Catatan Perjalanan; Tiga Capres dan Kobe Bryant

Beberapa hari ini, saya melalui perjalanan ke berbagai tempat di Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar). Beberapa desa dan kota di dua provinsi bertetangga itu saya singgahi, di antaranya saya sempatkan bermalam. Hmmm.. lumayan mengasyikkan.

Tapi, ups, saya tak hendak bercerita soal itu. Sebab, mungkin Anda juga sudah pernah menyinggahi tempat-tempat yang saya datangi itu.

Hanya, hal utama yang perlu saya catat dari perjalanan saya kali ini adalah, orang tua-orang tua kita ternyata tidak berbohong. Petuah mereka benar adanya, bahwa semakin banyak tempat yang Anda lalui, maka akan semakin banyak hal yang bisa Anda ambil dari sana.

Dan, yang hendak saya ambil dan sampaikan kepada Anda dari perjalanan saya kali ini yakni suatu fakta yang memang tidak bisa digeneralisir. Fakta apa? Dinginnya apresiasi masyarakat terhadap gelaran pemilihan presiden (pilpres) yang akan berlangsung 8 Juli mendatang. Sepertinya, media sajalah yang lebih riuh dengan gelaran pilpres ini, tapi tidak bagi masyarakat kebanyakan, terutama mereka yang jauh dari hiruk pikuk dunia perpolitikan.

Nyaris di beberapa desa yang saya lalui, beberapa orang yang saya ajak berbincang tentang Pilpres ini, menanggapinya dengan nada apatis, kalau tidak boleh dikatakan tak perduli. Mereka terkesan tak percaya bahwa bangsa ini dan nasib mereka akan semakin baik setelah Pilpres digelar.

Saya jadi teringat jargon-jargon yang dilemparkan ketiga pasangan calon presiden (capres) dalam kampanyenya. Semuanya senantiasa menyisipkan kata rakyat dalam pidatonya. Mereka berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai orang yang paling dekat dengan rakyat, paling tahu suara hati rakyat, dan paling ahli memenuhi keinginan rakyat.

Timbul sederet tanda tanya di benak saya; rakyat manakah yang mereka maksud itu? Sebenarnya, pernahkah ketiga pasangan Capres ini sungguh-sungguh mendengarkan suara hati rakyat? Pernah pulakah bapak yang tinggi besar, bapak yang kecil dan ibu yang gendut itu benar-benar turun ke desa-desa atau kampung-kampung terpencil untuk mendengarkan langsung suara rakyat?

Pernahkah di antara mereka—tanpa atribut macam-macam— ada yang bersedia turun ke kampung-kampung di ujung gunung, atau di pulau-pulau kecil, dan hidup bersama rakyat barang seminggu saja? Bukankah selama ini, ketiga Capres—kalaupun pernah pergi ke desa-desa dengan segala macam kemegahan penyambutan—paling lama hanya satu dua jam berada di situ, kemudian kembali lagi ke hotel megah di kota untuk bermalam? Bukankah di sana pun ketiganya lebih banyak memberi petuah ketimbang mendengarkan hati nurani rakyat?

Entahlah, mungkin saya dan Anda bisa menyimpulkan sendiri. Namun, kalau memang ketiga Capres itu tidak pernah melakukan hal-hal di atas, lantas apa perduli rakyat tentang Pilpres?

Tanyakanlah kepada petani-petani di desa atau nelayan-nelayan di sepanjang pantai barat Sumatera. Ada atau tidak Pilpres, tak ada yang berubah bagi kehidupan mereka sehari-hari. Mereka benar-benar tidak tahu, apa yang dimaksud dengan neo-liberalisme, ekonomi kerakyatan, dan berbagai macam istilah yang belakangan ini sering disebut-sebut ‘orang-orang pintar’ di Jakarta sana.

Mereka sungguh-sungguh tidak mengerti, kenapa ‘orang-orang pintar’ yang terlihat necis itu berdebat, atau saling mengklaim seperti yang mereka saksikan di televisi yang hanya bisa mereka tonton di warung kopi. Mereka menyaksikan perdebatan-perdebatan itu layaknya menonton sinetron, sembari melipatkan tubuhnya dengan kain sarung untuk melawan dinginnya malam.

Sebenarnya, apa perduli rakyat, apakah sistem ekonomi kita akan cenderung ke liberalisme, kapitalisme, atau isme-isme lainnya. Sesungguhnya, tidak banyak rakyat yang tahu makna dari sistem ekonomi kita dan apa pula sisi plus dan minusnya. Sama halnya rakyat tidak mempersoalkan, siapa yang paling berperan dalam terciptanya perdamaian di Aceh. Yang mereka paham, perdamaian di Aceh tercipta semata karena rakyat memang menginginkannya dan telah lelah berkonflik, ditambah lagi musibah tsunami yang semakin menyadarkan mereka akan pentingnya makna kebersamaan.

Rakyat pun tidak banyak yang perduli, apakah pertambahan utang Indonesia dalam kurun empat tahun belakangan (sekitar Rp400 triliun lebih) adalah suatu malapetaka. Yang mereka tahu, setiap tiga bulan sekali mereka menerima duit segar dari pemerintah bernama BLT, meski jumlahnya tak memadai, tapi lebih dari cukup untuk modal ngopi selama sebulan.

Rakyat juga tidak banyak yang tahu, apakah pemerintah masih akan mempertahankan ketergantungan pada utang, walaupun mungkin penerimaan utang baru setiap tahun jauh lebih kecil dibanding kewajiban melunasi utang pada tahun yang sama. Rakyat juga tidak paham, mana yang lebih baik; apakah BUMN yang terus menerus menggerus keuangan negara diprivatisasi atau terus disapih demi menjalankan amanat pasal 33 UUD 1945.

Untuk rakyat miskin kota, sesungguhnya pula, mereka tidak perduli apakah Pilpres ini perlu atau tidak, satu putaran atau dua putaran. Yang mereka tahu, kehidupan mereka yang sudah pahit tambah pahit karena pemimpin mereka kini lebih sibuk memikirkan kursinya ketimbang mengurusi mereka.

Yang mereka tahu, sebentar lagi orang-orang hebat akan datang membagi-bagikan kaos, kendati mereka harus mengorbankan waktu mencari nafkah untuk berteriak-teriak mengelu-elukan si orang hebat tersebut. Yang mereka masih ingat, pada saat seperti itu, mereka juga kebagian sedikit uang makan, walau mungkin juga jumlahnya sudah dipotong oleh pengkoordinirnya. Dan mereka tahu benar, di akhir acara mereka akan berjoget bersama penyanyi dangdut yang selama ini hanya pernah mereka lihat wajahnya di televisi.

Yang mereka bisa pastikan, si Capres atau juru kampanyenya itu mengumbar seribu janji bahwa jalan-jalan ke gang-gang atau kampung-kampung mereka akan diaspal, irigasi mereka akan diperbaiki, anak-anak mereka akan sekolah gratis dan bila mereka berobat ke rumah sakit tidak akan bayar, yang semuanya itu entah kapan akan benar-benar mereka cicipi.

Singkatnya, rakyat tidak memikirkan betul, siapa yang harus jadi presiden di republik ini. Mereka tidak perduli, apakah presiden mendatang itu SBY, Jusuf Kalla, atau Megawati. Bagi mereka, semua nama besar itu jauh di awang-awang. Mereka tidak tahu persis kelebihan dan kekurangan tokoh-tokoh tersebut. Karena itu pula, bagi mereka, siapa saja boleh menjadi presiden, hanya dengan harapan presiden mendatang lebih bisa menyejahterakan kehidupan.

Apa sesungguhnya harapan rakyat? Sederhana, sesederhana kehidupan mereka sehari-hari. Mereka hanya berharap, siapapun nanti yang memerintah, akan lebih bisa meningkatkan pemberian subsidi pupuk untuk sawah mereka. Lantas, hasil panen mereka dibeli dengan harga yang layak dan kebutuhan sembako terpikul dengan daya beli mereka.

Mereka juga mengharapkan agar aparat keamanan menjaga mereka dari pencurian dan bukan mencari-cari kesalahan atau memungut uang dari mereka. Yang mereka harapkan, rumah, halaman atau ladang mereka tidak suatu waktu digusur untuk proyek raksasa yang mereka sendiri tak menikmati kegunaannya.

Benarkah ketiga pasangan ini tulus ingin memenuhi keinginan rakyat tersebut? Hmmm.. mereka sudah berkali-kali menjanjikan itu dalam kampanyenya. Karena itu, saya tak ingin menghakimi dengan mengatakan semuanya sebatas janji-janji sorga. Lagipula, saya lebih memilih untuk mengenang sisi-sisi manis saja dari perjalanan saya ini, sembari menonton final NBA yang menurut saya lebih menegangkan.

Hooorrrraayyy… LA Lakers akhirnya resmi menjadi juara NBA tahun ini. Kobe Bryant memang luar biasa!!!

Lubuk Begalung, 16 Juni 2009

~ oleh rahmadlbs pada 20 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: