JW Marriot dan Kebodohanku

Kecerobohan kerap kali menghasilkan kesialan. Itulah yang saya alami malam ini. Hanya gara-gara ceroboh membaca SMS, membuat saya terpaksa mondar-mandir dan jadi ‘pesakitan’ di Hotel JW Marriot, Medan.


Uh, mengesalkan. Tapi apa boleh buat, semuanya terjadi tak lepas dari kebegoan saya. Maka itu, saya harus menyikapinya dengan senyum. Menertawakan diri sendiri tidak salah, bukan?

Semua berawal ketika sedang asyiknya menikmati suasana pantai di malam hari, tiba-tiba nada dering SMS handphone saya berbunyi. Bang Farid Wajdi, Wakil Sekteraris Kongres Advokat Indonesia (KAI) mengabarkan, Sabtu besoknya ada pelantikan calon advokat baru di Hotel JW Marriot, Medan.

“Mohon kehadirannya, adinda,” begitu kalimat terakhir yang saya baca di SMS itu.

Mungkin karena saking tenggelamnya dengan suasana perenungan di tepi pantai, saya hanya membacanya sekilas. Tak sedikit pun terekam di otak saya. Karena itu, begitu tiba di Medan sore hari, saya membenamkan diri di kasur saya yang empuk di kosan. Hmmm.. kamar kos saya ini ternyata lebih nyaman dari kamar hotel bintang lima sekalipun.

Saya baru tersentak bangun, ketika seorang teman menggedor-gedor pintu kamar sesaat sebelum adzan Magrib bergema. Dia bermaksud mengajak saya menikmati suasana malam minggu Medan dengan nongkrong di Tavern.

Namun, karena kelelahan yang masih membuncah, saya menampik ajakannya itu. Saya benar-benar ingin istirahat total malam ini, karena besok saya harus kembali bergulat dengan runtinitas kantor yang tentu akan melelahkan.

Sesaat setelah teman saya pergi, rasa lapar langsung menghinggapi. Bergegas saya mandi dan keluar mencari tempat makan malam. Ups, saya kangen menikmati ayam goreng rumah makan langganan saya di simpang Jalan Wahid Hasyim.

Sepeda motor saya arahkan ke sana. Seusai menikmati ayam goreng yang rasanya memang maknyus itu, saya mengaktifkan handphone untuk mengecek kalau-kalau ada SMS penting yang masuk. Betul saja, secara beruntun masuk tiga SMS.

Sayangnya, bukanlah SMS yang kira-kira menghasilkan uang. Malah SMS uang keluar semua. Pertama dari Sofyan, rekan jurnalis Aplaus. Dia mengajak nongkrong malam ini di warkop kumis, kemudian dari adik-adik kampus yang mengajak main futsal, plus dari Saukani, seorang teman kuliah yang kini bekerja di Bank Sumut cabang Panyabungan, yang sekadar menanyakan kabar.

“Akh, tak ada yang jelas ini,” ucap saya dalam hati.

Biar begitu, saya tetap membalas SMS mereka. Beuh, saya tiba-tiba teringat SMS yang saya terima kemarin. Saya buka kembali. Oalah, masih sempat ini, karena waktu masih menunjukkan pukul 19.00 WIB.

Bergegas saya kembali ke kos, karena saat keluar tadi saya hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Setelah mengganti celana dan pakaian, sepeda motor langsung saya geber, zig-zag di jalanan yang ramai, mengalahkan angkot yang lagi mengejar setoran.

Setibanya di Hotel JW Marriot, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Tak ada kekhawatiran sedikit pun bahwa saya akan telat. Sebab, saya maklum benar dengan jam orang Indonesia. Pasti tak ada yang tepat waktu.

Kedongkolan pertama saya alami ketika hendak masuk ke tempat parkir. Pemeriksaannya begitu ketat, sampai-sampai disuruh membuka jok sepeda motor segala. Diperiksa macam-macam. “Inilah akibatnya kalau tidak punya tampang orang kaya,” saya ngedumel dalam hati.

Sesaat setelah sepeda motor saya parkirkan, saya kemudian bergerak menuju loby hotel. Dan lagi-lagi, tas yang saya sandang juga harus diperiksa. Dibuka-buka, di cek sana sini, bahkan kamera yang saya bawa pun dipertanyakan untuk apa kegunaannya.

Yah, untuk motretlah. Masa untuk cukur kumis,” jawab saya kepada penjaga pintu loby.

Dia tersenyum, sembari menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut sebagai prosedural standar yang berlaku di hotel yang sudah mendunia itu. “Silahkan, Pak. Maaf jika agak mengganggu kenyamanan,” ucapnya setelah memeriksa tas saya.

Tanpa menjawab lagi, saya bergegas masuk. Tapi, di lantai berapa yah acaranya itu? Maklumlah, ada 27 lantai di hotel ini. Persoalan ketinggian hotel ini masih terus disoroti rekan-rekan wartawan, karena konon, IMB-nya hanya untuk 12 lantai.

Masa bodo. Saya buka kembali SMS tadi. Tidak ada disebutkan di lantai berapa acaranya. Saat saya memencet tuts HP untuk mengirimkan SMS ke Bang Farid menanyakan tempat persisnya acara pelantikan itu, tiba-tiba seorang petugas hotel mendatangi saya.

“Apa kira-kira yang bisa kami bantu?” tanyanya ramah.

Saya langsung menanyakan tempat pelantikan advokat KAI. Dijawab oleh petugas itu, bahwa acara tersebut mungkin ada di lantai 2. “Silahkan bapak naik lift di ujung,” jelasnya.

Sampai di lantai dua, suasana sunyi menyergap. Yang ada hanya kursi-kursi yang sudah tertumpuk. Apakah acaranya sudah berakhir? Rasanya tidak mungkin, karena dimulai saja pukul 19.30. Sementara ini masih menunjukkan pukul 21.30 WIB.

Di sela kebingungan, saya melihat seorang perempuan yang sedang membersihan karpet mewah yang membentang di lantai dua. “Oh, mungkin di lantai tiga, pak. Coba bapak cek ke sana,” jawabnya ketika saya tanyai.

Bergegas saya naik ke lantai tiga. Suasana sunyi juga menyergap. Tapi sayup-sayup saya mendengar ada suara keyboard. Itu dia acaranya. Benar kan? Saya belum telat, bathinku sembari tersenyum penuh kemenangan.

Setelah putar-putar di lantai tiga dengan mengandalkan instuisi mencari asal suara, saya kembali bertemu dengan seorang office boy. “Itu bukan acara pelantikan KAI. Setahu saya di lantai dua,” katanya.

Lah, mana yang benar ini? Mungkinkah saya yang tidak teliti karena saya tadi tidak sempat mengitari lantai dua seluruhnya. Ketika hendak masuk lift kembali ke lantai dua, saya akhirnya meng-SMS Bang Farid. “Bang, acaranya dah selesai, yah?” Wussss… SMS melayang lancar.

Kali ini, lantai dua saya telusuri lebih teliti. Saya telusuri ruangan per ruangan. Kembali saya bertemu dengan perempuan tadi. “Tidak ada lagi di sini acara, pak,” ujarnya meyakinkan.

Saya semakin bingung, apalagi SMS yang saya kirim tadi belum juga berbalas. Oh, mungkin dia lagi sibuk melantik, makanya tak sempat balas SMS, demikian pikirku.

Saya turun kembali ke lobby. Ketika hendak menuju meja informasi, tiba-tiba dering SMS HP saya berbunyi. “Sudah selesai adinda. Itu acaranya jam 09.30 tadi,” begitu bunyi SMS dari Bang Farid.

Olala, saya buka kembali SMS yang dikirimnya kemarin. Ternyata memang benar, di situ tertulis pukul 09.30 WIB!

Antara mau menangis dan tertawa geli, saya beranjak menuju tempat parkir kembali. Mungkin saya perlu lebih teliti membaca SMS, karena penglihatan saya kemarin dan tadi, acara itu dimulai pukul 19.30 WIB!

Inilah akibatnya. Badan semakin penat, dikira bloon, dan mungkin dianggap oon.. hehehehe…

Hikmahnya, berarti saya harus kembali menikmati malam minggu kota Medan ini. Entah main futsal atau sekadar nongkrong. Biar ga senyum-senyum sendiri nanti di kos mengingat kebodohan dan ketidaktelitian saya tadi…

~ oleh rahmadlbs pada 7 Maret 2009.

Satu Tanggapan to “JW Marriot dan Kebodohanku”

  1. ow… bisa jadi pelajaran penting nih buat kita harus lebih teliti dan tidak ceraboh😀 keep blogging abangda… tulisan lebih panjang hidupnya ketimbang kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: