Saya Munafik!

Kalau boleh jujur, saya sebenarnya paling malas menyikapi persoalan konflik Israel-Palestina yang kini kerap terpampang di layar televisi. Saya tak mau dicap latah. Soalnya, saya hanya mengikuti perkembangannya dari media yang bisa saja bias. Saya juga tidak akan berbicara dari sisi sejarah konflik antara kedua bangsa itu karena saya rada apriori mempelajari sejarah jika sepenggal-penggal. Apalagi, sejarah kerap memancarkan kesubjektifan sisi penulisnya.

Kemarin saya berdebat dengan teman jurnalis di Medan. Debat panas dingin ini meletus sesaat setelah beberapa teman jurnalis menggelar aksi demo penembakan terhadap dua wartawan Reuters di Palestina. Ups, saya tak bermaksud mengatakan demo itu salah. Karena siapapun berhak untuk demo dengan dasar dan tuntutan apapun. Silahkan, sepanjang tidak anarkis dan merugikan orang lain secara langsung.

Siapapun manusia normal, pasti akan terenyuh melihat penyerbuan Israel ke Palestina layaknya upaya genocide. Kita pasti terenyuh bagaimana anak-anak, kaum wanita (hah, ini paling saya miriskan, karena rata-2 cantik-2 bro.. hehehe) dan orang tua menjadi korban perang yang mereka sendiri tak tahu penyebabnya.

Namun, saya harus mengatakan, kita terlalu emosional menyikapi semua itu, bahkan ada pula yang latah. Kita lupa bahwa sesungguhnya kita masih menyimpan borok yang menganga. Sayangnya, borok itu tak kunjung kita obati karena kerap konsentrasi kita tercurah melihat borok orang lain.

Kembali ke cerita perdebatan saya dengan beberapa rekan jurnalis tadi. Yang membuat saya rada tergelitik saat itu adalah, bukankah sesungguhnya persoalan wartawan di Medan –yang sehari-hari kerap menjadi teman kita meliput– masih menganga lebar. Saya menyebut satu contoh saja, betapa banyak di antara mereka yang dipekerjakan tanpa gaji yang memadai, bahkan ada yang tidak bergaji sama sekali. Bagaimana pemilik kapital media memperlakukan pekerja persnya secara semena-mena. Disuruh buat berita sambil jualan koran, tanpa imbalan apa-apa selain hanya diberi kartu pers agar bisa nanduk sana nanduk sini. Sakitnya, bisa pula diberhentikan seenak perut tanpa alasan dan kompensasi apapun!

Lantas, kenapa tidak itu yang kita demo? Kenapa kita jadi lebih mengurusi wartawan kantor berita asing yang memang digaji jauh di atas layak untuk meliput ke sana, ketimbang teman meliput kita sehari-hari di lapangan yang kerap menerima aksi teror karena keterpaksaannya membuat berita tanpa perimbangan dengan dasar fulus?

Beruntung saya bekerja di sebuah media yang relatif mapan. Walau tidak digaji berlebihan, tapi bisalah untuk sekadar hidup sederhana. Hanya saja, bagaimana dengan ratusan teman wartawan lain yang bergaji di bawah UMP per bulan, atau bahkan tak bergaji sama sekali? Mereka keluar dari rumah sembari melukis gambaran siapa yang akan dideren hingga siang, dan setelah dapat kemudian pulang ke rumah sebentar untuk menyerahkan uang hasil derenan itu kepada istrinya agar dibelikan nasi dan lauk makan siang dan malam nanti.

Salah jika mereka ‘merampok’? Jika tidak, anak istrinya makan apa? Kenapa kita, temannya yang kerap bersama sehari-hari, melupakan fakta itu? Kenapa kita tidak mendemo kantor media yang memperlakukan pekerjanya lebih hina dari buruh kelas bawah sekalipun? Kenapa kita tidak mendesak pemerintah agar membuat regulasi penerbitan media sehingga mampu memberikan standar kehidupan yang layak kepada pekerjanya?

Memang, persoalan tidak akan sesederhana itu. Karena ada semacam lingkaran setan yang melingkupi. Terlalu panjang jika saya membahasnya di sini. Namun, saya hanya ingin menegaskan, kita, saya dan Anda, memang cenderung munafik!

Mungkin akan banyak teman-teman yang bilang saya berlebihan jika saya mengatakan bahwa saya kini berada dalam taraf muak melihat kemunafikan yang semakin merajalela di negeri ini. Tragisnya, kemunafikan itu tidak saja lahir dari gedung-gedung birokrasi, rumah-rumah kumuh, komplek perumahan mewah, kantor-kantor media, tapi juga sudah datang dari rumah ibadah. Tidak saja melompat dari mulut wartawan, politikus, pejabat atau orang-orang yang memang ‘diwajibkan’ untuk oportunis, tapi juga dengan kesadaran penuh meluncur dari mulut orang kebanyakan.

Ini negeri anomali memang. Sibuk mengurusi cara orang berpakaian, tapi lupa membahas pemerataan pembangunan yang semakin timpang. Sibuk membahas Perda Syariah di beberapa daerah, tapi habis itu tanpa merasa bersalah membahas bagi-2 proyek dan jabatan. Tiap tahun ramai-ramai naik haji ke Mekah (jamaah terbesar tiap tahun), tapi sepulangnya sibuk mengintip uang masuk dan berprilaku barbar.

Heboh menyiapkan ‘laskar jihad’ untuk diterjunkan ke Palestina, tapi tak pernah berpikir untuk jihad membantu 40 juta rakyat sendiri yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Cepat mengecam serbuan Israel ke Palestina, tapi lambat mengecam vulgarnya prilaku beberapa oknum militer/polri di negeri ini yang arogan dan main tembak.

Kita mengutuk intervensi Amerika Serikat dalam berbagai hal, tapi tidak pernah berupaya menaikkan harkat dan martabat diri sendiri agar bisa dipandang dalam pergaulan dunia internasional. Uh, bagaimana mungkin negara pengekspor babu terbesar di dunia minta dihargai..

Jika terus begini, kita akan terus berjalan di belakang bangsa-bangsa lain yang sudah sedemikian maju. Kita akan terus hidup dalam goa yang kita anggap bagus, tanpa pernah mau menerima kenyataan bahwa ada beberapa hal yang perlu kita ambil dari luar goa itu. Kita jadi cenderung picik, dan menganggap simbol-simbol jauh lebih penting dari apa yang terkandung dalam simbol itu.

Maaf, saya tidak bermaksud meludahi muka sendiri, apalagi muka orang lain…. Thanks… (***)

~ oleh rahmadlbs pada 16 Januari 2009.

Satu Tanggapan to “Saya Munafik!”

  1. Sabar, aspirasi anda sudah saya terimaa,
    Nanti saya guncingkan dulu dengan staf ahli saya, setelah fix nanti saya undang saudara datang ke istana saya.

    Caiyoo,
    Badai Pasti Berlalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: