Rantau, Tunggu Aku di Kotamu

Ini memasuki hari ketiga masa cutiku. Belum ada yang teramat istimewa. Yang berkurang mungkin hanya runtinitas ke kantor. Selebihnya, masih tetap kujalani seperti biasa. Tidur di kosan, baca koran pagi, jalan dan nongkrong di warkop, ngopi di Sun Plaza dan this a great; main fesbuk.

Tapi jelas saya tidak ingin menghabiskan masa cuti yang jarang ini hanya dengan runtinitas seperti itu. Makanya, nanti malam, saya akan memulai perjalanan baru. Mengingat waktu cuti saya tinggal 4 hari lagi, saya harus bisa memanfaatkannya sefektif mungkin.

Hmmm… malam ini saya ajak Anda untuk menyusun rencana.

Insya Allah, perjalanan saya akan berawal dari Stasiun Kereta Api Besar Medan sekitar pukul 23.00 WIB. Dari sana, saya akan naik kereta api Sri Bilah tujuan Rantauprapat.

Ups, kota kecil ini sangat berkesan bagi saya. Tepat setahun yang lalu saya meninggalkannya. Waktu itu, sekira Maret 2008, di suatu malam sekitar pukul 20.00 WIB saya nongkrong bareng teman-teman jurnalis di Pagaruyung. Tempat jajanan malam di Rantauprapat ini kerap kami sambangi bersama-sama teman-teman jurnalis. Di sini kami berkumpul pagi sebelum meliput, dan malam setelah mengirim berita. Tempatnya memang tidak terlalu istimewa.

Jangan Anda bayangkan seperti Warkop Harapan, apalagi Malioboro di Jogjakarta. Pagaruyung, yang berada persis di persimpangan Jalan Veteran dan Sisingamangaraja Rantauprapat ini hanyalah sebuah rumah makan plus penjual martabak di sampingnya.

Namun jika malam, si pemilik warung menyediakan beberapa kursi dan meja di badan jalan, persis di samping rumah makannya. Badan jalan ini hanya berfungsi sebagai alu lintas kendaraan di siang hari. Bila malam, itu tadi, dia berubah menjadi deretan kursi-kursi plastik dan meja-meja kayu.

Di situlah kami kerap duduk berbincang membahas berbagai macam hal, mulai dari korupsi si anu hingga proyek si anu yang tak becus. Dan sebagaimana lazimnya pria, perbincangan pun kadang menyerempet ke masalah ukuran dada buah dada perempuan.. Olala, inilah kami laki-laki; tak pernah bisa lepas dari guyon seks lebih dari satu jam saja.

Menariknya, Pagaruyung ini seakan menjadi kantor berita Labuhanbatu. Maklum, berbagai kalangan berkumpul di situ jadi satu. Ada pemborong, mulai pemborong kelas jalinsum hingga pemborong modal CV doang, ada politikus, ada tukang olah, ada tukang kombur malotup, sekali-kali pejabat daerah, dan tentunya para wartawan. Semuanya tumplek di situ kala malam mulai menjelang. Bahkan, saya pernah berbincang dengan Wakil Bupati Labuhanbatu Sudarwanto di situ. Bukan di rumahnya atau di ruangannya.

Saya masih ingat betul, saat itu kami sedang asyik membahas persoalan tidak beresnya pembayaran pajak galian C salah satu perusahaan pengadaan hotmix, tiba-tiba handphone saya berdering.

Saya lihat nomornya, berawalan 021. “Besok berangkat ke Medan. Kamu ditarik kembali ke Medan,” begitu perintah singkat, tegas dan menyentak yang saya dengar.

Kok cepat kali. Saya kan di sini baru enam bulan?”

Yah, kau dipersiapkan ke Jakarta,” jawab pria di seberang sana sembari terkekeh. Saya tahu itu adalah suara Vitrianda Siregar, redaktur saya di Jakarta.

Saya tak bisa membantah. Karena saya hanya hulu balang. Namun, rona wajah saya langsung berubah. Akankah saya meninggalkan kota yang saya anggap sudah sangat menyatu ini? Ya, saya sudah kadung nyaman di kota ini. Kota yang bagi saya sangat bersahabat.

Kepala saya semakin mumet setelah saya ingat baru satu hari sebelumnya saya memperpanjang kosan. Beuh, gelaplah itu uang kosku, bathinku. Kenapa mendadak begini? Kenapa tidak jauh-jauh hari dibilang? Kenapa harus besok, tidak lusa?

Pertanyaan itu tak bisa saya lontarkan, karena sekali lagi, saya hanya hulu balang di perusahaan media yang menggurita ini.

“Saya mulai besok kembali ke Medan. Saya tidak akan meliput bersama kalian lagi,” ujar saya kepada beberapa teman ngobrol malam itu.

Mereka sempat terdiam. Tak tahu apa yang ada di benak mereka, namun dari rona wajah mereka, saya melihat ada kesan kehilangan. Suasana hening sempat muncul di sela pembicaraan kami yang riuh sebelumnya.

Bah, enaklah rasa si ***** ini. Tak ada lagi yang mangalotup-nya,” ujar Fajar, teman saya wartawan Medan Bisnis, sembari menyebut seorang nama kontraktor yang baru saya beritakan.

Ohh.. tidaklah, kalo mau mangalotup, dari kolong tempat tidur pun bisanya itu,” jawab saya sekenanya.

“Ya udahlah, begadanglah kita ini. Perpisahan. Kemana kita? Jalan Baru yok?” ajak Joko, rekan jurnalis Global, sembari menyebut nama jalan yang dikenal sebagai pusat tempat karaoke dan pub di Rantauprapat.

“Alamak, golaplah ini. Tak ada pulak duit. Besok ajalah sore. Aku berangkat kereta api malam jam sebelas. Kutanduki dulu pejabat-pejabat itu. Selama ini tak pernah aku minta duitnya,” kataku, sok kreak.

Singkatnya, kami melalui malam itu dengan panjang. Tanpa minuman dan tanpa wanita. Hanya ngobrol ngalor ngidul di warnet M3 di Jalan Veteran Medan. Warnet ini memang kerap jadi tongkrongan kami kalau begadang. Maklum, pengelolanya teman kami juga, Ronal, pria Padang yang jago internet.

Dan, akhirnya saya meninggalkan kota Rantauprapat keesokan harinya tepat pukul 23.00 WIB. Saya berangkat bersama Novhan Siregar, Kasi Intelijen Kejari Rantauprapat. Saya beruntung berangkat bersamanya. Bukan saja karena makan dan rokok selama di atas kereta akan lepas, tapi lebih dari itu, dengan punya teman bicara saya bisa sedikit mengurangi kegalauan saya meninggalkan kota Rantauprapat.

Di atas kereta, separuh perjalanan kami habiskan dengan berbincang di kantin. Beragam kemenarikan dan kebersahabatan kota Rantauprapat saya ceritakan kepadanya. Begitu pula dia, bercerita sangat terbuka soal penanganan kasus-kasus korupsi di Labuhanbatu. Namun, karena perbincangan kami tidak dalam kapasitas konfirmasi, saya tentu tidak memberitakannya, apalagi membeberkannya di tulisan ini.

Kembali ke tempat duduk kami di gerbong VIP, saya tetap tak bisa tertidur. Saya merenung. Rasanya baru kemarin saya mengalami rasa yang begitu berat ketika pertama kalinya ditempatkan di Labuhanbatu. Bayangan saya kala itu, kasta saya sebagai jurnalis terjun bebas ke dasar bumi.

Saya yang sebelumnya menjabat redaktur di Harian Sumut Pos (Jawa Pos Grup), tiba-tiba masuk SINDO diletakkan dalam status sebagai wartawan daerah, orang yang selama ini sering saya perintah. “Tapi biarlah. Ini ibarat kopral bergaji jenderal,” demikian saya terus membathin untuk menguatkan semangat saya.

Masih kemarin pula rasanya, ketika Ito, adik kuliah saya di USU, mengantarkan saya ke Stasiun Kerata Api Besar Medan, untuk berangkat ke Rantauprapat. Kota yang sama sekali buta bagi saya. Tanpa saudara, dan hanya berbekal nomor handphone seorang teman.

Di atas kereta yang membawa saya pertama kalinya ke kota dengan tingkat belanja terbesar di Sumut itu, saya seakan mau menangis. Berat rasanya meninggalkan kota Medan, dan seorang kekasih. Sedih, pilu, merasa tersingkir dan beragam emosi lainnya, menyatu dalam benak saya.

Tiba di kota Rantauprapat sekira pukul 05.00 WIB. Dingin pagi menyengat, suasana jalan masih sunyi. Di tengah keramaian penumpang yang menggemasi barang, saya seperti berada di tengah belantara. Sepi di tengah keriuhan, tak tahu arah dan tujuan.

Saya tunggangi saja sepeda motor yang saya bawa dari Medan. Saya ikuti jalan besar itu, karena berdasarkan informasi teman yang akan saya datangi, rumahnya berada persis di depan kantor Golkar. “Ikuti saja jalan besar di depan stasiun kereta api itu,” perintahnya ketika kami berkomunikasi via handphone sesaat kereta api bergerak dari Medan.

Oh, kenapa jalan yang saya lalui ini semakin mengecil. Olala, ternyata saya salah jalan. Arah saya putar kembali. Kota Rantauprapat masih sunyi. Maklum, di kota kecil seperti ini, orang baru benar-benar mulai beraktivitas setelah jam 7 pagi.

Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu hari benar-benar terang dengan duduk dan sarapan di salah satu rumah makan di Jalan Sisingamangaraja, persis di depan kantor DPC PPP. Belum saya menghenyakkan pantat, tiba-tiba terdengar suara, “Abangnya itu? Ngapain abang ke Ranto ini?”

Saya menoleh. Muka saya tiba-tiba dialiri darah baru, saya jabat tangan pria gendut itu. “Saya ditempatkan di sini. Bantulah saya cari kos-kosan,” ucap saya kepada pria yang tak lain adalah junior saya di kampus USU.

Aris, demikian nama anak stambuk 1997 ini. Dulu saya ingat betul, dia kiper tim sepakbola FH USU, dimana saya sebagai penyerangnya. Walau tak pernah meraih gelar juara dalam berbagai even kampus yang kami ikuti, tapi kami sudah sempat saling mengenal walau tidak akrab betul. Kami juga sering latihan sepakbola bersama di lapangan FISIP USU.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, dia memilih untuk melanjutkan usaha orang tuanya di Rantauprapat. Dia termasuk anak yang beruntung, karena orang tuanya mewarisi berbagai macam usaha kepadanya, mulai dari usaha kebun kelapa sawit, rental mobil, rumah makan, hingga pemesanan tiket pesawat terbang. Karena itu, walau tampangnya jauh dari ganteng, tapi dia punya pacar yang cantik dan bersahaja… hehehehehe….

Tiga hari pertama hari di rumahnya, saya langsung menjalani runtinitas sebagai jurnalis. Meliput ke sana kemari. Mulai bersosialisasi dengan pejabat di sana, rekan-rekan jurnalis hingga kalangan tukang olah. Uh, hari-hari saya habiskan penuh dengan intrik, debat dan konfirmasi.

“Berubah konstalasi wartawan sejak kau datang ke mari. Dulu, sebelum kau di sini, wartawan malas nyari berita, hanya ambil dari Humas aja, berita Rp30 ribu. Setelah kau datang, baru heboh nyari berita. Takut bobol orang itu,” ujar seorang teman jurnalis ke saya.

Entahlah, apakah dia bermaksud mengumbang saya, atau memang begitu adanya karakter wartawan di sana sebelum saya datang.

Tapi saya memakluminya. Soalnya, setiap berita dari Humas Pemkab Labuhanbatu, dibayar Rp30 ribu per berita. Sistem pembayarannya per sekali dua bulan, dan ada khusus staf Humas yang bertugas mengkliping dan menghitung berita Humas yang naik cetak di media.

Bayangkan, jika 10 berita ‘mengocok’ Pemkab Labuhanbatu seminggu kita terbitkan, maka paling tidak sudah berpenghasilan Rp300 ribu per minggu. Ups, belum lagi kalau tulisannya berupa feature, itu akan dihargai Rp150 ribu! Fantastis bukan?

Makanya saya kadang geli sendiri melihat kelakuan beberapa rekan wartawan di sana. Ada yang memaksakan berita yang sebenarnya straight news untuk jadi seolah-olah features. Jadi yang muncul adalah berita yang mengada-ada, plus data-data tambahan dari interenet yang sejatinya tidak ada korelasi langsung dengan pokok berita. “Pokoknya panjang, cepek limpullah itu,” cetus seorang rekan wartawan.

Uniknya, ukuran tulisan itu feature atau tidak sangat sederhana. Agak panjang sedikit, dan penempatan di bagian bawah halaman koran, atau mungkin dikenal dengan tulisan kaki., sudah dibilang features-lah itu. Tak heran, banyak teman wartawan yang bisa meraup hingga Rp2 juta perbulan, mutlak dari hanya tulisan features yang mengada-ada itu.

Wah, rasanya saya sudah terlalu panjang menulis soal kota Rantauprapat. Saya kangen. Saya rindu ingin menapaktilasinya lagi. Dan Insya Allah bakal saya jalani besok. Walau mungkin saya hanya sehari di sana, tapi sudah lebih dari cukuplah untuk sekadar menikmati teh susu Pagaruyung, ikan mas hollat di bawah pohon sawit Jalan Sisingamangaraja, plus senda gurau bersama rekan-rekan jurnalis. Dan tentu jika ada kesempatan, ketemu dengan HT Milwan, Pak Bupati yang dulu sempat menggelari saya dengan si cabe rawit…. Hehehehe…

Rantauprapat, tunggu aku di kotamu..

Dari sini, saya akan ke kampung saya di Padangsidimpuan untuk selanjutnya menuju Padang untuk menapaktilasi kota yang pernah saya diami di masa bimbingan tes dulu. Hmmm… akankah rencana ini menghabiskan masa cuti ini semulus dan seindah yang saya bayangkan? Insya Allah….

~ oleh rahmadlbs pada 4 Maret 2009.

Satu Tanggapan to “Rantau, Tunggu Aku di Kotamu”

  1. hehhehe….
    i miss u juga mad

    ralat dikit
    bukan warnet M3 , tapi N3 jl Urip Rantauprapat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: