Malam Ultah Bersama Seorang Wanita

Hari ini resmi sudah masa hidup saya berkurang setahun. Sudah 32 tahun sekarang. Tak terasa, ternyata saya semakin tua…hehehe… Tapi, bukankah para pemikir barat mengatakan hidup dimulai setelah usia 40 tahun?

So, dengan usia sekarang berarti semakin mendekatkan saya kepada permulaan kehidupan yang sebenarnya. Berarti, saya harus lebih giat bekerja agar ketika memasuki usia 40 tahun nanti bisa menikmati hidup. Olala, belum apa-apa saya sudah melambung kemana-mana.

Di usia sekarang masih banyak hal-hal yang harus saya gapai. Beragam target dan rencana telah saya susun, tapi masih banyak diantaranya yang hingga kini masih tetap dalam bingkai rencana. Uh, hidup tak akan pernah berhenti berproses. Itu pasti, sepasti matematika.

Hanya, saya yakin, pertanyaan paling malas saya dengar akan semakin banyak dilontarkan; kapan saya menikah? Jujur, enek mendengar pertanyaan itu. Karena banyak diantara mereka yang bertanya tanpa tahu persoalan. Istilah kerennya asal nyolot aja. Gondoknya, seakan-akan dia yang akan membiayai pernikahan saya dan akan menanggung penderitaan kalau ternyata kelak saya cerai karena memaksakan diri menikah.

Waks, rasanya ingin menghardik orang yang menanyakan itu. Tragisnya, orang yang jarang bersosialisasi dengan saya yang kerap melontarkannya. Sudahlah jarang ketemu dan berkomunikasi, malah ngurusi kapan orang menikah.

Tapi sudahlah, saya tak mau mengurusi orang lain, sebagaimana saya juga tidak ingin diurusi orang lain. Yang jelas, bagi saya menikah bukanlah lomba balap karung, siapa yang duluan sampai dialah yang jadi pemenang. Tidak. Pernikahan adalah keteguhan hati dan kebulatan tekad. Kebulatan tekad memulai hidup baru, dengan kesiapan dan kerelaan seiklas-iklasnya untuk mereduksi kebebasan-kebebasan yang selama ini kita nikmati.

Adalah suatu kewajaran jika setiap orang tidak memiliki kesamaan waktu soal kesiapan dan kesanggupannya untuk menikah. Ditambah lagi, setiap orang tidak punya kesamaan waktu untuk menemukan orang yang tepat yang bisa bersama menggores indahnya masa lajang itu. Jadi, tidak ada yang salah kan?

Lupakan pertanyaan tentang itu. Hidup terlalu indah dilewati dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti itu. Toh, suatu saat saya pasti menuju ke sana. Kapan? Who knows. Biarlah itu masih jadi rahasia Ilahi. Hikmahnya, berarti saya masih bisa leluasa menghabiskan malam dengan wanita manapun yang saya sukai, tanpa takut dipunggungi istri ketika pulang terlalu larut malam… hehehe…

Kini saya lebih tertarik untuk intropeksi. Setahun terakhir hidup yang saya gunakan tentu banyak hal yang sudah saya torehkan. Setahun ini saya pernah merasa melambung tinggi di atas awang-awang, tapi pernah pula serasa terhempas di dasar bumi dan hanya dengan pertarungan mahaberat yang bisa mengangkat saya kembali ke permukaan.

Jika boleh saya catat masa dimana saya melambung itu salah satunya dalam hal perkembangan karier. Di tahun ini saya resmi diikat menjadi karyawan tetap di SINDO/ MNC Grup. Karena itu, ketika banyak teman-teman yang ketar-ketir dengan ancaman PHK, saya malah santai-santai saja.

Yang membuat saya semakin melambung adalah proses yang relatif singkat untuk meraihnya. Bayangkan, saya hanya membutuhkan satu tahun untuk meraihnya dan melampui beberapa rekan yang sudah terlebih dahulu mengabdikan dirinya di perusahaan multimedia ini. Padahal, sebelumnya saya menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk bekerja di perusahaan lama dengan status kontrak terus. Hmm… benar, perjalanan hidup sulit ditebak!

Jadi, ditilik dari karier, tahun terakhir saya boleh dikata sangat prospektif. Walau begitu, saya tetap tak boleh berleha-leha. Jalan panjang masih terbentang dan harus saya lalui untuk semakin memantapkan diri di sini, tentu dengan harapan peningkatan penghasilan dan jabatan.

Namun di sisi lain, tahun terakhir saya ini harus saya catat pula dengan sebuah kepahitan. Hubungan percintaan yang sudah saya bangun selama dua tahun, harus berakhir tanpa hasil apa-apa. Tragisnya, itu terjadi semata bukan karena kemauan saya dan dia, tapi lebih kepada ketidaksetujuan orang tua saya. Lagi-lagi, persoalan perbedaan latar belakang kultur dijadikan alasan.

Tapi sudahlah, saya tak mau bercerita banyak. Saya tak mau mengorek kembali luka lama yang sudah hampir bisa saya jahit rapi. Biarlah itu menjadi sejarah perjalanan hidup. Saya harus menjadi orang yang lebih baik lagi karena saya sangat percaya, bahwa Tuhan akan memberikan jodoh yang baik kepada orang yang baik. Dan saya sangat meyakini, jodoh yang baik itu diawali dari persetujuan orang tua.

Lantas, bagaimana saya menjalani hari ulang tahun saya kali ini? Hmm.. sebenarnya nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya, tepat pukul 24.00 WIB tadi malam, ibu dan adik-adik mengucapkan selamat melalui telepon dari kampung. Sudah. Itu saja. Kami memang tak kenal bagaimana memperingati ulang tahun.

Setelah itu, ada pula beberapa SMS dan telpon dari beberapa teman sekadar mengucapkan selamat. Maaf teman-teman jika ucapan selamat via SMS itu tidak sempat saya balas. Bukan apa-apa, kedua HP saya, entah kenapa sepakat untuk sama-sama lowbat tadi malam. Jadi, saya harus selektif membalas SMS dan menelepon agar HP tetap bisa dipergunakan apabila ada hal-hal yang benar-benar emergency hingga pagi hari.

Biar begitu, jauh di dalam hati saya, ucapan selamat dari kalian sudah lebih dari kado apapun, dan tak cukup sekadar ucapan terima kasih sebagai balasannya. Menjunjung tinggi pertemanan tidak harus diucapkan, bukan?

Selain itu, semalam memang saya menjalani malam yang cukup menarik hingga untuk membalas SMS pun rasanya malas banget. Oya, perlu saya catat di malam ulang tahun saya kali ini adalah perjalanan malam saya dengan seorang wanita. Tidak perlu saya sebut namanya, karena saya tidak sempat minta izin ke dia untuk menuliskan namanya di blog ini.

Wanita berusia 24 tahun itu seorang jurnalis asal Singapura. Tapi, dia berayahkan seorang Indonesia. Sehari sebelumnya, dia menelepon saya dan mengabarkan akan datang ke Medan untuk melakukan liputan kuliner dan life style. Karena kesibukan kerja, saya baru bisa menjemputnya ke hotel tempatnya menginap di kawasan Kampung Madras pada keesokan malamnya, tepat di malam ulang tahun saya ini.

Dari sana saya membawanya ke Warkop Kumis di Harapan. Saya mengenalkannya kepada teman-teman jurnalis dan beberapa rekan fotografer yang biasa mangkal di sana seusai menunaikan tugasnya di kantor masing-masing. Perbincangan menarik pun berloncatan dari mulut kami, apalagi sebagai seorang wanita, teman saya ini tergolong supel, punya wawasan yang luas dan manis lagi, sehingga tak sulit baginya untuk membuka percakapan di lingkungan baru.

Malah dia dengan beraninya mencap saya sebagai si pria sinis..hehehe… Dasarnya, karena kerap saya memberikan tanggapan yang tajam dan menukik ke pokok persoalan, tanpa tedeng aling-aling dan dengan raut wajah yang ketus. Itu kata dia. Tapi, setelah saya pikir-pikir dia tidak sepenuhnya salah.

Hanya, saya tidak memasukkan perubahan ‘kesinisan’ itu menjadi sikap ‘sok santun’ dalam proyeksi pertambahan usia saya ini. Bagi saya, hidup harus tegas, katakan yang perlu dikatakan, sepanjang tidak menusuk langsung ke harga diri seseorang. Terlalu banyak menenggang rasa tidak akan mengantarkan saya kemana-mana, selain ke prilaku sandiwara!

Namun, di sini menariknya teman saya ini. Diskusi dengannya bisa mengarah kemana-mana. Di tengah pencitraan sinisnya, kami bisa membahas berbagai macam hal dengan penuh tawa dan senda gurau. Mulai dari soal artis Indonesia yang menurutnya sudah tidak menunjukkan tampang keindonesiaan, lebih ramah mana presiden SBY atau Megawati saat diwawancarai, perbedaan kehidupan suku di Singapura, hingga kepada kehidupan para pelacur di beberapa daerah seperti Batam dan Surabaya yang pernah saya liput.

Semuanya mengalir lancar, tanpa bertenggang rasa berlebihan. Kami merdeka mengungkapkan isi kepala masing-masing. Uh, saking asyiknya perbincangan itu, saya tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan angka satu dinihari. Hari ulang tahun saya tiba sudah.

Lagi-lagi, tidak ada ucapan seremoni yang berlebihan. Kami malah bergegas hunting foto di dinihari buta itu ke beberapa kawasan di Medan bersama dua rekan fotografer, Roni dan Dedi. Satu orang lagi Reza, teman yang bekerja di Telkomsel.

Kami menembus dinginnya malam kota Medan dengan menaiki sepeda motor. Roni dan Dedi berboncengan, saya membonceng teman wanita tadi, sementara Reza mengendarai sepeda motornya sendirian. Kawasan Kesawan menjadi lokasi pertama. Pertimbangannya, sebagai pendatang dari kota yang jauh lebih modern dibanding kota Medan, ornamen-ornamen tua dan artistik tentu lebih menarik baginya ketimbang kehidupan malam yang glamour.

Gedung-gedung tua dengan ornamen yang masih menggambarkan cikal bakal kota Medan asli jelas menjadi shot yang menarik bagi seorang wanita yang sudah capek dengan kehidupan malam. Apalagi, dengan memilih lokasi shot di Kesawan ini setidaknya kelak dia bisa menunjukkan kepada rekan-rekannya di Singapura bahwa Medan tidak selalu identik dengan kesemrawutan dan preman-preman yang berkeliaran.

Puluhan angle poto kami abadikan di pusat kota Medan ini. Termasuk beberapa poto narsis kami. Beruntung, malam yang sudah semakin larut membuat suasana jalan lengang sehingga memudahkan kami bereksperimen untuk pemilihan sudut angle yang bagus.

Dari sana kami bergerak menuju kantor Walikota Medan. Dari sisi jembatan yang persis berada di samping pusat pemerintahan kota Medan itu tiga kamera berbagai jenis yang kami bawa kembali kami arahkan. Lampu-lampu dan kilauan cahaya malam yang menghiasi langit kota Medan menjadi bidikan, termasuk lampu-lampu yang menerangi kantor Walikota. Dan sama seperti sebelumnya, foto-foto narsis tak ketinggalan pula.

Sesi hunting foto di dini hari buta ini kami akhiri dengan kembali ke Warkop Kumis. Saat saya hendak mengantarkannya kembali ke hotel, dia mengajukan penawaran yang cukup eksentrik; melihat tempat-tempat mangkal para wanita malam!

Sebagai tuan rumah, tentu sudah kewajiban saya untuk mengikuti kemauannya sepanjang tidak ngelunjak banget. Saya mengawalinya dari kawasan belakang Warkop Harapan yang selama ini setahu saya kerap menjadi tempat mangkal beberapa wanita malam.

Benar saja, di tengah keremangan malam, dia masih sempat menyaksikan beberapa wanita penjaja seks yang menunggu klien. Ada yang duduk di dalam warung, ada yang duduk melamun di atas becak mesin, ada yang bercengkrama dengan sesamanya, dan ada yang sedang melakukan traksaksi alot dengan calon penikmatnya.

Wow, masih muda-mudah yah. Kasihan sekali mereka. Berapaan sih tarifnya?” ucap teman saya itu.

Dia semakin berdecak, tentunya bukan decak kagum, ketika saya mengatakan tarifnya rata-rata tak lebih dari Rp500 ribu untuk long time, dan kurang dari Rp300 ribu untuk short time. “Di sini sebagian besar PSK kelas menengah bawah. Jadi biasanya kisaran tarifnya segitu. Kalau kelas atas, mereka tidak lagi mangkal, tapi tinggal menunggu panggilan datang ke hotel. Mereka sudah memiliki perpanjangan tangan di beberapa hotel kelas berbintang,” jelas saya.

Kisaran tarif kelas atas ini juga saya terangkan ke dia. Kebetulan pula, saya pernah melakukan liputan soal ini. Untuk short time berkisar Rp500 ribu hingga Rp2 juta, sedangkan untuk long time paling rendah Rp1 juta.

Pengertian short time PSK kelas atas Medan juga relatif berbeda. Banyak orang berpikir short time itu berarti sekali ejakulasi, padahal sebenarnya tidak. Bagi PSK kelas atas Medan, short time ukurannnya selama 3 jam, terserah mau berapa kali Anda sanggup ejakulasi. Dus, selama tiga jam itu Anda tidak ejakulasi sama sekali, maka permainan berakhir dan silahkan lanjutkan sendiri dengan tangan Anda!

Saya menjelaskan juga kepadanya bahwa banyak diantara wanita malam Medan yang sesungguhnya terjebak jatuh ke limbah lendir itu. Mereka dibawa dari kampung halamannya (tanpa bermaksud streotipe, namun statistik yang terungkap menunjukkan banyak yang berasal dari Jawa Barat), dengan diming-imingi pekerjaan menarik dan gaji yang menggiurkan. Sadar pendidikan rendah, para wanita ini pun tidak berpikir panjang dan mau saja dibawa.

Tragisnya, setelah terjun ke dunia lendir ini, banyak pula diantara mereka yang tak bisa lepas karena terus menerus terjerat hutang kepada germo. Dasar hutangnya macam-macam. Tapi tak bisa dinafikan pula, banyak juga yang akhirnya menikmati pekerjaan ini dan enggan melepaskan diri. Bagi mereka, pekerjaan apa lagi sih yang paling gampang menghasilkan uang selain ngangkang dan mendesah manja?

Sayangnya, penjelasan saya ini sepertinya bukan hal baru bagi teman saya ini. Dari liputannya ke berbagai negara telah mengantarkannya menemukan fakta tersebut sebelumnya. “Ya, saya telah dengar banyak yang seperti itu. Mereka menjadi korban trafficking. Tapi, tidak hanya di sini lho, di Rusia, India dan China juga sama. Di sana banyak juga wanita malamnya dengan modus dan jebakan yang sama,” jelasnya.

Agar semakin memuaskannya melihat wanita-wanita malam, saya kemudian mengarahkan sepeda motor saya ke kawasan Iskandar Muda. Bisa ditebak, kendati waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat dinihari, puluhan wanita malam masih terlihat berjejer menunggu hidung belang di trotoar jalan. Ada yang berdiri, ada yang duduk di atas becak dan ada pula yang sedang bertransaksi.

Teman saya ini semakin mendesis. Itu belum cukup, sis, batinku. Sembari mengantarkannya kembali ke hotel, saya membawanya melalui Jalan Gajah Mada. Puluhan waria pun berjejer di dekat kuburan menunggu kliennya. Si teman tiba-tiba tersentak kaget ketika saya katakan ‘eksekusinya’ tak jarang dilakukan di balik-balik kuburan di pinggir jalan itu!

Yah, inilah perjalanan malam ulang tahun saya. Last but not least, saya benar-benar beruntung dikarunia teman-teman yang mengasyikkan. Saya hanya ingin meminta agar tetaplah kalian menjadi sahabat. Jangan jemu untuk memberikan nasehat, teguran, saran maupun kritikan, walau maaf tidak semuanya harus saya akomodir.

Saya hanyalah manusia biasa, yang terkadang sinis, sentimentil dan bisa meraung-raung ketika didera kesakitan. Terimakasih sobat, saya tak bisa lagi berpanjang-panjang mengucapkan puji-pujian buat kalian, karena saya sudah lelah dan mengantuk.

Akh, ultah saya hari ini kayaknya akan saya habiskan setengahnya untuk tidur.

Medan, 8 Januari 2009, pukul 5.00 WIB.

Sebagai tambahan pengetahuan, saya cantumkan beberapa orang hebat yang mencatatkan sejarahnya di tanggal 8 Januari ini. Siapa saja mereka?

KELAHIRAN:

1823, Alfred Russel Wallace, Tokoh Geografi asal Inggris (wafat 1913)

1902, Carl Rogers, Psikolog Pencetus Teori Humanistik

1923, Prof Dr Mahar Mardjono, mantan Rektor UI (wafat 2002)

1935, Elvis Presley, Musisi Rock n roll (wafat 1977)

1942, Junichiro Koizumi, Perdana Menteri Jepang ke-56 (2001-2006)

1946, Setio Rahardjo, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)

1964, Bahdin Nur Tanjung, Rektor UMSU

1967, Ferry Salim, selebritis dan presenter

1974, Rieke Dyah Pitaloka, artis dan penulis

1977, Rahmad Nur Lubis, HEHEHE….

1986, Miyabi alias Maria Ozawa, Bintang Film Porno Jepang.

MENINGGAL:

1642, Galileo Galilei, Ilmuwan Italia (lahir 1564)

1855, Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional (lahir 1785)

1967, Djamaluddin Adinegoro, Tokoh Pers Indonesia (lahir 1904)

1969, Mayjen Basuki Rahmat, Mendagri Kabinet Dwikora III (lahir 1923)

2008, Mohammad Sadli, Ekonom Senior (lahir 1922)

~ oleh rahmadlbs pada 7 Januari 2009.

3 Tanggapan to “Malam Ultah Bersama Seorang Wanita”

  1. Selamat Ulang Tahun ya bang…..

  2. happy belated bday…
    sepertinya perjalanannya mengasyikkan..

  3. Hahahaa…
    koq tak bilang kammm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: