Sate, Bom dan SBY

Sesaat setelah tiba dari Padang kemarin pagi, saya menemukan dua kejadian besar. Pertama, berita besar yang hanya saya dengar dan ketahui dari pemberitaan-pemberitaan. Dan, satu lagi kejadian yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri sehingga sempat membuat saya merenung.


Oke, mungkin ada baiknya saya menceritakan kejadian yang saya lihat langsung saja dulu. Ceritanya, tadi pagi, setibanya dari Padang, saya sempatkan beristirahat di rumah orang tua saya di Padangsidimpuan, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tebingtinggi.

Baru sekitar satu jam saya beristirahat, ibu saya sudah minta dibelikan sate di pusat pasar. Sate Sentosa, demikian dia menyebut nama sate yang dia gemari itu. Bukan karena si penjual sate bernama Sentosa, tapi karena dia berjualan di depan kedai kopi yang diberi nama Sentosa di Jalan Thamrin Padangsidimpuan. Kalau Anda ke kota Salak ini, tidak salah Anda mencobanya karena rasanya tidak kalah dengan sate-sate di Medan atau di Padang.

Nah, kendati masih letih setelah melalui perjalanan darat sekitar 7 jam, pagi itu saya tetap memenuhi permintaan ibu. Dengan mengendarai sepeda motor, saya kemudian menuju pusat pasar yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumah saya.

Belum jauh dari rumah, saya menemukan kejadian ‘kecil’ yang cukup berkesan di hati saya. Saya melihat seorang anak kecil yang sedang belajar bersepeda di jalan berlobang itu. Tiba-tiba saya teringat dengan tulisan di salah satu artikel yang menceritakan bagaimana gigihnya seorang anak yang sedang belajar bersepeda.

Saya ingin membuktikannya. Sepeda motor yang saya kendarai saya berhentikan. Saya duduk di atasnya, tak jauh dari tempat si anak itu belajar bersepeda. Saya berpura-pura menunggu seseorang agar bisa terus memperhatikan anak ini.

Dan ternyata benar. Saya lihat, berkali-kali anak tersebut jatuh dari sepedanya ketika melewati jalan yang berlobang. Namun,sedikitpun terlihat tak ada rasa takut baginya untuk mengulanginya lagi. Setiap terjatuh, dia langsung berusaha secepat mungkin berdiri tanpa menunjukkan tanda-tanda kesakitan, sekalipun terlihat beberapa kali kakinya terantuk ke aspal. Dia hanya mengusapnya sebentar, lalu segera membenarkan posisi sepeda kecilnya.

Dia kemudian berbalik arah dengan mendorong sepedanya. Lantas, dia naiki lagi, dan dengan keyakinan penuh dia kayuh sepedanya untuk kembali melewati lobang yang tadi telah membuatnya terjatuh. Hasilnya, lebih bagus dari tadi. Kini, dia hampir bisa melewatinya dengan mulus, walau sepeda itu sempat oleng dan harus dia tahan dengan kedua kakinya.

“Luar biasa. Ternyata benar, anak-anak terkadang lebih gigih,” pekik saya dalam hati sebelum kemudian saya tersadar bahwa ibu saya telah menunggu kedatangan sate di rumah.

Setibanya di rumah, saat masih menikmati sate bersama ibu di ruang keluarga, tiba-tiba saya dikejutkan dengan berita di televisi. Yap, lagi-lagi bom meledak. Untuk kedua kalinya bagi Hotel JW Marriot Jakarta dan untuk pertama kalinya bagi Hotel Ritz Carlton, menjadi sasaran aksi pemboman (saya tidak sepakat menyebutnya dengan aksi terorisme, karena belum ada pembuktian yang cukup bahwa pemboman itu dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisir).

Saya tentu tidak perlu menceritakan panjang lebar di sini bagaimana cerita pemboman itu. Sebab, saya yakin Anda juga telah mengikuti pemberitaannya dengan cukup detail, baik dari layar televisi yang kemarin nyaris menghabiskan jam tayangnya untuk memberitakan perkembangan kejadian tersebut dari menit ke menit, maupun dari berita-berita di portal internet dan surat kabar.

Hanya, yang membuat saya sempat tersentak adalah munculnya kembali konflik di kalangan orang-orang besar di negeri ini pasca-kejadian tersebut. Presiden SBY dalam pidatonya dengan gamblang langsung menuding ada dugaan pelaku bom tersebut adalah pihak-pihak yang ingin menggagalkan pelantikannya sebagai presiden.

Hmm.. pernyataan yang layak dikritisi. Seharusnya sebagai negarawan, SBY harus memahami bahwa dirinya belum resmi dinyatakan sebagai presiden untuk periode berikutnya. Bukankah SBY sebelumnya sempat mengatakan bahwa para pihak harus menunggu keputusan resmi KPU soal hasil Pilpres lalu? Lantas, bukankah dengan pernyataannya itu dia telah mendahului keputusan KPU, seakan-akan dirinyalah sebagai presiden berikutnya?

Belum cukup sampai di situ. Saya kembali tersentak dengan pernyataannya terkait adanya laporan dari intelijen bahwa aksi terorisme (mengutip istilah SBY) telah ada dan berlatih sebelum pengeboman tersebut terjadi. Tidak tanggung-tanggung, presiden juga menunjukkan foto yang memperlihatkan beberapa orang bertopeng sedang belajar menembak. Dan, masih menurut SBY, dalam latihan menembak itu, sasaran tembaknya adalah fotonya sendiri.

Sungguh, saya orang yang tidak memahami kerja-kerja intelijen. Yang saya tahu, intelijen dibentuk untuk memberikan laporan secepat mungkin agar suatu kejadian yang tidak diinginkan bisa terantisipasi. Lah, kalau sudah begitu, lantas kenapa bom itu akhirnya meledak juga? Alangkah naïf, jika kita mengaku tahu akan buang air besar setelah kotoran kita telah menempel di celana dalam? Analogi yang kurang lebih sama dengan pernyataan presiden terkait latihan sekelompok orang dan peledakan bom tersebut.

Pikiran nakal saya tiba-tiba terhenti. Sekelabat bayangan anak kecil yang tadi saya lihat belajar bersepeda, tiba-tiba muncul lagi. Dan, dari dua kejadian itu, saya bisa mengambil hipotesa bahwa anak kecil tadi lebih hebat dari kebanyakan orang besar di negeri ini. Termasuk lebih hebat dari saya dan mungkin Anda.

Saya, Anda dan mungkin beberapa orang besar di negeri ini sepertinya sudah sampai pada suatu titik yang bisa disebut titik imun. Kebanyakan kita tidak mau mengakui bahwa kegagalan yang ada atau suatu hal buruk yang terjadi berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita lebih nyaman untuk mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Saya, Anda dan mungkin beberapa orang besar di negeri ini tidak pernah mau bercermin dari kisah seorang anak yang belajar bersepeda itu. Ketika kita terjatuh seperti anak kecil tadi, kita lebih cenderung mengeluh dan dengan gampang mengarahkan telunjuk ke kening orang lain sebagai penyebab kejadian tersebut.

“Karena kamu kalah, makanya kamu buat kerusuhan kan? Kenapa saya dilawan, mampuslah jika kamu tersakiti. Kenapa dosen ini begitu pelit memberi nilai, sehingga saya susah tamat. Kenapa WC ini licin sehingga saya kerap tergelincir dibuatnya. Kenapa dia harus suka sama orang yang keras kepala seperti saya, itu derita dialah!”

Semangat yang muncul dari kalimat-kalimat yang kerap kita keluarkan dalam pergaulan sehari-hari itu, secara tidak langsung telah membentuk pola pikir kita bahwa kita memang tidak akan pernah salah. Kita serasa sulit untuk melihat ke dalam diri sendiri. Kita cenderung melihat ke arah luar dan menyalahkan segala sesuatu. Hingga akhirnya kita kerap tidak sadar bahwa yang jadi sumber masalah sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Sama seperti kasus peledakan bom itu. Jika kita boleh jujur, kasus-kasus seperti itu bukan sekali dua kali lagi terjadi di negeri ini. Bahkan mungkin sudah lebih dari hitungan jari di kedua tangan. Lantas, kenapa pembesar-pembesar di negeri ini merasa persoalan tersebut langsung selesai begitu sekelompok orang yang mereka sebut teroris berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman hingga hukuman mati.

Padahal, menurut saya, penyelesaian aksi-aksi tersebut tidak bisa berhenti sampai di situ saja. Banyak hal yang harus dibenahi. Dari sasaran peledakan bom itu sendiri sudah bisa dianalisa sedikitnya dua faktor, yaitu adanya kecemburuan sosial dan ketimpangan hukum.

Bukan menjadi rahasia umum lagi, perusahaan-perusahaan asing bermodal besar di negeri ini begitu leluasa menjalankan bisnisnya kendati harus menerabas aturan hukum. Kasus Hotel JW Marriot Medan sedikitnya bisa menjadi bukti, bagaimana tidak berdayanya pemerintah setempat sehingga JW Marriot bisa membangun hotelnya hingga 27 lantai tanpa izin. Ironis bukan?

Ketika suatu ketidakadilan terjadi, maka orang yang tertindas dan merasa diberlakukan tidak sama, akan mengkompensasikannya dengan tindakan-tindakan lain. Dan terkadang tanpa lagi berdasarkan akal sehat.

Banyak sebenarnya analisa yang bisa dimunculkan dari aksi-aksi pengeboman tersebut, termasuk kemungkinan adanya intrik-intrik di dalamnya. Tapi tulisan ini akan demikian panjangnya jika saya harus membeberkannya di sini. Yang jelas, suatu reaksi tidak akan terjadi tanpa ada aksi.

Aksi pengeboman, apapun alasannya, merupakan tindakan yang sangat tidak manusiawi. Pelakunya layak dihukum berat. Namun, mulai sekarang saatnya kita menghentikan prilaku mengecam saja. Tak salah jika kita mundurkan lagi ‘sepeda’ kita, untuk kemudian bisa melewati rintangan yang telah membuat kita kerap terjatuh.

Dan siapapun tahu, rintangan itu adalah lobang-lobang kemiskinan dan ketidakadilan! Pak SBY, mari kita benahi kedua lobang besar itu, bukannya mengeluh dan menyalahkan orang lain. (***)

Salam hormat,

Yang suka lobang,
Rahmad Nur Lubis
Wartawan Seputar Indonesia paling manis.. ^_^

~ oleh rahmadlbs pada 28 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: