Haruskah Aku Menikah?

Jika ada hal yang paling membuatku malas ketika pulang kampung ke Sidimpuan adalah apabila para kerabatku sudah berkumpul. Bagiku perkumpulan mereka di suatu tempat dimana aku juga ada di situ, seakan menjadi pengadilan.

Ya, pengadilan tanpa penasihat hukum. Yang ada hanya jaksa dan majelis hakim. Sebagai tersangka, siapa lagi kalau bukan aku sendiri. Aku seakan tidak punya hak membela diri, karena mereka akan bergotong royong berupaya membenarkan dakwaannya. Palingan juga adek-adek dan sepupu-sepupuku yang berposisi netral, walau mereka kerap tersenyum simpul mendengarkan dakwaan-dakwaan yang diarahkan ke keningku.

Itu pulalah yang kualami tadi malam. Hanya satu malam setelah aku menginjakkan kaki kembali di rumahku di Sidimpuan sepulang dari Padang. Entah kenapa, malam itu tiba-tiba tiga namboruku (tante) dan dua tulangku (paman) datang ke rumah. Sungguh, aku tak tahu apakah kedatangan mereka itu suatu kesengajaan atau hanya kebetulan belaka.

Yang jelas, sesaat mereka datang, aku sudah berupaya untuk keluar dari rumah. Sengaja aku SMS seorang teman untuk datang ke rumah agar aku punya alasan untuk hengkang. Ya, aku tahu benar, kalau para ‘sesepuh’ ini sudah berkumpul, ujung-ujungnya nanti pembicaraan akan mengarah ke aku. Akh, aku sudah muak dan aku sudah bisa menggambarkan arah pembicaraan yang mereka inginkan itu.

Yap, Anda mungkin sudah bisa mengira. Apalagi kalau bukan cerita menikah. Saking hapalnya arahnya, bahkan aku sudah bisa menebak rangkaian kata-kata yang bakal meluncur dari mulut mereka. Kompak dan senada. Deretannya tidak pernah berubah sejak lebaran dua tahun lalu.

“Rahmad, gimananya? Belum terpikir juga rupanya,” demikian bou (kakak dari ayahku) memulai pembicaraan. Kami biasa menyebutnya dengan bou haji. Karena dia sebagai saudara tertua ayahku, bergelar haji (tepatnya mungkin hajjah), maka dia sepertinya ditugaskan sebagai pembuka kata.

Seperti biasa pula, aku hanya tersenyum kecut kalau bou haji sudah membuka kalimat itu. Aku tak menjawab karena aku tahu apapun jawabanku tidak akan pernah mendapat pembenaran. “Duduk dulu sini, jangan pergi dulu. Kau asal ditanya itu senyum-senyum aja,” katanya.

Dan sudah bisa kutebak, sesaat setelah aku menghenyakkan pantatku di sofa ruang keluarga, ‘pengadilan adat’ pun mulai digelar. Aku duduk di bagian tengah sofa panjang, diapit bou haji dan seorang tulangku. Sedangkan bou dan tulangku yang lain duduk di sofa panjang di depanku. Papa dan umak (mama) duduk di sofa tersendiri. Selama ini, kedua orang yang membesarkanku ini memang tidak pernah menyinggung-nyinggung hal itu secara langsung ke aku, walau aku tahu pasti sebenarnya mereka punya dakwaan yang sama dengan kerabat-kerabatku.

“Apalagi yang kau tunggu. Kau sudah kerja. Ingat umurmu amang,” bou hajiku mulai membacakan dakwaannya.

“Lagian kau tak bisa sukses kalau sendiri terus. Uangmu akan habis gitu-gitu aja. Apalagi yang kau takutkan? Makin lama nanti kau makin terlena dengan masa lajangmu itu,” lanjut tulangku (abang ibuku) tak mau ketinggalan ikut-ikutan mendakwaku.

Mendengar cerocosan kerabat-kerabatku, sepupu dan adek perempuanku satu-satunya yang tinggal di rumah pun mulai senyum-senyum. Entahlah apakah karena mereka merasa lucu melihatku diadili seperti itu tanpa bisa berkata apa-apa.

Sejujurnya, aku sudah muak dengan rentetan kalimat itu. Ingin rasanya aku membungkam mulut mereka dengan membeli mereka makanan agar diam. Maklum, sebagaimana orang Indonesia pada umumnya, makanan biasanya lumayan efektif untuk membungkam mulut. Tapi aku tahu itu tidak akan mempan. Yang ada nanti uangku habis, mereka enak makan, tapi dakwaan padaku tidak akan berakhir.

Aku diam saja. “Sudahlah, kalau kau memang sudah melihat ada yang cocok, secepatnya kau bilang sama kami. Jangan kau lama-lamakan lagi. Tunjuk mana orangnya biar kami tanya.”

Makjang, kesuntukan mereka melihat kelajanganku ternyata membuat mereka udah kayak preman. Dipikir orang ininya nanya perempuan itu kayak nanya pembantu? Akh, benar-benar memuakkan.

“Ya kalau nggak biar kami yang nyariin. Ada PNS di dekat rumah bou, kayaknya cocok itu samamu. Dia kerja di kantor bupati. Kalau nggak kawan kerja si Linda (nama sepupuku) yang di Telkomsel itu aja. Baik kok ku tengok orangnya. Itu aja kita tanya?” ujar bou panglong (karena yang ini suaminya buka panglong).

“Oya, ada juga kutengok kawan si Titi (istri sepupuku). Sama-sama bidan orang itu. Kemarin datang ke rumah. Itu pun bisa kita tanya. Kebetulan pula ibunya kawan bou. Gimana?” timpal bou limbong (karena rumahnya di perumahan limbong).

Mampuslah. Kalau bukan karena saudara ayah dan ibuku, mungkin sudah kutinggalkan mereka dengan ocehan-ocehan yang semakin tidak penting itu. Kenapa tidak sekalian saja Paris Hilton yang mereka sorongkan amaku? Tanggung-tanggung kalipun, yang PNS lah, kerja di Telkomsel lah, bidan lah. Arrrggghhhh…

“Terserahmulah. Cuman kalau bisa tahun ini, paling lama tahun depan kau akhirilah masa lajangmu. Pikirkan itu. Mumpung masih kuat-kuat kami markobar (salah satu prosesi nikah berdasarkan adat mandailing). Papa dan mamamu pun sudah tak sabar itu menggendong cucu,” tandas bou haji menutup dakwaan tim jaksa penuntut umum.

Huh, akhirnya selesai juga. Saatnya aku meninggalkan para ‘destroyer’ ini untuk berkumpul dengan teman-teman di masa-masa SMA dulu. Dan itupun tinggal tiga orang lagi yang masih melajang seperti aku.

Sejatinya, bukan hanya kerabatku yang kerap melontarkan pertanyaan soal menikah ini. Banyak teman, dalam berbagai kesempatan, seakan menjadikan pertanyaan itu sebagai ujian khusus. Tidak itu saja, mereka juga kerap berprilaku ‘lebay’ menganilisis kenapa aku belum menikah juga.

Itu pulalah yang terjadi setelah ‘persidangan adat’ di rumah, saat aku kumpul-kumpul dengan beberapa orang teman SMA yang sebagian besar memang sudah menikah. Ada yang bilang aku tidak siap dengan komitmen, ada yang bilang aku terlalu menikmati masa lajang, ada yang bilang karena aku bawaannya tak mau serius. Macam-macamlah.

Semua itu aku tanggapi dengan senyum saja, walau jujur dalam hatiku ada perasaan dongkol. Kok bisa mereka merasa lebih tahu dari diriku sendiri. Toh¸ pada faktanya, hasil analisis mereka tak sepenuhnya benar, kalau tidak boleh dikatakan nyaris salah.

Sesungguhnya, aku bukan tidak siap berkomitmen. Aku paham benar, konsekuensi dari suatu pernikahan adalah kesiapan untuk melepaskan kebebasan-kebebasan yang dirasakan di masa lajang. Jelas, aku tidak akan bisa kelayapan sampai tengah-tengah malam lagi seperti yang selama ini biasa aku lakukan. Kebebasan yang kecil pun pasti akan terikut. Kalau biasanya aku merokok di tempat tidur sebelum tidur, pasti tidak akan bisa kulakukan lagi ketika ada seorang wanita yang tidak merokok juga ada di tempat tidur itu. Aku paham semua konsekuensi itu, dan berarti pula aku sudah menyiapkan diri untuk mengikutinya.

Lagipula, aku telah pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita dengan mengikutkan konsekuensi seperti itu. Tidak merokok di depannya, tidak keluyuran malam, berbagi waktu, dan sebagainya. Toh, aku bisa menjalaninya, walau jujur aku akui lumayan menyusahkan juga. Hanya, dari pengalaman itu, aku bisa memastikan alasan ketidaksiapan berkomitmen tersebut, tidak sepenuhnya benar.

Hmmm.. bagaimana dengan alasan terlalu menikmati masa lajang? Entahlah, privalese yang sudah kita nikmati bertahun-tahun, terkadang memang sulit untuk melepaskannya.

Walau begitu, malam ini aku mencoba merenung, dan sederet poin-poin dalam dakwaan-dakwaan yang disampaikan kerabat dan teman-temanku itu kembali terngiang di telingaku. “Kapan lagi? Apa yang musti kutunggu? Kalau sendiri terus, kapan lagi aku bisa mengumpulkan uang? Gaji dan uang masuk habis gitu-gitu aja. Kapan aku siap kalau aku tidak mencoba untuk siap. Apa yang aku takutkan?
Yap, aku harus mengakui dengan pikiran jernih, yang mereka bilang itu benar semua. Tidak ada yang salah.

Tapi, bagiku tidak mudah melaksanakannya. Aku boleh memiliki penghasilan untuk menikah, tapi sepertinya aku belum memiliki keyakinan penuh untuk menyiapkan diri menikah. Banyak pertimbangan yang membuatku menjadi terlena.

Uniknya, jika aku runut dari perjalanan masa-masa pacaranku selama ini, banyak hal yang membuatku ragu untuk menikahi mereka semata bukan karena hal di dalam diriku dan dirinya. Ada yang karena latar belakang keluarganya yang cenderung menempatkan ibunya sebagai penguasa keluarga, membuatku takut jadi stir kiri jika bersamanya.

Ada yang karena latar belakang ekonomi keluarganya jauh di atas keluargaku, membuatku takut keluarganya kelak akan memandang remeh keluargaku. Ada pula yang menikah duluan, baik karena dijodohkan atau mungkin dia melihat si pria itu lebih serius dan lebih layak. Selain itu, ada pula yang memang tidak kapabel untuk dijadikan sebagai istri.

Karena itu, aku pernah sampai dalam kondisi malas untuk memulai relationship kembali. Sejak lebaran tahun lalu hingga pertengahan Maret 2009 ini, bisa dikatakan aku tak bersama seorang wanita. Waktuku nyaris kuhabiskan untuk kerja, nongkrong dengan teman-teman, jalan-jalan ke berbagai tempat, dan ngetem di kamar kos sembari bermain facebook.

Memang, pertengahan Maret lalu, aku sempat merancang hubungan yang kurencanakan serius dengan seorang wanita. Tapi sudahlah, tak perlu aku ceritakan di sini, karena ujung-ujungnya berakhir tak menggembirakan. Tapi mengutip ucapan temanku Denny Sitohang, dengan pengalaman aku meng-create hubungan yang gagal itu, sudah merupakan langkah maju. Langkah maju untuk keluar dari goa kemalasan mengenal wanita dalam kurun 6 bulan belakangan.

Yap, aku sepakat dengannya. Aku ibarat mesin diesel yang makin lama akan makin panas. Enam bulan sudah mesin ‘pemburu’ itu tak kuaktifkan, jadi teramat wajar kalau dia sempat mendingin. So, aku akan menganggap perkenalanku dengan si perempuan itu tak lebih dari sekadar menghidupkan mesin diesel yang sudah lama tak berfungsi. Untuk kemudian siap melaju kencang.

Sejak malam ini, aku harus menancapkan monumen baru untuk memulai perburuan. Di kamarku menghabiskan waktu masa kecil hingga masa SMA ini harus kupahat suatu keyakinan, bahwa aku memang sudah siap. Sekarang tinggal melakukan perburuan. Mesin diesel yang sudah kuhidupkan itu, tak boleh dimatikan lagi, karena nanti butuh waktu untuk memanaskannya kembali.

Aku tak mau lagi membuang-buang waktu seperti beberapa tahun belakangan. Tidak saatnya lagi pacaran-pacaran sekadar jalan, cium-ciuman, makan-makan, nonton, tanpa tujuan yang terdiskripsi dengan baik. Sebagai langkah awal, aku mungkin harus mematikan ATM biar tidak gampang bagiku menguras uang di dalamnya. Ya dengan menabung, setidaknya aku lebih memiliki basic yang kuat untuk mengajak seorang perempuan ke jenjang pernikahan.

Aku harus menggerakkan diriku sendiri. Kalau bisa tahun depan, ya tahun depan. Aku percaya keyakinan yang diucapkan ke alam semesta dipadu dengan pembelajaran diri akan bisa membuatku mencapai target itu.

Aku yakin seyakin-yakinnya, seorang wanita di luar sana sudah dipersiapkan untukku. Tinggal sedikit usaha dan keyakinan bagiku untuk meraihnya. Jika itu sudah kulakukan, muncung-muncung kerabat dan teman-temanku akan dapat aku bungkam. Teman, berhentilah kalian mendesakku, karena aku sudah menuju ke sana.

Hai girl, will u make love with me?🙂

~ oleh rahmadlbs pada 29 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: