Ya Allah, Maafkanlah Kami

Pernahkah kita bayangkan seperti apa wujud kita seandainya Allah SWT tak menciptakan sebuah bulan Ramadan dan sebuah hari yang fitri? Sekuat apakah kita memikul kebusukan kita sendiri, ketika setiap tahun tak ada fasilitas pengampunan dosa dari Tuhan?

Jika itu terjadi, bisa dikatakan kita hidup ibarat tanpa ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah. Atau bahkan seperti orang yang terus menerus makan, namun tak punya saluran pembuangan kotoran. Karena itu, tak heran jika bulan Ramadan dan Idul Fitri selalu dinanti, bahkan oleh mereka yang selama 11 bulan terus dirasuki setan. Berharap kotoran dan dosa-dosanya dihapus.

Namun, walau begitu, nyatanya Ramadan tetap kita ‘lecehkan’. Kita tetap senang memakai topeng dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengucapkan sesuatu, tapi tanpa merasa bersalah melakukan sesuatu yang berbeda pada saat bersamaan. Kita masih terus terjebak dalam pertarungan materialisme yang maha-dahsyat, tanpa pernah memerdulikan batas halal dan haram, batas antara yang hak dan batil, termasuk batas punya orang dan punya ayah kita sendiri.

Padahal, dari mulut kita, berkali-kali kita mengucapkan ungkapan bagus untuk melukiskan kebesaran Ramadan. Bulan suci. Penghulu segala bulan. Bulan turunnya Al Qur’an. Satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar. Bahkan, banyak di antara kita yang dengan mimik sedih bercerita bahwa dirinya enggan berpisah dengan bulan suci ini.

Masalahnya, sesuaikah perkataan dengan aplikasi perbuatan yang kita lakukan di bulan Ramadan ini? Ketika Tuhan mengkerangkeng setan, justru kita yang malah kesetanan. Pada saat mulut kita berpuasa dari makan dan minum, pada saat yang sama hati dan pikiran kita luar biasa ‘kreatifnya’ untuk melakukan berbagai macam hal yang justru bertentangan dengan esensi puasa itu sendiri.

Kita membuat puasa kita menjadi aneka macam. Ada puasa untuk konsumsi tetangga, teman-teman, keluarga, bahkan untuk konsumsi politik. Dari pagi sampai petang kita menahan lapar dan dahaga, hanya untuk menunggu pelampiasan di saat berbuka. Kita terus keliru, mengira Tuhan akan mengampuni dosa kita, cukup dengan hanya kita menahan lapar dan dahaga. Singkatnya, kita ‘menipu’ Tuhan dengan prilaku-prilaku sok alim yang kita tonjolkan.

Kita sepertinya lupa, jago tipu sehebat apapun tak mungkin bisa mengelabui Tuhan. Presiden bisa dikelabui, menteri bisa dikecoh, gubernur mungkin dapat dibodohin, KPK dapat ditokohin, tapi Tuhan tidak akan bisa. Tuhan pasti belum pernah mencipta manusia yang mampu mengelabuinya.

Mana pula Tuhan bisa kecolongan dengan memaafkan begitu saja dosa pejabat yang mengemplang bantuan untuk orang miskin dan jatah anak yatim. Tuhan mustahil bisa dikelabui oleh pengusaha nakal yang sebagian besar hartanya dari hasil ‘menjarah’ uang rakyat, walau pada bulan puasa ini si pejabat dan pengusaha itu royalnya tiada tanding. Sumbang sana sumbang sini.

Bagaimana mungkin pula Tuhan bisa kita kecoh tatkala atas nama dan untuk Ramadan dan Idul Fitri, kita seakan mendapatkan kebebasan untuk melakukan segala hal, bila perlu dengan menghalalkan segala cara. Kita ingin uang dan harta lebih banyak, jabatan lebih tinggi, derajat di atas langit dan penghormatan melebihi Tuhan.

Kita tidak perduli, apakah orang lain akan menjadi korban akibat ambisi-ambisi materialisme itu. Kita tidak mau tekor sedikitpun, walau sesungguhnya kita paham benar bahwa puasa secara tidak langsung mengajarkan kita untuk ikhlas menerima ketekoran; tekor tidur, tekor makan, tekor harta, tekor kegiatan jasmani, dan lain-lain.

Sebaliknya, kita kini lebih asyik berburu simbol-simbol perayaan lebaran. Punya baju baru, kue-kue lezat bertoples-toples, sirup dengan aneka macam warna, sepatu baru, cat rumah baru, mebel baru, dan lain-lain yang serba-baru, bahkan mungkin bisa jadi istri baru.

Memasuki dua pekan masa akhir Ramadan ini, gejala-gejala tersebut semakin menampakkan wujudnya. Pusat-pusat perbelanjaan mulai diramaikan oleh umat Islam yang ramai berburu pernak-pernik lebaran. Akibatnya, kita kembali terjerambab dalam kehidupan yang itu-itu lagi; kita saling sikut lagi, saling mengenyahkan dan saling adu mengambil dan hendak memiliki lebih banyak dari orang lain. Dan dengan permohonan maaf yang kita layangkan ke segala penjuru di Idul Fitri nanti, kita menganggap telah menyempurnakan puasa kita. Dosa telah diampuni Tuhan. Beres.

Sungguh ironis. Padahal, betapa melimpahnya fasilitas yang kita dapatkan setiap Ramadan tiba. Tidak hanya penghapusan dosa, kita diberi pula kiat memelihara kesehatan, memulihkan potensi jasmani dan rohani melalui puasa. Lebih penting lagi, kita diberi pula momentum mengasihi antar-sesama (hablumminannas), saling bersedekah, saling memberi, dan bermaaf-maafan.

Sayangnya, kita masih memaknai itu dalam retorika dan prilaku-prilaku manipulatif. Tahun ke tahun kita tetap memperlakukan Ramadan bagai siklus tahunan biasa. Kita hanya sibuk dengan atribut-atribunya yang artifisial. Kita pertukarkan Ramadan dan Idul Fitri dengan segala hal yang bersifat hedonistic, segala hal yang bersifat bendawi.

Maha besar Allah SWT. Dia tetap memberikan kita Ramadan setiap tahunnya. Dia tetap memberikan Idul Fitri. Dia tidak pernah lelah melihat tingkah kita. Tak pernah jemu menunggu sampai kita mampu, walau fakta menunjukkan, tahun ke tahun kita masih lebih suka memaknai Ramadan dengan penampilan dan pemanis kata-kata.

Ya Allah, semoga Engkau berkenan dengan gaya puasa dan lebaran seperti ini. Mohon maafkan kami.

~ oleh rahmadlbs pada 9 September 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: