USU yang Selalu Saya Kenang

Hmmm… sejak zaman layar TV masih hitam putih dan hanya bisa ditonton dengan antena bambu menjulang ke langit, hingga sekarang bisa ditonton cukup melalui layar handphone, ternyata karakter mahasiswa tak berubah-ubah juga; jago ngeles dan ngumbang!

Tapi, seperti kata orang Melayu, taunya awak diumbang tapi awak sooorrr.. Itulah yang saya rasakan ketika tadi malam seorang adik junior yang aktif di dunia pers kampus Universitas Sumatera Utara (USU) menghubungi handphone saya.

Dia meminta saya menulis kisah-kisah dan pengalaman saya ketika kuliah di kampus yang berada di kawasan Padang Bulan Medan itu. Katanya, bakal diterbitkan di majalah kampus sebagai refleksi akhir tahun. Waks, bukankah saya belum jadi apa-apa? Kenapa kalian tidak minta kepada alumni-alumni USU yang lebih hebat dan bertabur di seantero negeri ini?

Cecaran pertanyaan itu sempat saya layangkan. Pertanyaan saya dijawabnya cukup diplomatis berbau ngeles bin agak ngumbang. Dia bilang, yang dibutuhkan bukan orang hebat, tapi orang yang bisa menulis agar lebih gampang dipahami. “Kan kalau abang yang nulis, akan lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Ya sudahlah, apapun motivasi mereka meminta saya menulis soal USU dan mau dimanapun mereka letakkan tulisan ini, tentunya bukanlah persoalan penting. Yang jelas, bercerita tentang USU tetap menarik bagi saya, karena tidak akan lepas dari romantisme sejarah hidup saya.

Namun sejujurnya, sebelum memulai tulisan ini, saya telah memendam kekhawatiran akan terperangkap menulis kisah pribadi yang pasti sangat subjektif. Bukan apa-apa, hampir semua hal yang saya ingat tentang USU, jelas punya keterkaitan dengan aktifitas saya selama berada di USU.

Karena itu, USU yang saya ulas adalah USU yang saya lihat, rasakan dan alami. Sekali lagi, tentu sangat subjektif berdasarkan pendapat dan kisah saya secara pribadi yang tidak bisa digeneralisir.

Sebagai seorang mahasiswa yang berasal dari daerah, kesan wah langsung menghinggapi benak saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus USU pada pertengahan tahun 1995. Maklum, sejak lahir hingga masa SMA saya lalui di Padangsidimpuan, sedangkan masa bimbingan tes dan UMPTN saya lalui di kota Padang.

Pengumuman kelulusan juga saya ketahui dari koran. Dan malamnya dengan diiringi tatapan penuh harapan, kedua orang tua saya melepas keberangkatan saya menuju Medan.

Perjalanan darat sekira 9 jam dengan jarak sekitar 400 km dari Padangsidimpuan menuju Medan saya jalani di atas taksi L-300. Beragam angan-angan dan harapan membuncah di benak saya, plus kebanggaan tersendiri bahwa saya akan menjadi mahasiswa USU, universitas yang sangat dibanggakan oleh masyarakat Sumut, setidaknya di kala itu.

Perkenalan pertama dengan kampus USU diawali ketika sehari saya tiba di Medan. Saya dibawa keliling-keliling untuk melihat kondisi kampus oleh sepupu saya yang terlebih dahulu berstatus mahasiswa USU. Wah, kampus yang teramat besar dan luas. Mungkin hampir menyamai separuh dari luas pusat kota Padangsidimpuan kala itu.

Awal-awal kuliah di Fakultas Hukum USU saya lalui dengan penuh kekhawatiran. Kekhawatiran terkena drop out (DO), karena kata senior jika tidak rajin belajar dan tidak patuh pada senior akan rawan terkena DO. Hah, ini yang buat saya kerap tersenyum jika mengingatnya sekarang. Apa pula hubungan senior dengan DO?

Karena itu, di tahun pertama kuliah sesungguhnya tidak ada hal yang layak saya catat dalam dinamika kemahasiswaan saya. Semuanya saya lalui layaknya mahasiswa ‘pasaran’, yaitu dari kampus ke kos dan dari kos ke kampus. Begitu dan terus begitu.

Dunia kemahasiswaan saya mulai berwarna memasuki tahun kedua masa kuliah. Saat itu, saya mulai terdoktrinisasi bahwa dunia mahasiswa bukanlah hanya kampus dan kos.

Saya mulai keluar dari belenggu gua mahasiswa kos-kosan ketika ada sebuah pengumuman dengan kertas ditempel di dinding pintu masuk Sumber. Pengumuman itu berisi kesempatan menjadi staf pengajar atau tentor di bimbingan tes Dakwah yang masih berada di lingkungan perumahan dosen USU.

Setelah konsultasi dengan beberapa senior yang terlebih dahulu menjadi tentor, saya pun mengirimkan surat lamaran. Siang hari, panas terik, ketika saya tiba di gedung Dakwah, yang persis berada di belakang Masjid Dakwah USU. Tak ada orang. Kunci tertutup. Maklum saat itu lagi masa libur seusai bimbingan tes intensif.

Surat lamaran yang saya bawa pun, saya masukkan saja lewat celah di bawah pintu kantor administrasi. Syukurlah tidak sempat dimakan tikus.

Beberapa hari kemudian, seorang rekan saya sesama mahasiswa FH USU, Rahmat Mulia Hasibuan memberitahu bahwa ada panggilan dari Dakwah. Saat tiba di sana, ternyata dia juga mendaftar. Saat itu ada beberapa tentor yang mendaftar. Diantaranya saya, Hasanul (FE USU), Saukani (FT USU), Riyadi Bardansyah (FT USU), dan lain-lain yang saya tidak ingat lagi namanya.

Sejak pertengahan 1997, saya pun memulai karier sebagai tentor. Saat itu bimbingan tes belum menjamur seperti sekarang. Bahkan hanya ada tiga bimbingan tes di Medan, sementara animo lulusan SMA untuk mengikuti bimbingan tes ini sangat tinggi karena didasari kekhawatiran sulitnya masuk PTN di kala itu.

Setahun kemudian, aroma reformasi mulai berhembus kencang. Memasuki tahun 1998 benar-benar menjadi tahun penuh kesibukan bagi saya. Karena tak ingin ketinggalan isu-isu politik, saya pun mulai bergabung dengan kelompok studi bernama ‘Madani’. Lokasi diskusinya di salah satu kos-kosan di Gang Keluarga, tepatnya di belakang kampus AMIK MBP sekarang.

Saya menjadi satu-satunya mahasiswa FH USU yang ikut di kelompok studi itu. Mayoritas diisi oleh mahasiswa Fakultas Sastra, FISIP dan FMIPA. Tak heran, karena pada saat itu mahasiswa FH USU cenderung apolitis dan kerap dikotakkan dalam belenggu rivalitas antara HMI, GMNI dan GMKI.

Lagipula, jangan Anda bayangkan saat itu membicarakan politik bisa sebebas sekarang. Salah-salah Anda bisa ditangkap petugas intel, baik dari kepolisian maupun kemiliteran. Siapapun institusi negara merasa berhak untuk menangkap mahasiswa yang terlalu ikut campur politik dengan tudingan melakukan makar.

Ancaman hukumannya tidak tanggung-tanggung; hukuman penjara seumur hidup! Mendengarnya saja jidat saya sudah nyeri duluan.

Di kelompok diskusi ini kami menggelar pembahasan setiap malam Kamis. Tapi malam Minggu, seluruh anggota yang berjumlah hampir 20 orang kembali berdiskusi untuk menentukan topik yang akan dibahas pada malam Kamis berikutnya. Saat itu pula ditunjuk tiga orang sebagai fasilitator yang menyediakan buku literatur dan menghadirkan pemateri.

Saya masih ingat benar, beberapa pemateri yang pernah kami hadirkan. Diantaranya bang Turunan Gulo yang kini menjadi anggota KPU Sumut, Taufan Damanik (kini menjadi dedengkot salah satu NGO besar di Medan), Ucok Kalimatua (mantan Ketua Badko HMI), dll.

Semua persoalan politik kami bahas di kos-kosan yang tak seberapa luas itu. Dan tentu dengan perasaan waswas apakah kami tidak akan diciduk intel sesaat keluar dari sana. Apalagi, beberapa rekan aktivis mahasiswa dari UGM dan Forkot Jakarta sempat juga hadir dalam diskusi tersebut.

Setahun setelah tumbangnya Soeharto, keberadaan pemerintahan mahasiswa (Pema) USU yang kala itu disebut dengan Senat mulai direposisi. Jika sebelumnya orang-orang yang duduk di Senat adalah orang-orang yang berbau campur tangan rektorat, kini harus melalui Pemilu Raya layaknya Pemilu legislatif dalam suatu negara demokrasi.

Sebagai partai politiknya mahasiswa diberi kebebasan untuk membentuk Kelompok Aspirasi Mahasiswa (KAM). Kami dari kelompok studi Madani pun tak tinggal diam untuk belajar berpolitik praktis kecil-kecilan dengan membentuk KAM Pembebasan. Saya diangkat menjadi Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KAM Pembebasan di FH USU dengan ketuanya Marisi Simanjuntak, senior saya stambuk 1994.

Dari KAM itu, saya kemudian bisa duduk di Majelis Mahasiswa Universitas (MMU), lembaga yang berperan laiknya MPR dalam sistem ‘ketatanegaraan’ pemerintahan mahasiswa. Sayang, setahun masa tugas saya di MMU itu boleh dikata tidak berfungsi, bahkan setahu saya tak pernah menggelar rapat sama sekali.

Walau demikian, kini sering saya tak percaya dengan mobilitasku saat itu. Pagi kuliah, siang mengajar di bimbingan tes, rapat di kampus, rapat di Imatapsel USU, mengunjungi saudara, diskusi di kelompok studi, menulis artikel untuk dikirim ke beberapa media, dan sebagainya. Selain di KAM Pembebasan, saat bersamaan saya juga menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan (Imatapsel) USU, suatu organisasi primordial yang menghimpun mahasiswa-mahasiswa asal Tapsel yang kuliah di USU.

Namun semuanya membuat saya mulai berlaku tidak adil. Perkuliahan tanpa saya sadari mulai saya abaikan. Akibatnya, indeks prestasi (IP) saya di kampus perlahan-lahan terus melorot, bahkan sempat menyentuh nasakom. Sebenarnya saya tidak boleh menyalahkan beragam aktivitas itu, karena banyak mahasiswa yang bisa melakukannya tanpa mengganggu perkuliahan.

Tapi tidak demikian halnya dengan saya. Yang menjadi persoalan terbesar menurut saya adalah aktivitas mengajar di bimbingan tes. Sebab, masa intensif bimbingan tes biasanya selalu bersamaan dengan masa ujian semester. Saya pernah melalui ujian semester dengan bolak-balik Pangkalan Berandan-Medan.

Pagi sehabis subuh saya berangkat dari Pangkalan Berandan untuk mengikuti ujian pukul 8 pagi di kampus. Mending kalau cuma satu mata kuliah, ini bisa tiga mata kuliah. Sementara malamnya saya masih menghapal materi untuk disampaikan kepada siswa di bimbingan tes.

Huh, memori otak saya tidak sanggup untuk menyimpannya semua, apalagi dengan model belajar sistem kebut semalam. Maka itu, seusai KKN di Langkat pada tahun 1999, aktivitas di bimbingan tes ini resmi saya hentikan.

Terlepas dari itu, selama di USU, saya juga menikmati bagaimana enaknya dikirim kemana-mana dengan fasilitas USU. Bahkan kami selalu punya istilah, bagaimana caranya agar uang kuliah yang dibayarkan bisa imbang dengan uang yang diperoleh dari USU. Caranya, ya itu tadi, berusaha agar bisa memakai uang USU untuk mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan di luar.

Lewat USU pula saya bisa ke Garut, Jawa Barat untuk ikut Latihan Kepemimpinan. Walaupun kami harus berangkat dengan kapal laut. Perjalanan yang melelahkan, karena dari Jakarta, kami masih harus ke Garut dengan naik bus termurah. Usai pelatihan, dengan sisa dana yang ada, kami sempatkan untuk ke Bandung. Setidaknya untuk membuktikan bahwa cewek-cewek Bandung secantik yang banyak diceritakan orang Medan.

Dan, kami kembali pulang dari Jakarta ke Medan dengan menggunakan bus Medan Jaya. Dalam perjalanan selama dua hari dua malam itu kami harus betul-betul berhemat dan kerap menahan selera ketika bus berhenti di rumah makan. Semuanya karena uang saku yang sudah semakin menipis.

Karena itu, kadang-kadang saya suka kesal, kalau ada adik-adik dari USU datang mengeluhkan dana ketika hendak berangkat untuk menghadiri kegiatan kemahasiswaan ke luar daerah. Yang mereka keluhkan bukan apa-apa, tapi dana yang tak cukup buat beli tiket pesawat pulang pergi! Sesuatu yang kami anggap sangat mewah untuk alat transportasi mahasiswa di zaman kami.

Terlepas dari semua itu, saya harus mengatakan, USU laksana rumah yang sebenarnya bagi saya. Bahkan saat wisuda, kedua orang tua saya begitu bangganya berpose di depan Biro Rektor. Mereka lega sekaligus terharu, karena akhirnya saya bisa jadi sarjana, walau harus melalui masa kuliah selama enam setengah tahun.

USU telah membuat saya mendapatkan apa yang saya miliki hari ini. Namun, kesuksesan tidak bisa diraih dengan membalik telapak tangan atau tenggelam dalam romantisme semata. Semuanya harus melalui proses, kerja keras dan doa. Kini dan entah sampai kapan, saya masih ada dalam jalur tersebut.

Saya yakin, banyak teman sekampus dulu yang masih dalam jalur itu. Mari bermetamorfosa di bidangnya masing-masing. Semua punya cerita target dan tujuan. Namun yang pasti, bagi saya, USU bagai jalan yang menunjukkan cahaya terang.

Kelak jika saya sudah punya anak dan membawanya melintas di kampus USU, saya akan selalu bilang ke anak-anak saya, “Dari sinilah Papa merajut masa depan untuk nenek, kamu dan mama….” (***)

Medan, 29 Desember 2008

~ oleh rahmadlbs pada 29 Desember 2008.

4 Tanggapan to “USU yang Selalu Saya Kenang”

  1. …Alhamdulillah ….senang dan suka saya Tulisan Abang…..Hoass..

  2. singkat padat dan jelas sesuaiharapan hahahai..salam abangda mamaf gk bisa ketemu di jkarta, horas!

  3. Hehehe.. Masih ada waktu lain, Bud…

  4. Mauliate..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: