebih dekat ketimbang Padangsidimpuan-Medan yang jaraknya mencapai sekitar 500 km.

Namun, longsor yang menutupi badan jalan di kawasan perbatasan Sumut dengan Sumbar membuat bus yang aku tumpangi terhambat selama hampir 14 jam. Di tengah hutan belantara dan di antara ratusan kendaraan yang terjebak longsor, aku bersama dua teman menghabiskan waktu di dalam bus dengan menahan lapar dan haus.

Setibanya di Padang sekira pukul 18.00 WIB, dengan tubuh lemas, kami terduduk di salah satu bangku panjang terminal Andalas. Tak lama kemudian, dengan taksi gelap kami bergerak menuju Lubuk Begalung, rumah kerabat yang akan menjadi tempat tujuan kami.

***

Mengikuti bimbingan tes, itulah tujuanku mendatangi kota ini. Sebenarnya sangat berat bagiku ketika ayah mengetukkan palunya untuk memberangkatkan aku ke kota ini. Aku tidak bisa membayangkan akan menjalani hari-hari di sana tanpa teman yang aku kenal. Dengan bahasa yang berbeda pula.

Maklum, sebagian besar teman sekolahku (SMA Negeri 2 Padangsidimpuan) memilih untuk mengikuti bimbingan tes dan melanjutkan study ke Medan. “Pokoknya kau di Padang saja. Kalau mau belajar itu di sana, bukan di Medan. Di Medan nanti banyakan main-main kau sama kawan-kawanmu,” begitu titah sang ayah yang di keluarga kami tak satu pun bisa membantahnya.

Beruntung, dua teman sekolah bisa kupengaruhi untuk mengikutiku ke Padang. Aku memastikan tempat tinggal mereka aman; bersama kerabatku di suatu rumah yang bisa kami tempati secara gratis.

Namun, kebersamaanku dengan mereka tidak berlangsung lama. Tiga hari kemudian setelah kami berjalan-jalan mengitari pusat kota Padang, mereka sepertinya berubah pikiran. Mereka akhirnya memilih pulang ke Sidimpuan. Seorang mengaku disuruh pulang untuk mengikuti tes kepolisian di Medan. Sedangkan seorang lagi, katanya, disuruh keluarganya melanjutkan pendidikan ke Jakarta saja.

Entahlah, apakah keputusan mereka itu muncul karena mereka juga merasakan hal yang sama denganku; merasa tinggal di Padang akan terasa garing. Maklumlah, kondisi kota Padang jauh dari hingar bingar dan keasyikan bermain dari mall ke mall seperti yang diceritakan oleh teman-temanku yang memilih melanjutkan study ke Medan.

Saat itu, Padang memang belum memiliki satupun pusat perbelanjaan besar berbentuk mall. Kalaupun ada, hanya Damar Plaza yang sebenarnya lebih layak disebut minimarket ketimbang Plaza. Bayangkan saja, Plaza ini hanya terdiri dari tiga tingkat dan sama sekali tidak memiliki lift dan tangga berjalan!!

Jadi, kalaupun hendak menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan, kota Padang tidak mampu menawarkan tempat-tempat yang glamour. Palingan hanya ada bioskop di lantai dua Pasar Timur dan sekumpulan tukang koyok di terminal Andalas. Hmm.. tentunya hiburan yang sama tidak sulit untuk didapatkan di Padangsidimpuan. Kalaupun ada yang sedikit istimewa dibanding Padangsidimpuan, yah paling keberadaan pantai yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Jalan Damar. Sementara Padangsidimpuan tidak memiliki pantai.

***

Malam sebelum mereka meninggalkan Padang, kami berencana berpesta kecil-kecilan. Jamaknya anakmuda kampung-kampung, pesta kurang terasa afdol tanpa kehadiran minuman keras. Lagi pula, kendati bukan peminum berat, tapi kedua teman saya ini memang tergolong bandel, setidaknya untuk ukuran ‘anakmuda kampung’ kala itu. Masih terkontaminasi dengan pikiran bahwa merayakan sesuatu harus ada minuman keras.

Dengan berjalan kaki menyusuri pasar di sekitaran terminal Andalas di Jalan Pemuda, Padang, sore itu kami mencari minuman keras bermerk Kamput atau Topi Miring, minuman keras murahan yang rasanya tak jauh beda dengan spritus. Di Sidimpuan, minuman sekelas itu cukup untuk menghangatkan suasana pesta. Yang penting mabuk… hahaha…

Namun, dua jam kami berkeliling pasar Andalas, tak satupun kami temukan penjual minuman keras, bahkan minuman sekelas bir sekalipun. “Di sini tak boleh jual minuman keras,” jawab seorang pedagang grosir yang kami tanyai di kawasan Pasar Timur.

Apa boleh buat, suasana malam perpisahan akhirnya hanya ditingkahi dengan minuman sekelas coca-cola sembari duduk-duduk dan berbincang di depan rumah. “Betul-betul religius kali yah Padang ini. Yang jual minuman keras pun tak ada. Di Sidimpuan aja sudah ada yang jual di dalam gang-gang,” ucap seorang teman setengah ngedumel.

***

Sehari setelah mereka pergi, aku mulai menjalani hari-hari dari sebuah rumah di kawasan Lubuk Begalung. Di rumah itu aku tinggal bersama keluarga anak beranak; seorang perempuan yang aku panggil nenek dan anak lelakinya yang aku panggil udak (panggilan kekerabatan Batak yang berarti paman). Dia adalah sepupu ayahku yang saat itu masih menjalani studi semester akhir di Fakultas Teknik jurusan Teknik Sipil, Universitas Andalas.

Keesokan harinya, dengan ditemani udak, aku mendaftarkan diri untuk mengikuti bimbingan tes. Dengan pertimbangan siswanya yang tidak terlalu banyak dan biaya bimbingan yang relatif murah, aku memilih bimbingan tes NRC College.

“SMA-nya dari mana?” tanya petugas penerima pendaftaran.

Belum sempat aku menjawab, udakku langsung menyela. “SMA 5 Medan.”

Aku terperanjat. Tapi, di bawah meja, udakku menginjak kakiku memberi kode agar aku diam saja.

“Lho, kok bimbingannya ke mari? Di Medan kan banyak tempat bimbingan yang bagus,” tanya si petugas lagi.

“Dia di Medan bandel. Makanya dikirim ke mari tinggal sama neneknya,” jawab udakku.

Lagi-lagi sebenarnya aku mau protes. Tapi sekelabat pula, udakku langsung mengantukkan lututnya ke pahaku. Untung si petugas itu tak melihat drama kami dan hanya manggut-manggut seraya menyuruhku mengisi formulir.

Sepulang dari lokasi bimbingan tes, sembari berjalan di trotoar Jalan Damar menuju Jalan Pemuda, aku memberanikan diri bertanya, “Kok Udak bilang tadi aku tamatan SMA 5 Medan? Sekolahnya pun tak tau aku dimana itu.”

“Orang Padang ini aneh. Kalau mereka melihat kau berasal dari kota yang statusnya lebih rendah, layas (sepele) nanti orang itu nengok kau. Tapi kalau kau dari Medan, segan orang itu nengok kau. Lihatlah nanti,” jawabnya.

“Terus kok udak bilang pulak aku bandel?”

“Iya, biar takut orang itu gangguin kau. Tak bisa dimain-mainin ini, tukang tikam dari Medan, gitu pikir orang itu,” ujarnya, kali ini sembari tertawa.

***

Entahlah, apakah ada pengaruh antara kebohongan putih itu dengan sikap teman-temanku di lokasi bimbingan. Yang jelas, hanya butuh seminggu bagiku untuk menjadi ‘bintang’ di bimbingan tes tersebut. Hanya, baik teman-teman maupun tentor di sana, tak lagi memanggilku dengan nama asliku. Semuanya memanggilku dengan sebutan Ucok.

“Cok, masih ada hubungan saudara nggak ama si Tarigan?” tanya seorang teman bimbingan saat kami duduk-duduk di trotoar depan gedung bimbingan.

“Tarigan mana?”

“Itu, yang megang Terminal Andalas. Dia premannya di situ. Orang Medan juga.”

Argghhh… Hufff…..

“Cok, kau ajarinlah kami main gitar. Orang Medan kan jago-jago main gitar,” ajak seorang teman bimbingan lagi.

Keesokan sore aku bersama lima teman bimbingan lainnya, kemudian pergi ke salah satu studio band di kawasan Purus. Katanya, itu merupakan satu-satunya studio band yang ada di kota Padang saat itu.

Jujur, ada perasaan khawatir karena kemampuan gitarku memang sangat pas-pasan. Kalaupun aku kerap keluar masuk studio band di Padangsidimpuan ketika SMA, itu hanya sekelas band anak muda kampung-kampung yang genjrang-genjreng. Singkatnya, asal bising dan mirip dengan lagu aslinya.

Tapi, dengan model ‘pede’, aku pegang saja gitar itu. Dan aku mainkan intro musik Smell like Ten Spirit-nya Nirvana. Lagu itu sudah merupakan lagu wajibnya band-band anak SMU di Padangsidimpuan. Tapi ternyata itu pun sudah cukup hebat di mata mereka.

Jadilah kebintanganku di lokasi bimbingan semakin bersinar. Ditambah lagi, dalam jejeren siswa yang lulus tryout, namaku selalu masuk dalam daftar 10 besar. Hmmm… aku mulai menikmati pertemanan dengan beberapa teman-teman baru yang cukup bersahabat, menarik dan utamanya menempatkan aku dalam posisi hebat… hahahaha….

Saat itu pulalah aku ingat untuk pertamakalinya pusat perbelanjaan Matahari dibuka di Padang. Seusai bimbingan, teman-temanku mengajak aku ke sana. Suasananya sangat ramai. Di depan tangga berjalan, orang-orang pada antri dan saling berpegangan karena takut terjatuh. Bahkan, di mulut tangga berjalan itu berjaga dua orang satpam untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pengunjung yang terjatuh.

“Wah, kalau di Medan, sudah nggak gini lagilah yah, Cok. Di sana sudah biasa orang naik tangga berjalan,” ujar seorang teman.

Aku hanya manggut-manggut sembari tersenyum tipis seolah-olah aku sudah terbiasa keluar masuk pusat perbelanjaan. Padahal, aku juga tergolong jarang masuk ke mall atau plaza, karena di Padangsidimpuan saat itu juga tidak ada mall atau plaza. Jadi, kalaupun aku melalui tangga berjalan, hanya ketika ayah membawaku berlibur ke Medan, dan itu paling banyak dua kali dalam setahun.

****

Terlepas dari keramahtamahan teman-teman dan tentor di tempat bimbinganku, tapi ada satu hal yang tak terlalu aku sukai dari mereka. Setelah menanyakan nama dan asal, mereka kerap menanyakan agama yang aku anut. Pertanyaan yang risih kudengar karena tidak terbiasa ditanyakan di lingkunganku.

Tapi belakangan aku maklum, karena mereka kadung menggeneralisir bahwa orang Medan atau suku Batak adalah Kristen. Maka itu, ketika aku mengatakan aku muslim, awalnya banyak di antara mereka yang tidak percaya. Bahkan, saat aku sholat di musholla bimbingan, mereka seperti memperhatikan ritual sholatku apakah sesuai atau tidak.

Selain itu, walau ini di satu sisi cukup menguntungkanku, mereka juga kerap menstigma bahwa orang Medan atau suku Batak bermental bandit. Tidak takut mati. Berani berkelahi, dan satu lagi; doyan mengisap ganja!

Yang terakhir ini, ketika aku pulang ke Padangsidimpuan untuk mengambil ijazah, beberapa teman bahkan ada yang menitipkan agar aku membawa ganja. “Di sini susah dapat. Rp15 ribu satu amplop, itu pun hanya dapat dari anak buah kapal. Bawakanlah nanti pulang dari Medan. Di sana kan murah,” kata mereka.

“Iyalah nanti kubawakan,” jawabku asal, bercampur biar dicap ‘hebat’.. hahaha….

Ketika aku kembali ke Padang, mereka menagih ganja itu. Jelas saja tidak ada, karena memang aku tidak berniat membawanya. Selain karena tidak terlalu familiar dengan barang haram tersebut (walau aku tahu saat itu harganya hanya Rp5 ribu per amplop di Padangsidimpuan), aku juga tidak berani mengambil resiko untuk membawanya di bus dengan perjalanan 10 jam.

Mereka maklum saja ketika aku bilang stok ganja lagi susah didapat karena polisi lagi getol-getolnya razia. “Bandar-bandar ganja yang aku kenal pun tiarap dulu untuk sementara,”ujarku. Padahal tak satupun bandar ganja yang aku kenal.

****

Tibalah saat pendaftaran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Ayah sudah terus mewanti-wanti agaraku menjatuhkan pilihan ke Universitas Andalas saja.Pilihan yang tentunya mendapat dukungan dari udakku. “Kalau mau kuliah itu di sini. Biar aku bisa mengawasi kau,” cetus udakku menjelang kami tidur.

Tapi, sontak ada perasaan khawatir di situ. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan akan menjalani hari-hari kuliah dengan tinggal satu kamar bersama udakku ini. Ketika bimbingan saja, aku sudah merasa teraniaya oleh perintah-perintah dan pengawasannya.

Bayangkan saja, jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam, ketika dia baru pulang entah dari mana, dia tidak segan-segan membangunkanku. “Gimana kau bisa lulus UMPTN. Tidur aja kerjamu. Belajarlah. Kerjakan dululah soal Matematika ini, biar kutengok kekmana hasil bimbinganmu itu,” tukasnya.

Alhasil, dengan mata terkantuk-kantuk, aku mengerjakan 10 soal matematika, pelajaran yang paling kubenci. Hasilnya pun bisa ditebak; salah semua. Dan efeknya cukup mengerikan. “Duduk kau sini, biar kuterangkan. Entah kekmana pun kau kutengok yang bimbingan itu,” ujarnya dengan nada tinggi.

Aku tidak bisa membantah dan hanya bisa pura-pura mengangguk mendengarkan dia menjelaskan rumus-rumus yang sejujurnya tak masuk ke otakku. Kondisi itu nyaris terjadi tiap malam. Cilakanya, dia hanya menguasai mata pelajaran Matematika pula.

Aku semakin tak nyaman dengan sikapnya ketika dia juga mulai rajin mematai-mataiku di tempat bimbingan. Suatu hari, dia bisa tiba-tiba datang ke tempat bimbinganku. Ketika kutanya ada apa, dia hanya bilang biar ada temannya pulang. Satu sisi memang masuk akal, karena kampusnya di kawasan Air Tawar tidak terlalu jauh dari lokasi bimbinganku. Namun, aku merasa itu tak lebih dari pelepas naluri intelijennya untuk melihat apakah aku pergi bimbingan atau tidak.

“Alamak, mampuslah aku nanti kuliah kalau tinggal dengan intelijen seperti ini,”gitu pikirku.

Cerita menarik yang merubah jalan hidupku pun terjadi dari sini. Ketika pengisian lembar formulir UMPTN di depannya, aku mengisinya dengan pilihan pertama Fakultas Hukum Universitas Andalas, dan pilihan kedua Fakultas Sastra jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. “Nah, udah pas-lah itu. Besok kembalikanlah, aku tidak bisa ikut karena aku ada kuliah di kampus,” katanya.

Eureka, teriakku dalam hati. Keesokan harinya, persis di depan meja pengembalian formulir, aku menghapus kembali pilihan pertamaku. Dengan hati-hati, lingkaran-lingkaran hitam itu aku hapus dan mengisi pilihan baru; Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU).

Kelihatan bekas hapusan, tapi aku tidak perduli. Yang penting aku tidak mau kuliah di Padang ini karena aku tidak sanggup tinggal dengan seorang intelijen. Formulir itupun aku kembalikan dengan perasaan lega dan tak perduli lagi apakah OMR bisa membacanya atau tidak.

Sehabis UMPTN, akupun dipaksanya untuk mengikuti ujian masuk D3 di Universitas Andalas. Gawatnya, orangtuaku pun manggut-manggut saja kalau udakku ini sudah bicara. Padahal, saat itu sebenarnya aku sudah kepingin sekali pulang ke Padangsidimpuan sembari menunggu pengumuman hasil tes UMPTN.

****

Dua minggu berselang, pagi-pagi sekali ketika aku sudah di Padangsidimpuan. Udakku menelepon dari Padang. “Dia tidak lulus. Sudah kulihat pengumumannya di Unand. Tidak ada namanya. Harapannya tinggal D3 itu ajalah. Cammanalah pulak, belajar pun malas kali,” katanya dari ujung telepon kepada ayahku.

Di satu sisi aku merasa keder juga. Ayah pun diam saja. Tapi, dalam benakku masih tersimpan harapan bahwa aku lulus di pilihan pertama. Tak sabar aku menunggu koran tiba di Padangsidimpuan. Siangnya, begitu koran tiba dari Medan, aku segera membelinya dan berdebar melihat pengumuman UMPTN yang ada di sana. Ternyata ada namaku lulus di Fakultas Hukum USU.

Ayahku sempat terperanjat. Dia sebelumnya mengira aku hanya mengambil pilihan ke Unand. Hahaha.. dua orang yang sangat berperan dalam sejarah hidupku, berhasil aku kelabui.

Semenjak itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Padang. Hari-hari kuliah hingga masa kerja nyaris aku habiskan di Medan. Aku baru bertemu kembali dengan udakku setelah aku bekerja di Sumut Pos dan dia pun telah bekerja sebagai distributor Semen Padang di Pekanbaru.

Dia mendatangiku ke kantor Sumut Pos ketika dia ada urusan ke Medan. “Kalau kuingatlah kau dulu, lucu juga kurasa. Berhasil kau nokoh-nokohi aku,” katanya sembari tertawa kecut ketika kami kembali bertemu.

****

Empat belas tahun kemudian, tepatnya Juli 2009, aku kembali menapaktilasi kota Padang. Kondisinya sangat jauh berubah. Beberapa ruas jalan sudah terdiri dari dua jalur. Empat belas tahun lalu, setahuku hanya ada satu ruas jalan yang terdiri dari dua jalur di kota ini, yaitu di Jalan Pemuda.

Namun kini, sejak pintu masuk di kawasan Lubuk Alung, jalan sudah terdiri dari dua jalur. Cukup panjang, bahkan lebih panjang dari jalan dua jalur pintu masuk kota Medan melalui Jalan Sisingamangaraja. Di sekitaran pintu masuk juga sudah banyak berdiri gedung-gedung perkantoran dan hotel, plus jalan layang menuju Bandara Minangkabau. Padahal, seingatku dulu di situ hanya ada kebun-kebun masyarakat dan rawa-rawa.

Tempat-tempat perbelanjaan besar juga berdiri megah di kota ini. Terminal Andalas telah lenyap digantikan oleh Plaza Andalas. Begitu pula dengan kawasan pinggir jembatan menuju Tabing yang dulunya rawa-rawa, kini telah berdiri megah di sana bangunan mall dan hotel internasional yang menjulang tinggi.

Yang cukup mencengangkan adalah kawasan Khatib Sulaiman. Aku ingat betul dulu aku sering ke sana untuk menjumpai beberapa teman asal Padangsidimpuan yang kuliah di Akademi Keuangan, Bisnis dan Perbankan (AKBP) yang kampusnya berada di kawasan itu. Seingatku pula, bangunan di kawasan tersebut hanya kampus AKBP ini. Tapi kini, kampus AKBP itu tidak terlihat lagi dan telah berganti dengan gedung-gedung perkantoran yang berjejer di sepanjang jalan.

Tak ketinggalan dengan jalan di sekitaran Pantai Padang. Jalan ini semula hanya jalan satu jalur dengan lebar tak lebih dari 5 meter. Namun, kini telah disulap dengan jalan besar dua jalur yang lebarnya mencapai 10 meter. Kawasan inipun telah berubah menjadi lokasi bagi anakmuda Padang menghabiskan malam sembari nge-track dan hmmm.. berpacaran…

Tidak itu saja, warung-warung malam tempat nongkrong pun telah berjejer di sekitaran pantai. Dentuman musik yang distel kencang terdengar dari dalaam warung, nyaris mengalahkan suara deburan ombak pantai Padang yang memang relaitf tak terlalu besar.

Bukan saja perubahan fisik, tapi perubahan mental dan spiritual kota Padang juga pelan-pelan mulai bergeser. Minuman keras bukan lagi barang yang sulit untuk didapatkan di kota ini. “Sekarang mau minuman keras merk apapun ada di sini,” ujar seorang teman ketika aku menceritakan pengalamanku 14 tahun yang lalu.

Begitu pula dengan prostitusi. Kawasan pantai Padang yang dulu jauh dari prilaku-prilaku maksiat, pelan-pelan mulai terkontaminasi. Warung-warung yang berjejer di sana, ternyata diam-diam menjajakan wanita untuk ‘selimut malam’. Bahkan, lokasi eksekusinya bisa dilakukan di situ.

“Apa kemaksiatan yang sekarang tidak ada di Padang ini. Mau mabuk, gampang, mau melonte juga gampang. Ga usah jauh-jauh, ke Pantai Padang aja sudah bisa dapat dua-duanya sekaligus,” kata teman yang 4 tahun belakangan menjadi jurnalis di sana.

Naluri kewartawananku pun muncul. Di sela-sela proyek liputan, aku menyempatkan berjalan-jalan ke kawasan pantai yang disebut teman itu tadi. Benar saja. Dua malam berturut-turut aku menelusurinya dan aku menemukan fakta bahwa Padang telah terkontaminasi kemaksiatan.

Sebenarnya, kata teman itu, pemerintah kota Padang sudah berulangkali menertibkan kawasan tersebut. Namun, tak berselang lama muncul kembali. Selalu dan selalu begitu. Pemerintah kota dan penyedia layanan selangkangan seakan bermain petak umpet.

Walau begitu, kondisi tersebut tentunya tak lepas dari hukum ekonomi, bahwa penawaran berbanding lurus dengan permintaan. Artinya, munculnya prostitusi di kawasan pantai tersebut tak lepas juga dari tingginya permintaan para kaum hidung belang. Sayangnya, aku tidak sempat melakukan investigasi lebih mendalam untuk mengetahui apakah pelaku kemaksiatan tersebut (baik produsen maupun konsumen) lebih didominasi pendatang atau penduduk asli Padang itu sendiri.

Yang jelas, Padang yang 14 tahun lalu kukenal sebagai kota yang teramat religius, kini telah luluhlantak. Tepat pukul 17.16 WIB, 30 September 2009, gempa berkekuatan 7,6 SR telah merenggut nyawa lebih dari seribu orang (berdasarkan data PBB per 4 Oktober 2009).

Padang, suatu ironi yang menunjukkan bahwa perubahan bisa terjadi kapan saja dan berakibat apa saja pula. (***)

NB: Tulisan ini sangat subjektif berdasarkan pengalamanku sendiri. Jadi, hal yang kutuliskan di sini masih jauh dari metodologi penelitian yang general.

Medan, 4 Oktober 2009

Gempa Sumbar 7,6 SR (diambil dari detiknews.com)
Gempa Sumbar 7,6 SR (diambil dari detiknews.com)

~ oleh rahmadlbs pada 6 Oktober 2009.

2 Tanggapan to “Padang, antara Pengelabuan dan Kemaksiatan”

  1. nice story…
    coba waktu itu anda kuliah di Unand, saya yakin anda akan ikut membangun kembali kota padang…

  2. Jalan hidup itu memang tidak bisa ditebak. Seandainya saat itu aku memilih kuliah di Unand, bisa saja sekarang ikut membangun, tapi bisa juga ikut menjadi bagian yang akan dibangun.. Walau begitu, makasih kunjungannya, sobat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: