Selamat Datang di Republik Gosip

Beragam gosip dan prasangka kini menjadi makanan kita sehari-hari. Jika selama ini kita lebih banyak disuapi dengan gosip artis yang mau kawin cerai, kini gosip dan prasangka kita sudah semakin ‘intelek’, yaitu soal siapa aktor intelektual di belakang peledakan bom di Hotel JW Marriot Jakarta dan Ritz Carlton.


Semakin hot, setelah sekaliber Presiden SBY juga ikut-ikutan melemparkan gosip dan prasangka. Hanya hitungan jam setelah dua bom meledak di Jum’at pagi yang kelam itu, SBY langsung mengeluarkan statemen bahwa pelaku bom tersebut diduga digerakkan oleh pihak-pihak yang tak puas dengan hasil Pemilu Presiden. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling, Presiden menengarai bom tersebut sebagai pintu masuk yang dilakukan lawan politiknya untuk menggerakkan revolusi dan kerusuhan pasca-Pemilu seperti di Iran.

Terlepas dari sejauh mana kebenaran tuduhan itu, tak ayal dua pesaing SBY, pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto langsung kebakaran jenggot. Dapat dimaklumi, menjadi pihak tertuduh – apalagi jika yang dituduhkan belum tentu benar- akan sangat menyakitkan. Walau secara tidak langsung, pihak yang dikalahkan oleh SBY ini pun melemparkan wacana bahwa peledakan bom tersebut bisa saja sebagai upaya pengalihan isu dari bobroknya Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan kecurangan-kecurangan dalam Pemilu Presiden lalu. Olala, sempurnalah sudah, gosip dibalas gosip.

Namun, efek sesungguhnya lebih parah dari itu. Semua pihak seakan merasa sah-sah saja untuk melemparkan gosip dan prasangka terkait pelaku bom tersebut. Gawatnya, media kita pun ikut-ikutan menjadi penyebar gosip dan prasangka ini. Sampai-sampai saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga Ibrahim saat ini. Betapa tidak, di saat pria perangkai bunga di Hotel Ritz Carlton itu keberadaannya masih misterius, gosip dan prasangka pun langsung mengemuka. Media kita tanpa tedeng aling-aling kerap menyebutnya sebagai orang yang diduga terlibat dalam peledakan bom tersebut. Padahal, bisa saja saat ini Ibrahim sudah menjadi mayat yang berkeping-keping.

Hanya, bagaimanapun media adalah cermin masyarakat. Kenikmatan masyarakat akan gosip dan prasangka itulah yang kemudian disahuti oleh media kita. Persoalannya; mengapa masyarakat kita begitu menikmati gosip dan prasangka tersebut?

Menurut saya, karena dari dulu kita terbiasa hidup dalam budaya tertutup. Itu tak hanya dalam politik, hukum dan peristiwa-peristiwa besar, tapi dalam semua segi kehidupan yang remeh sekalipun. Bukankah dalam rumah tangga kita, apa yang dibicarakan orang tua, semua anak-anak atau yang dianggap masih anak-anak tidak boleh ikut mendengar?

Bahkan, dalam kehidupan modern yang seharusnya lebih transparan, seperti dalam bidang bisnis, budaya tertutup masih kita pertahankan. Bukankah kita tidak pernah tahu siapa saja sebenarnya yang punya Bank A atau perusahaan raksasa B? Apalagi kalau kita ingin tahu apakah perusahaan A itu benar-benar berlaba atau merugi dan berapa sebenarnya angka pastinya.

Nah, akibat budaya tertutup ini membuat kita begitu gampang melahirkan gosip dan prasangka.

Itu saja? Sebenarnya tidak. Yang tak boleh dilupakan juga walau terdengar pahit, adalah budaya kita yang dari sono-nya memang suka curiga dan berprasangka. Akibatnya, semua persangkaan yang dimuat di media dan komentar-komentar pengamat, tanpa kita analisis lebih dalam, secara cepat bisa merasuk ke benak kita dan menerimanya sebagai sesuatu kebenaran yang mutlak. Sebab, sebelum mendengar komentar itu pun, kita sebenarnya sudah punya prasangka.

Kita, karena biasa berprasangka, memang tak terbiasa menggunakan daya kritis kita, bahkan logika kita.

Dari kecil, sebenarnya setiap anggota masyarakat kita – yang katanya punya budaya halus – tak biasa berterus terang dan sudah terbiasa hidup dalam gunjingan serta bisik-bisik di belakang orang yang kita bicarakan. Kita akan segera bermuka manis bila orang yang kita gunjingkan itu tiba-tiba sudah ada di depan hidung kita.

Begitulah kebiasaan kita. Bila misalnya ada tetangga yang hidupnya tiba-tiba berubah, dari melarat menjadi sedikit berpunya, gosip pun biasanya meruyak. Entah tentang gosip si tetangga itu mempunyai objekan yang mengena, tentang gosip mengkorup uang kantornya, sampai gosip tentang dia mempunya tuyul, tanpa kita mempunyai keberanian bertanya langsung ke orang yang bersangkutan.

Gosip akan lebih seru bila si tetangga yang perempuan, misalnya, beberapa kali menerima tamu pria di rumahnya. Padahal, kita tidak pernah ingin mengecek atau sekadar bertanya (karena kita juga punya budaya risih). Padahal mungkin saja, si tamu ternyata adalah saudara kandungnya sendiri.

Kebiasaan begitu juga terbawa dalam lingkungan yang lebih besar, seperti di kantor, di organisasi masyarakat, bahkan hingga partai politik. Kita pasti akan menggunjingkan bila ada di antara teman sekerja yang mendapat fasilitas yang lebih atau mendapat kenaikan pangkat, tanpa kita mau perduli prestasi teman kita itu di dalam pekerjaan. Kita akan lebih suka menuding orang itu ‘anak mainnya’ pimpinan.

Di organisasi, baik organisasi politik atau organisasi kemasyarakatan, kasak-kusuk semacam itu lebih hebat lagi, apalagi kalau garis siapa kita dan siapa mereka sudah ditarik. Si mereka akan selalu menjadi objek gosip yang tak habis-habisnya. Apa saja ucapan mereka, apa saja tindakan mereka pastilah akan kita bahas, yang kadang-kadang, lucunya, melebihi dari yang sebenarnya mereka rencanakan atau lakukan. Tuduhan kolusi dan penghianat akan cepat menyebar bila salah satu dari kita, misalnya, terlihat bertemu dengan salah seorang dari mereka.

Kita memang dari dulu senang bergosip, dan nikmat dengan prasangka-prasangka yang muncul dari gosip. Karena itu, gosip dan prasangka mendapatkan tempat yang subur di masyarakat kita. Jangan-jangan, Presiden pun ikut menikmatinya. (***)

Salam saya,
Mantan tukang gosip

Rahmad Nur Lubis
* Wartawan Seputar Indonesia termanis.. ^_^

~ oleh rahmadlbs pada 28 Juli 2009.

3 Tanggapan to “Selamat Datang di Republik Gosip”

  1. Kok tidak ada update lagi?

  2. Hehehe.. sabar mr Lex.. Lagi lumayan sibuk belakangan ini ngeliatin kinerja pasukan desas-desus 88..

  3. czemu nie:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: