Tinggalkan KCB, Tonton Absent of Malice

Sudahkah Anda menonton film Absent of Malice? Jika belum, saya rekomendasikan Anda untuk menonton film yang sebenarnya sudah di-launching beberapa tahun lalu ini. Khususnya bagi Anda yang berminat terjun dan kerap mengamati perkembangan dunia jurnalistik, serta bagi Anda yang sedang atau berkeinginan menimba ilmu di jurusan Ilmu Komunikasi.


Saya baru saja menonton film itu lewat kepingan DVD yang dipinjamkan seorang teman. Hmmm.. lumayan bagus, setidaknya dari sisi plot cerita dan makna di balik ceritanya. Entahlah, apakah karena mungkin saya kebetulan berkecimpung di dunia sebagaimana alur cerita yang disampaikan dalam film itu, atau memang semalam saya lagi mood menonton film setelah menjalani runtinitas yang begitu melelahkan.

Okelah, saya ingin menceritakan sinopsisnya kepada Anda, karena saya tahu sebagian dari Anda tergolong malas mengikuti jalan cerita film yang tak ada romantis-romantisnya. Maklum, jika Anda berharap menemukan jalan cerita berbau romantisme dalam film ini, sepertinya Anda akan menuai kekecewaan.

Alkisah, di Miami, Amerika Serikat, seorang bos ekspedisi muatan kapal laut (EMKL) panik akibat ulah anak buahnya yang tiba-tiba mogok kerja dan menuntut kenaikan gaji. Malang bagi si bos, pada malam harinya, pemimpin pekerja itu tiba-tiba mati terbunuh. Tak ayal, tuduhan segera ditimpakan orang kepada bos EMKL tersebut.

Seorang wartawati muda, yang mendapat bocoran dugaan itu dari seorang jaksa wilayah, seketika mempercayai dugaan tersebut. Keesokan harinya, berita utama di harian Miami Tribune, tempat si wartawati itu bekerja, memuat soal pembunuhan tersebut, yang diduga dilakukan oleh bos EMKL itu sendiri.

Sebenarnya, si bos EMKL mempunyai alibi yang sah. Cuma, ketika ditemui si wartawati, dia tidak bisa mengungkapkan alibinya itu karena menyangkut aib orang lain. Pada malam itu, sebenarnya, dia berada di kota lain karena menemani seorang teman wanitanya yang hendak menggugurkan kandungannya akibat berhubungan intim dengan lelaki lain.

Namun, si wanita, penganut agama Katolik yang taat itu, tak ingin cerita pengguguran tersebut sampai diketahui orang lain. Karena itu pula, si bos EMKL terpaksa memegang teguh rahasia tersebut, kendati karena itu namanya tercemar sebagai pembunuh dan perusahaannya di ambang bangkrut.

Rupanya, si wartawati penasaran karena dia mencium bahwa ada yang dirahasiakan si bos EMKL kepada dirinya. Akibat gencarnya si wartawati, akhirnya bos EMKL itu menceritakan juga alibinya itu. Cuma, dengan syarat, cerita itu tidak untuk ditulis alias off the record.

Kini giliran si wartawati yang gelisah. Sebab, dia sungguh-sungguh menyadari beritanya mengandung kekeliruan dan berakibat fatal bagi orang lain. Tapi, celakanya, dia tidak bisa memperbaiki kekeliruan itu karena akan mencederai pihak lain lagi.

Karena kegelisahan yang semakin memuncak itu, sang wartawati akhirnya mengkonfirmasi cerita tersebut ke si wanita, teman si bos EMKL yang menggugurkan kandungannya tadi. Wanita ini, sembari meminta-minta agar beritanya tidak dimuat, terpaksa membenarkan cerita tadi.

Apa boleh buat, kendati melanggar perjanjian, karena tanggung jawab moral kepada si bos EMKL yang kadung dia beritakan sebagai pembunuh itu, wartawati tadi terpaksa memuat cerita aib tersebut di halaman pertama korannya. Dia ingin membersihkan nama si bos EMKL dari tuduhan melakukan pembunuhan, walau sebenarnya si bos EMKL pun tak menginginkan itu.

Apa yang terjadi kemudian setelah berita itu muncul di koran? Pagi-pagi sekali, si wanita yang aibnya dibongkar itu terpaksa lari dari rumah ke rumah tetangganya untuk memungut koran-koran yang dilempar pengantar koran ke halaman tetangganya itu. Dan ketika si wartawati masuk kantor sore harinya, dia mendapat telepon bahwa si wanita yang diberitakannya sudah bunuh diri, karena tak kuat menanggung malu aib aborsinya diketahui publik.

Akibat berita yang salah tadi, dua orang manusia menjadi korban, yaitu si bos EMKL dan teman wanitanya tadi. Dosa jurnalistik yang tentunya tidak bisa dimaafkan dengan sekadar tindakan somasi belaka.

Hmmm.. film yang bernas sekali. Menggambarkan bagaimana suatu dosa jurnalistik bisa muncul tanpa kita sadari. Namun sayangnya, saya bukan pengamat akting yang baik. Jadi, jika Anda tanya saya bagaimana dua pemeran utama dalam film ini (Paul Newman yang memerankan bos EMKL bernama Michael Colin Gallagher, dan Sally Field yang memerankan si wartawati bernama Megan Carter) memainkan aktingnya, jelas saya tidak mampu mengkritisinya.

Yang jelas, film ini tetap relevan untuk ditonton, apalagi jika menilik kepada aksi kekerasan yang dialami seorang wartawati Sinar Harapan di Papua, Odeodata Hermina Julia Vanduk. Betapa tidak, wanita ini diduga ditendang hingga pingsan oleh kader Partai Demokrat saat hendak meliput kampanye Boediono di Jayapura.

Sebesar apakah dosa jurnalistik Odeodata? Apakah lebih fatal dari yang dilakukan Megan Carter, si wartawati Miami Tribune dalam film Absent of Malice tadi?

Saya percaya tidak. Sebab, dari sisi pemberitaan, si wartawati Papua tadi jelas-jelas hendak meliput kampanye seorang calon wakil presiden, dan tentu ini sudah merupakan wilayah yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dengan demikian, apapun alasannya, jika memang objek berita menyangkut kepentingan umum, berdasarkan ketentuan perundang-undangan, tak seorang pun yang berhak menghalang-halangi kerja wartawan.

Hanya, sebagian manusia Indonesia memang sepertinya begitu gampang untuk melakukan tindakan kekerasan. Bisa jadi, rendahnya latar belakang pendidikan dan pengagungan terhadap materialisme yang luar biasa membuat banyak kepala manusia di negeri ini yang tidak berisi nalar dan logika lagi.

Megan memang bersalah, tapi dia masih beruntung tidak mengalami nasib seburuk Odeodata. Dia tidak mendapat tendangan di pantat akibat kekeliruannya itu. Tapi, kapankah bangsa ini bisa lebih memahami kerja-kerja jurnalistik?

~ oleh rahmadlbs pada 29 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: