Syamsul: Si Ramah di Sarang Lebah

Oleh: Rahmad Nur Lubis
Wartawan Seputar Indonesia
(Tulisan ini diproyeksikan sebagai bagian dari buku Syamsul Arifin)

SUATU ketika, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Syamsul Arifin nongol di salah satu warung makan di kawasan Titi Bobrok, Medan. Orang-orang yang selalu mangkal di kawasan warung makan itu pun berebut mengulurkan tangan untuk sekadar salaman. Sebagian harus bersabar menunggu di luar untuk menunggu rezeki. Dan memang, selain membayar biaya makanan dan minuman seluruh penikmat warung tersebut, orang-orang yang menunggu di luarpun tak luput ketiban rezeki alakadarnya.

Tak ada protokoler yang berlebihan. “Sabar, kalian semua akan saya salami. Sekarang kita makan saja dulu,” ujarnya kepada warga yang berupaya menyalaminya. Benar saja, acara salam-salaman dengannya bisa dilakukan warga di warung makan itu, dan sebagian malah ada yang mengabadikannya dengan kamera handphone.

Sesaat setelah keluar dari warung makan itu, Syamsul masih menyempatkan diri untuk berbincang dengan tukang parkir yang sehari-hari bertugas di sana. Tidak begitu jelas apa yang mereka perbincangkan, namun sebelum memasuki mobilnya, Syamsul terlihat menepuk-nepuk pundak si tukang parkir itu sembari melambaikan tangan kepada warga yang terlihat berkerumun melepas keberangkatannya.

Kisah ini terjadi hanya beberapa hari setelah Syamsul dinyatakan sebagai Gubsu terpilih, sekira Mei 2008 lalu. Saat itu, Syamsul menyempatkan diri untuk menjenguk dua korban peluru nyasar oknum TNI AD yang dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Medan. Sepulang dari sanalah, Syamsul menyempatkan diri singgah di warung makan itu.

Sejatinya, kehadiran Bang Syamsul- demikian dia akrab dipanggil oleh kalangan jurnalis- di warung makan yang tak begitu metropolis tersebut bukanlah secara kebetulan. Tetapi itu memang sudah merupakan kebiasannya, ketikan menjabat sebagai Bupati Langkat selama dua periode. Dia tidak segan-segan berbaur dengan warga di warung-warung khas masyarakat pinggiran, meski ‘jengkol’ sebagai simbol predikat Bupati masih tersemat di bagian dada baju dinasnya.

Dan sebagaimana yang kerap dijanjikannya, kebiasaan itu tak akan pernah berubah. Syamsul akan tetap menjadi sosok pejabat yang merakyat dan selalu tampil bersahaja. Jabatan sebagai orang nomor satu di Provinsi Sumatera Utara bukanlah menjadi aral baginya untuk selalu membaur dengan rakyat kebanyakan.

Hal tersebutlah yang membuatnya senantiasa dinantikan kehadirannya oleh masyarakat Sumut. Salah satu bukti terkini dapat dilihat saat ribuan masyarakat kota Medan merayakan pergantian tahun 2008 lalu. Sejak pukul 21.00 WIB, warga yang sudah berduyun-duyun memadati lapangan Merdeka terdiam khusyuk saat Syamsul dari atas pentas Merdeka Walk spontan memimpin doa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, mohon Sumut dan masyarakatnya diberi keberkatan dan martabat lebih baik pada tahun 2009.

Ribuan masyarakat, terutama generasi muda yang sebelumnya larut berjoget dan berdendang ria mengikuti irama musik dalam suasana yang cukup semarak, secara spontan juga menengadahkan kedua tangan, sebagian lainnya tunduk dengan penuh khidmat, sembari mengucapkan kata-kata “Amin…”

Biasanya, dalam momen-momen seperti itu, doa dipimpin oleh seorang pemimpin keagamaan dan berlangsung dalam suasana yang laiknya runtinitas semata. Tapi tidak bagi Syamsul. Dia memanjatkan doa bersama ribuan warga dengan dengan suara khusyuk dan mata berkaca-kaca. “Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berilah kesejahteraan dan martabat tinggi untuk kami masyarakat Sumut. Bimbinglah para pemimpinnya untuk tetap mencintai dan menyayangi rakyatnya. Kuatkan iman dan upaya kami mengharungi kehidupan lebih baik yang Engkau Ridhoi pada tahun 2009 ini,” demikian doa yang dia lantunkan dalam suasana hening itu.

Ada sekitar 10 menit nuansa hening itu berlangsung. Sebagian hadirin ada yang menitikkan air mata, kemudian serentak mengangkat tangan mengelu-elukan Gubsu setelah memimpin doa dan berteriak lantang dengan nada optimis, Insya Allah, Sumut akan lebih baik dan semakin luar biasa pada tahun 2009. “Terima kasih masyarakat Sumut, terima kasih saudara-saudaraku. Kami para pemimpin mencintai kalian semua. Ingatkan kami kalau ada yang menyalah. Mari terus kita saling membahu membangun Sumut. Mari kita lanjutkan bergembira dan bernyanyi,” ujar Gubsu disambut riuh tepuk tangan ribuan massa yang kian memadati lapangan bersejarah ini dan kembang api pun kembali menerangi angkasa silih berganti dengan corak warna yang cukup indah.

Saat itu, Syamsul Arifin benar-benar menjadi “bintangnya”. Dia laiknya selebritis, dielu-elukan massa dan saling berebut untuk bersalaman. Sebelum berdoa, pria yang juga dikenal kocak ini langsung naik ke panggung terbuka dan bersama-sama dengan masyarakat menyanyikan lagu ‘Separuh Nafasmu’ milik Dewa. “Masyarakat senang dan bergembira itulah cita-cita dan harapan kami sebagai pemimpin. Itulah sebabnya kami datang ke tengah-tengah masyarakat dengan pakaian dinas lengkap. Kami ingin dekat dan tidak berjarak dengan rakyat. Kami ingin tunjukkan, pemimpin hari ini bukan berada di belakang rakyat, melainkan di depan. Kalau ada kesalahan kami, ada kelemahan, kelalaian, kealpaan, segera beritahu kami. Mari kita budayakan kritik ke dalam, jangan lagi kita hanya mencari-cari kesalahan, agar Sumut semakin kondusif, investor datang, pergerakan ekonomi lancar, lapangan kerja terbuka, dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ucapnya.

Kebiasan bernyanyi dan berbaur dengan rakyat itu, sesungguhnya juga merupakan hal yang kerap dia lakukan dalam berbagai ‘pesta rakyat’ yang dia ikuti. Tanpa merasa ada sekat pembatas, Syamsul tak segan-segan untuk menyumbangkan suaranya yang sebenarnya tidak merdu itu untuk menghibur rakyat yang hadir di berbagai acara yang dia ikuti. Beragam lagu pun pernah dia dendangkan, mulai dari Lagu Anak Medan hingga beberapa tembang Batak dan lagu-lagu popular anak muda masa kini.

Sifatnya yang jauh dari kesan elitis itulah yang kerap menimbulkan pujian dari berbagai kalangan. Tidak saja dari kaum-kaum ibu kebanyakan, bahkan pujian tentang kesederhanaan dan merakyatnya Syamsul juga muncul dari mulut kalangan selebritis yang pernah berbincang dengannya. “Saya sangat terkesan. Masyarakat Sumut tentu juga bangga punya gubernur yang sangat sederhana dan bersahaja. Berbicara dengannya terasa akrab namun kalimatnya penuh petuah dan bimbingan bagi generasi muda. Beliau cukup humor,” tutur Olivia Lubis Jansen, aktris remaja kondang pemeran Nikita dalam film Bukan Cinta Biasa yang saat ini sedang hit, usai diterima Gubsu di Gubernuran, belum lama ini.

Olivia berkunjung kepada Gubsu bersama Afgan dan sejumlah aktris maupun crew pendukung film Bukan Cinta Biasa serangkaian tour mereka ke Sumut. Mereka sempat makan mie rebus dan serius mendengarkan perjalanan hidup Syamsul sejak masa kanak-kanak, remaja, pemuda hingga menjadi Gubsu. “Pak Syamsul memang figur bersahaja. Saya begitu ketemu langsung merasa akrab. Orangnya mau mendengar suara anak muda termasuk remaja seperti kami. Dia penuh perhatian. Saya benar-benar merasa dihargai dan mendapat penghormatan bicara dengan Pak Syamsul,” timpal Afgan.

Tak Hanya Dekat Dalam Tawa
Pengamat komunikasi dan politik sepakat, sifatnya yang merakyat itu pulalah yang mengantarkan Syamsul bisa memenangkan pemilihan Gubsu secara langsung pertama ini. Pengamat politik USU Ridwan Rangkuti mengatakan, sikap dermawan Syamsul yang sering menyumbangkan harta bendanya ke rakyat kecil ikut membangun sosok dia sebagai pemimpin yang peduli dengan rakyat miskin.

Ridwan mencontohkan, bagaimana masyarakat miskin di Langkat setiap menjelang Lebaran rela antre berjam-jam di depan rumah dinas bupati hanya untuk mendapatkan sumbangan dari Syamsul. “Ini yang membangun sosok Syamsul sebagai tokoh masyarakat yang dekat dengan rakyat,” katanya.

Namun, jangan berpikir kedekatan ayah tiga anak dan suami dari Hj Fatimah Habibi ini dengan rakyat sebatas kegiatan yang sifatnya hura-hura saja. Bagi Syamsul, sekat-sekat antara seorang pemimpin dengan rakyatnya itu memang sudah saatnya harus diretas. Sebab, dia percaya, contoh yang baik harus diawali dari perbuatan pemimpinnya.

Karena itu pulalah, ketika berkunjung ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Syamsul tak segan-segan mengambil sekop dan masuk ke dalam parit untuk membersihkan sampah yang ada di sekitar masjid di Hutasiantar, Panyabungan. Dia mengajak masyarakat melakukan gotong royong, dan langsung juga mengerjakan ajakan tersebut dengan terjun langsung membersihkan parit.

Syamsul juga tak berpikir panjang untuk mendatangi kawasan yang selama ini terkesan terbelakang. Bahkan, jalan tanah yang mendaki dan bersemak dia lalui untuk menuju kawasan Negeri Limbong, Toba Samosir, untuk berjumpa dan berinteraksi dengan warga di sana.

Tak cukup dalam tindakan yang mungkin terkesan simbolik dan manipulatif. Implementasi keberpihakan terhadap rakyat itu juga diterapkan Syamsul dalam berbagai kebijakannya. Kendati baru setahun masa jabatannya, mantan bupati pertama dari kalangan non-birokrat ini telah menelurkan berbagai kebijakan yang pro-rakyat.

Dalam pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumut tahun 2009 ini, cukup menjadi salah satu bukti. Betapa tidak, Syamsul–lah Gubsu pertama yang menyelesaikan rancangan APBD itu sehingga sudah bisa disahkan tepat waktu di akhir tahun 2008. Dengan cepatnya pengesahan itu, berbagai program yang ditujukan untuk perbaikan kualitas hidup masyarakat tidak lagi terhambat dalam hal pendanaan. Sehingga, proyek-proyek tersebut bisa diselesaikan tepat waktu.

Selain cepatnya pengesahan APBD 2009 itu, keberpihakan Syamsul terhadap rakyat juga juga terlihat dari pengalokasian anggaran di sektor pendidikan sebesar 22 persen. Ini melampaui alokasi anggaran pendidikan di APBN 2009 yang hanya mencapai 20 persen. Tak kurang dari Rp705 miliar dianggarkan untuk program pendidikan dari total APBD Sumut sebesar Rp3,615 triliun. Bandingkan dengan tahun lalu, saat anggaran pendidikan Sumut hanya sebesar Rp278,78 miliar.

Begitu pula anggaran untuk perbaikan infrastruktur yang dialokasikan sebesar Rp790 miliar, naik dari tahun sebelumnya yang hanya dialokasikan sebesar Rp788,18 miliar. Bahkan untuk lebih memudahkan jalur transportasi di kalangan masyarakat ini, Syamsul pun terus memperjuangkan peningkatan anggaran untuk perbaikan jalan ke pemerintah pusat. Dia mengajukan anggaran sebesar Rp7 triliun untuk perbaikan jalan nasional di daerah ini, sementara pemerintah pusat hanya bersedia memberikan Rp500 miliar. Jumlah tersebut jelas jauh dari cukup, mengingat sepanjang 203,8 kilometer jalan nasional ini rusak parah, atau sekitar 15,6 persen dari total 1.305 kilometer jalan nasional yang ada di daerah Sumut.

Keberpihakan terhadap rakyat ini juga ditunjukkannya kepada kaum buruh yang selama ini dikenal sebagai manifestasi masyarakat kelas bawah. Boleh dikata, Syamsul jugalah Gubsu pertama yang mengumpulkan 36 pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawan/buruh masing-masing tepat waktu. Dia menegaskan, penyaluran THR ini paling lama seminggu sebelum lebaran. Dan jika ada pengusaha yang tak memenuhinya dia mengancam akan mengambil tindakan sesuai dengan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 1994.

Begitu pula kepada Kepala Desa di jajaran Sumut. Syamsul dengan tegas meminta kepada pemerintah kabupaten di bawah jajarannya untuk mengalokasikan anggaran gaji Kepala Desa sebesar Rp1,5 juta atau minimal Rp1 Juta per bulannya. Sehingga, berada diatas upah buruh atau ketetapan Upah Minimun Kabupaten (UMK), yang rata-rata sebesar Rp 850.000. “Pemimpin rakyat kok gajinya dibawah gaji buruh, ini nggak pantas. Minimal harus diatas UMK,” kata Syamsul saat menghadiri acara silaturrahmi dan halal bi halal bersama seluruh Kades di Asahan yang tergabung dalam Forum Aspirasi Kepala Desa Asahan (Fakda), di Desa Bangun Sari, Kec. Silau Laut, Asahan.

Terlahir Dari Bawah
Jika ditilik dari sisi perjalanan hidup pria kelahiran 25 September 1952 ini, maka tak mengherankan betapa kini dia bisa menjadi seorang gubernur yang ‘pasaran’. Sebagaimana saksi hidup mencatat, sejak kecil, Syamsul memang sudah ditakdirkan untuk selalu bersinggungan dengan kehidupan masyarakat kelas bawah yang terkadang keras.

Syamsul menjalani masa kecilnya dengan berjualan penjual kue keliling hingga tukang cuci sampan. Tempaan hidup ini semakin mengajarkannya untuk mengetahui apa yang rakyat inginkan dari seorang pemimpinnya. Dari perjalanan hidupnya itu pulalah Syamsul muncul sebagai sosok orang Melayu yang berperawakan besar, tapi lincah ke mana-mana. Ditambah lagi gayanya yang khas, kocak dalam setiap momen, menjadikannya mudah untuk dikenal orang.

Karena itu, saat menjabat Bupati Langkat, Syamsul juga tidak segan-segan menerima masyarakat yang antri di depan rumah dinasnya untuk bertemu dengannya. ‘Ritual’ dia lakukan menjelang berangkat ke kantor sekira pukul 07.00 WIB. Sehari-hari dia mengawali kerjanya setelah Salat Subuh di ruang kerja di rumah dinasnya. Mengenakan kain sarung dan kemeja seadanya, terkadang memakai kaos oblong, Syamsul sudah aktif mempelajari berkas-berkas di meja kerja. Setelah itulah, sederetan staf dan pejabat maupun masyarakat yang berurusan sudah ‘antri’, semuanya diterima oleh Syamsul.

Kerasnya kehidupan masa kecil tersebut juga membuatnya tidak bisa menerima ketidakadilan yang terjadi di depan matanya, khususnya terhadap kaum perempuan. Maklum, sejak kecil, Syamsul yang sudah ditinggal mati sang ayah, harus harus menjalani kehidupan bersama ibunya. “Saya tidak bisa melihat ketidakdilan, apalagi terhadap kaum perempuan. Ini pengalaman saya karena saya pernah melihat mamak saya, sejak saya kecil dia sudah sendiri. Saya paling marah kalau ada perempuan disakiti,” ungkapnya.

Dia bercerita, sewaktu berumur 21 tahun, tepatnya sekitar tahun 1973-an, dia pernah memukul kepala seorang tamu dengan gelas di tempat hiburan. Persoalannya, hanya karena si tamu itu memaksa seorang pelayan perempuan baru yang bekerja di situ untuk menemaninya minum. “Karena dia baru, pelayan itu menolak. Tetapi, tamu itu malah memaksa dan sempat menyiramkan minumannya ke muka pelayan itu. Saya kebetulan ada di situ, tidak senang dengan perlakuan yang seenaknya dari tamu itu. Meski perempuan itu hanya pelayan tetap harus dihormati. Saya bicara sama tamu yang memaksa itu, eh dia malah marah. Akhirnya saya kesal, saya pukul aja pakai gelas yang ada di depan saya waktu itu,” tutur Syamsul blak-blakan.

Tak heran, jika ditanya siapa figur yang paling berjasa untuk mengantarkannya seperti sekarang, Syamsul langsung menyebut kaum perempuan, alias ibunya sendiri. Bagi Syamsul, ada tiga perintah yang mengamanahkan manusia untuk menghormati dan menyayangi orangtua. Pertama, perintah Tuhan sudah tegas agar manusia menyayangi orangtua, kedua perintah adat dan yang ketiga perintah orang-orang terdidik.

Menurut Syamsul, ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri yang dirasakannya dengan menyayangi orangtuanya. ”Barangkali orang yang terdidik, yang secara materi mencukupi, sudah memiliki apa saja, ilmu harta, pangkat, yang menurut kita terlihat cukup akan sangat merasa kehilangan jika kedua orangtuanya sudah tiada. Saya, ayahanda saya sudah berpulang ke Rahmatullah. Kini hanya tinggal emak. Meski saya juga harus siap menerima apa kemungkinan ke depan, tapi jujur saya katakan, selalu ada ketakutan kehilangan orangtua. Ini mungkin manusiawi, namun ketakutan itu selalu ada,” ujar Syamsul dengan mata berkaca-kaca sembari mengemukakan oleh sebab itulah dirinya terus berupaya semaksimal mungkin membahagiakan ibundanya tercintanya itu.

Sumut Butuh Pemimpin
Seorang pemimpin, memang harus bisa dekat dengan rakyatnya. Tak terbantahkan, banyak pemimpin di negeri ini yang tak dilandasi untuk berbuat dan melayani masyarakat. Selalu saja pemimpin itu termakan nafsu kehendak berkuasa untuk kepentingan sendiri, golongan dan kerabatnya. Pengalaman-pengalaman masa lalu memberikan pelajaran berharga. Bahwa sebenarnya rakyat Sumut tak pernah benar-benar punya pemimpin yang selalu memikirkan kehidupannya. Apalagi, pemimpin yang dipilih itu tak pernah dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh wakil mereka yang tak pernah kenal dengan orang yang diwakilinya. Jadi, pemimpin yang terpilih itu hanyalah pilihan para wakil rakyat berdasarkan kompromi-kompromi, sementara rakyat belum tentu setuju dengan orang yang terpilih itu.

Sangat wajar terjadi, jika rakyat merasa tak pernah memiliki pemimpin. Apalagi nasib mereka tak pernah dibela. Malahan, rakyat dibiarkan sendirian berkutat dengan kegetiran hidup, dan segala persoalan yang mengancam kehidupan mereka. Rakyat sama sekali tak punya induk yang melindungi mereka. Tak ada tempat mengadu dan membicarakan setiap persoalan yang ada.

Wajar saja jika ada yang mengatakan Sumut tak butuh penguasa sekarang. Sumut hanya butuh pelayan. Sumut butuh orang yang mampu melayani dan memikirkan rakyat setiap saat. Sumut butuh pemimpin yang selalu akrab dengan kehidupan. Pemimpin yang selalu memiliki waktu menyapa mereka dan bahkan mendengarkan setiap keluh kesah mereka. Masyarakat Sumut butuh pemimpin yang bisa diajak bercanda dan saling tertawa. Pemimpin yang bisa mendengarkan keluh kesah mereka dalam kondisi yang sangat akrab dan bersahabat.

Karena itu, selayaknyalah seorang pemimpin haruslah beranjak dari bawah. Bukan dari kalangan elite yang ‘sok’ paham persoalan masyarakat. Dia haruslah orang yang selalu dekat dengan rakyat dalam berbagai kondisi dan situasi. Dia mestilah orang yang menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita dan persoalan rakyat. Artinya, orang yang selalu berhubungan dengan masyarakat bawah.

Kenapa ini penting? Setidaknya, pemimpin yang seperti itulah yang mengetahui persoalan yang sedang dialami dan dihadapi rakyatnya. Karena itulah, seorang pemimpin yang merakyat, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi desa-desa terpencil, tertinggal, terisolir, terpinggirkan, terbelakang, dan ngobrol dengan masyarakat. Sebab dengan berbuat demikian, akan sangat banyak masukan yang didapatkan serta dapat diperjuangkan begitu dia berkuasa.

Kesan pemimpin yang begitu elite, mutlak harus ditinggalkan. Jika dulu sering ditemui pemimpin sibuk pulang-pergi Medan-Jakarta atau ke luar negeri, kini saatnya kebiasaan itu mesti ditinggalkan. Karena ke depan kita butuh pelayan yang selalu mengabdi untuk kepentingan masyarakat.

Tugas Syamsul memang masih begitu banyak yang belum terselesaikan. Peliknya permasalahan di daerah ini, tentunya tidak bisa diselesaikan dalam sekejap saja. Pun begitu, tindakan aplikatif dan lebih menukik sudah saatnya digeber.

Ada dua hal yang sepertinya harus menjadi perhatian mendesak bagi Gubsu. Pertama, tanpa bermaksud mengecilkan peran para pemimpin sebelumnya, Sumut masih tergolong gagal dalam hal pembangunan ekonomi. Penyebabnya karena sistem pembangunan ekonomi kita masih berpihak kepada masyarakat menengah ke atas, dan menyisihkan problema tingginya angka pengangguran dan kemiskinan di kalangan masyarakat bawah. Sudah saatnya, Syamsul lebih memberdayakan pakar-pakar ekonomi untuk paling tidak diajak urun rembuk memberinya masukan soal ini.

Kedua, Syamsul harus lebih selektif dalam memilih staf-stafnya. Tidak saja di bidang ekonomi, tapi ini juga berlaku dalam bidang pendidikan, politik, kesehatan, dan lainnya. Desas-desus bagi-bagi jabatan harus dimentahkannya dengan menempatkan orang-orang yang memang kapabel untuk menduduki jabatan itu. Ajaran Agama Islam yang menegaskan serahkanlah sesuatunya itu pada ahlinya, layak menjadi perhatian utama Syamsul agar empat tahun masa kepemimpinannya ke depan bisa membuat rakyat tidak lapar, tidak, bodoh, dan tidak sakit sebagaimana telah ditekadkannya.

Untuk menuntaskan targetnya itu, tentu tidak cukup dengan bernyanyi, berbaur dengan masyarakat, dan bersenda gurau. Kerja keras dan tindakan nyata juga dibutuhkan oleh rakyat. Dan Syamsul tentu paham benar akan hal itu.

Kini, wilayah Sumut yang bisa diibaratkan sebagai sarang lebah karena menyimpan berbagai potensi alam di satu sisi dan peluang konflik horizontal di sisi lain, butuh sentuhan tangan dingin seorang pemimpin yang merakyat dan ramah. Kebetulan, si pemimpin itu namanya Syamsul Arifin. (***)

~ oleh rahmadlbs pada 10 Juni 2009.

Satu Tanggapan to “Syamsul: Si Ramah di Sarang Lebah”

  1. akhirnya…………..syamsul di bui bang, salam, Togar Lubis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: