Ketika Saya Kehilangan

Tanpa disadari kita sudah berada di pertengahan bulan kedua di tahun 2009 ini. Waktu berjalan dan berlari seperti kesetanan bagi saya secara pribadi. Dari kerjaan kantor yang terkadang menjenuhkan dan stressfull, dari malam-malam di warkop kumis penuh senda gurau, hingga kepada perjalanan yang penuh dengan kejutan.

Beragam pembahasan pun bersiliweran. Mulai dari rapat-rapat soal arah peliputan pemberitaan, membahas prospek SINDO, cerita soal Obama sampai pemilu legislatif yang akan datang. Dari perjalanan wanita malam di Retro sampai club hopping di beberapa malam.

Tapi, di detik saya mengetik ini, jam menunjukkan pukul 22.30 WIB, tanggal 17 February 2009. Time flies! Di luar itu semua, let me ponder you with one quick question that unfortunately most of the people don’t ask themselves too often, dan pertanyaan yang sering kali saya tanyakan setiap kali saya menatap waktu yang berlari kencang.

Ya, the lost atau kehilangan!!

Malam ini saya merasakannya. Berakhir sudah, setelah dua tahun saya menikmati sebongkah senda gurau, cerita ngalor ngidul, dan harapan-harapan yang membuncah. Kini, saya harus mengucapkan selamat tinggal dengan semua itu. Saya tidak akan dapat lagi menikmatinya. Setidaknya dari dia yang sudah pernah mengisi waktu malam-malam senggang saya itu.

Seriously, saya sedih saat ini. Mengutip Jet Veetlev, It’s normal to feel sad ketika kita kehilangan sesuatu, terlebih sesuatu itu berarti dan bahkan pernah jadi bagian dari rutinitas hidup. Dan biasanya yang paling menyedihkan adalah rutinitas tersebut. Ketika seseorang atau sesuatu itu selalu mengisi hari-hari kita, di sela-sela kesibukan kerja, dan tiba-tiba sesuatu atau seseorang tersebut hilang.

Sedih, sakit, bingung, sakaw, and insert any emotion in here. Semuanya bercampur di saat yang bersamaan.

Crazy isn’t it? Saya tahu jawabnya, tapi justru itu pula yang saya rasakan sekarang.

Of course, saya percaya semua orang pasti pernah mengalami kehilangan seperti ini. Semua pasti pernah ngerasain sakit yang miris sampai semiris-mirisnya karena kehilangan orang yang dia anggap prospektif untuk jadi temannya berbagi. Tapi, saya yakin pula, banyak di antara mereka yang tak perlu meraung-raung seperti saya.

Mungkin, mereka hanya merasakan kangen sekilas, untuk sesaat dengan mudah melupakannya. Saya juga menyadarinya, dan saya harus mampu mengikuti mereka yang akhirnya beranjak dari lumpur kepedihan itu.

Then life goes on, right? Begitu kata orang pintar yang saya lupa namanya. Saya tidak bisa terus-terusan berkubang dalam kesedihan dan lumpur sedot yang menyiksa.

Okay, saya mungkin bakal bilang kalau saya belum pernah ngalamin rasa sakit sesakit yang pernah saya rasakan sekarang. But guys, Life Fucking Goes ON!

Kalau saya terus memilih diam terpaku, malas bergerak dan menikmati rasa miris yang menyayat-nyayat hati, pada akhirnya saya akan tertinggal oleh hidup itu sendiri, dan nantinya ketika saya memutuskan untuk beranjak, it’s already too late.

Life goes on, rahmad!

Selain satu kalimat di atas, saya percaya satu hal lagi seputar kehilangan ini: Hukum Kekekalan Energi, yang dicetuskan oleh James Prescoot Joule.

Hukum yang mengajarkan kalau energi itu tetap dan tidak mungkin diciptakan atau dimusnakan. Dari alpha sampai akhirnya omega, jumlah energi di alam ini adalah tetap. Mungkin saja energi berubah bentuk, tetapi energi tidak mungkin dimusnahkan.

Now, korelasinya dengan kehilangan ini?

Saya secara pribadi percaya, ketika saya kehilangan sesuatu, saya akan menemukan sesuatu pula. Ketika saya kehilangan seseorang, saya akan menemukan yang lainnya. Sama seperti energi, ketika energi itu berubah bentuk, ia akan muncul di tempat lain dalam bentuk yang berbeda.

Saya pernah merasakan kehilangan seseorang atau sesuatu, tapi dalam waktu yang tidak berapa lama saya menemukan sesuatu atau seseorang yang lainnya. Dan biasanya dalam bentuk yang lebih baik. Saya percaya itu akan terjadi lagi dari kehilangan saya di malam ini.

Hukum kekekalan energi oleh Joule pasti bekerja, dan saya harus percaya itu!

Masalahnya adalah, bagaimana sesuatu itu bisa muncul kembali kalau saya masih berada di tempat dan titik yang sama? Di tempat dan titik yang menghanyutkan dan menyedihkan ini.

Saya harus menguatkan hati dan terus menerus menyuntikkan ke benak saya, bahwa kehilangan berarti saya akan menemukan sesuatu yang baru.

Columbus meninggalkan rumahnya dan terapung-apung di laut dan dia menemukan Amerika.
Benjamin Franklin nyaris kehilangan nyawanya saat bermain layangan dan dia menemukan listrik.
Einstein nyaris gila dan kehilangan semuanya dan dia menemukan momen eureka-nya!

Now please look at the lost I had from the different side.

You lose something to found something much better, you leave something that drag you down to find something that can take you higher, someone to leave you so that you can learn something and run faster and climb higher.
Can you see what I see?

It’s another Law. You will lose, but you will find again. When you lose, you will find. When you lose something, don’t stop! Keep moving, life goes on and the energy is everlasting.

Semoga tulisan ini bisa sedikit mengurangi kegalauanku!

~ oleh rahmadlbs pada 17 Februari 2009.

2 Tanggapan to “Ketika Saya Kehilangan”

  1. I’m waiting for you in our workshop bro.

  2. Waduh, dari dulu saya sudah menunggu momen itu, Jet… Masalahnya, belum pernah diadakan di Medan, sedangkan untuk keluar Medan, saya belum memiliki kemampuan finansial dan waktu yang cukup. Saat ini, saya sedang mencoba mengumpulkan beberapa orang untuk bisa workhsop di Medan, tapi ternyata sangat tidak mudah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: