Di atas Pesawat Menuju Batam

Sungguh, kendati bukan sekali dua kali saya naik pesawat terbang, tapi penerbangan menuju Batam kali ini meninggalkan cerita tersendiri bagi saya. Bahkan, lebih menakutkan ketimbang penerbangan dari Medan menuju Jayapura sekalipun.

Untuk pertama kalinya saya ditugaskan kantor untuk mengikuti pelatihan jurnalistik di Batam. Kami berangkat enam orang. Semuanya merupakan rekan-rekan jurnalis dari Medan.

Tidak ada keistimewaan tersendiri bagi saya ketika pertama mendengar diberangkatkan ke Batam. Sebab, bagi saya, Batam bukanlah kota yang teramat istimewa. Kalau tidak boleh dikatakan jauh dari menantang dan jauh dari sumber peliputan yang menarik.

Di kuping saya, Batam lebih dikenal sebagai kota maksiat. Kota tempat orang Singapura dan Malaysia untuk menghabiskan uang dengan berwisata seks. Maklum, yang saya tahu Batam adalah gudangnya prostitusi, tempat ratusan (mungkin juga ribuan) wanita menjajakan tubuh bahenolnya dengan harga terjangkau bagi apek-apek dari Singapura dan Malaysia.

Karena itu, ketika sehari sebelumnya saya ditelepon sekretaris redaksi untuk ikut ke Batam, yang ada dalam pikiran saya hanya satu; hmmm… sedahsyat apa sih dunia malam Batam itu?

Sekira pukul 11.00 WIB, saya sudah tiba di Bandara Polonia Medan. Sebelumnya, kami sudah berjanji bertemu di dalam gerai KFC di pelataran Bandara Polonia. Tak lama ngalor ngidul, kami kemudian meminta seorang teman jurnalis yang biasa meliput di Bandara Polonia untuk mengurus boarding pass.

Segala urusan administrasi keberangkatan diselesaikannya. Tepat pukul 12.30 WIB, pesawat Mandala Airlines yang membawa kami mulai lepas landas dari Bandara Polonia.

Duduk di sebelah saya Pak Syaiful Ishak. Dia menjabat Wakil Pimpinan Umum di tempat saya bekerja. Saya lumayan senang ketika dia yang duduk di samping saya. Ups, bukan berarti saya orang yang suka menjilat atasan lho, tapi karena Pak Syaiful ini memang sudah sering bolak-balik Medan-Batam.

Dia sudah tahu benar seluk beluk Batam. Jadi, dengan duduk di sampingnya, berarti saya bisa memanfaatkan waktu 45 menit jadwal penerbangan dari Medan menuju Batam untuk berbincang-bincang soal liputan menarik dari kota yang punya otorita tersendiri itu.

Saya berkeyakinan, di sela-sela pelatihan saya bisa manfaatkan untuk menilisik fenomena Batam. Walau saya tahu saya akan menjadi orang yang kesekian mengulas soal itu, tapi alangkah sayangnya bagi seorang jurnalis jika mengunjungi suatu kota tanpa membawa oleh-oleh tulisan!

Sayang, harapan saya tidak sesuai dengan kenyataan. Baru sekira lima menit pesawat mengudara, Pak Syaiful tiba-tiba sudah minta izin kepada saya untuk tidur. “Aku tidur dulu yah. Semalam aku kurang tidur,” ujarnya sembari memiringkan kepalanya ke arah jendela.

Waks, ingin rasanya saya menarik kepalanya agar tegak kembali. Namun, niat itu buru-buru saya urungkan, karena saya tidak ingin karier jurnalis saya di kantor berakhir di atas pesawat ini.

Lantas, dimana empat teman saya yang lain? Mereka duduk di deretan kursi persis di belakang saya. Sayup-sayup saya dengar mereka berbincang sembari tertawa-tawa kecil. Masa bodo dengan apa yang mereka perbincangkan. Mungkin mereka sedang membahas kenapa kepala Pak Syaiful semakin botak.

Iya juga sih, pikirku sembari melirik ke kepala Pak Syaiful yang botak dan terlihat semakin miring ke arah jendela dibuai tidur pulasnya. Saya tersenyum sendiri bermain dengan pola pikir yang saya bentuk.

Hingga akhirnya pikiran saya menerawang kepada jatuhnya pesawat Mandala Airlines di Jalan Jamin Ginting, Medan, tak jauh dari ujung landasan Bandara Polonia, beberapa tahun lalu.

Saat kejadian di pagi hari sekira pukul 09.00 WIB itu, saya sedang tidur pulas di kamar kos saya di Jalan Jamin Ginting juga. Berkisar 2 kilometer dari tempat kejadian. Kebetulan saat itu, ibu saya lagi datang dari kampung (Padangsidimpuan) dan sedang berada di kamar kos saya pula.

Tiba-tiba, tubuh saya terasa digoncang. Dengan mata masih berat, saya lihat ibu mendorong-dorong tubuh saya. “Hei, bangun. Orang ramai di jalan. Lihat dulu ada apa itu?” ujar ibu, setengah berteriak.

Dasar kantuk tidak bisa diajak kompromi, saya tarik kembali guling untuk melanjutkan tidur nyenyak saya, sambil bergumam pelan, “Ah, paling ada orang tabrakan.”

Sebagai kawasan yang padat lalu lintas, Jalan Jamin Ginting, persisnya di dekat Simpang Sumber USU, kecelakaan memang sudah kejadian biasa.

Woi, kecelakaan dalam arti sebenarnya lho. Bukan kecelakaan dalam arti ketika seorang cewek memberikan virginitasnya karena cinta yang menggebu-gebu dan seuntai harapan agar sang pacar tidak pindah ke lain hati. Itu mah kecelakaan yang dicari-cari. Dinikmati bersama tapi dampak negatifnya dirasakan sendiri oleh si cewek.. hahaha…

Selama dua tahun nge-kos di kawasan itu, tidak terhitung lagi saya melihat kecelakaan terjadi di sana. Ups, sekali lagi, yang saya lihat kecelakaan dalam arti harfiah. Oke-lah biar nggak bertele-tele saya sebut saja dengan tabrakan. Macam-macam, mulai dari sesama angkot, sepeda motor dengan angkot hingga antara sepeda motor dengan orang.

Dan biasanya, sesaat setelah kejadian itu orang akan ramai berkerumun. Apalagi kalau setelah tabrakan ditingkahi pula dengan pertengkaran seru antara sesama pengemudi. Tapi tidak lama, habis itu orang akan berangsur-angsur pergi sambil menguntai senyum simpul karena mendapatkan tontonan yang menarik.

Belum lama saya tertidur lagi, ibu kembali mendorong-dorong tubuh saya. Nyaris saya terguling dari tempat tidur. “Lihat dulu. Katanya di sana ada pesawat jatuh menimpa rumah orang,” tukasnya, kali ini dengan teriakan yang lebih keras dari tadi.

Tak mau durhaka, saya paksakan berdiri. Saya lihat ke jalan. Benar saja, di jalan yang biasanya ramai oleh kendaraan, kini sudah diramaikan oleh orang yang berlari-lari menuju ke arah Simpang Pangkalan Masyhur.

Dengan masih bercelana pendek dan kaos singlet, saya bergegas ke pinggir jalan yang hanya berjarak 10 meter dari kos-an. “Ada pesawat Mandala jatuh. Katanya di dalam pesawat itu ada gubernur,” ujar seorang pria yang saya tanyai.

Awalnya saya tidak percaya. Bukan tidak percaya dengan jatuhnya pesawat itu. Tapi, saya tidak percaya Gubernur Rizal Nurdin ada di dalam pesawat naas tersebut. Maklumlah, orang Indonesia kan suka melebih-lebihkan cerita. Bagaimana mungkin seorang Gubernur naik pesawat Mandala, dia pasti naik Garuda, pikirku.

Terlepas dari itu, jatuhnya pesawat, apalagi di tengah badan jalan, tentu bukan berita biasa. Saya bergegas mandi sembari minta izin ke ibu untuk melihat ke lokasi. “Itu makanya jangan tidur aja,” ujar ibu saya dengan senyum penuh kemenangan.

Hanya butuh sekira lima menit bagi saya untuk tiba di lokasi. Saya parkirkan sepeda motor sekira 1 kilometer dari lokasi kejadian. Lagi-lagi saya manfaatkan kelebihan orang Medan yang pintar membaca peluang bisnis; memarkirkan sepeda motor di tempat parkir dadakan dengan tarif lima ribu rupiah!

Sungguh, pemandangan miris. Pesawat itu telah gosong dan hancur berkeping-keping. Asap masih mengepul. Beberapa rumah di sekitarnya terbelah dan ikut kecipratan api. Bau menyengat tercium jelas. Perpaduan antara bau daging dibakar dengan bau avtur. Saya tak sanggup melihat dan mencium baunya lebih lama.

Bagaimana persisnya, mungkin Anda sudah mengetahuinya dari pemberitaan-pemberitaan yang marak di media beberapa tahun lalu.

Ups, masih asyik mengingat kejadian itu, tiba-tiba saya merasakan guncangan di atas pesawat. Guncangan yang makin lama makin keras, seperti berada di dalam mobil yang melaju kencang di atas jalan berlubang.

Biasa memang kondisi seperti ini dirasakan di dalam pesawat. Katanya sih karena badan pesawat memasuki awan. Tapi, ini sangat berbeda. Goyangannya melebihi dari yang pernah saya alami. Dan, tiba-tiba, saya merasakan pesawat seperti meluncur jauh ke bawah.

Pak Syaiful yang tadi telah tertidur lelap di sebelah saya tiba-tiba tersentak. Dia melirik ke arah saya sebentar, lantas mengkerutkan kening dan memicingkan matanya. Suasana di atas pesawat benar-benar mencekam. Teman-teman di belakang saya pun sudah terdiam, padahal tadi mereka asyik berbincang sembari tertawa-tawa kecil.

Turunnya pesawat semakin terasa. Turun seperti anjlok, bukan menukik. Saya lirik ke sebelah kiri. Seorang ibu menggenggam erat tasbihnya sembari mulutnya komat-kamit.

Perasaan saya semakin tidak tenang, ketika mendengar pramugari yang kebetulan berdiri tak jauh dari tempat duduk saya mengucap asma Allah berkali-kali sambil memegangi deretan kursi kiri kanan. Tidak keras memang, tapi terdengar jelas di gendang telinga saya.

Dia saja yang tiap hari terbang kemana-mana, merasa begitu waswas. Pikiran buruk langsung menghinggapi. Ini pasti ada sesuatu pertanda buruk. Apakah pesawat ini akan bernasib sama dengan pesawat Adam Air yang terjun bebas ke laut dan hingga kini mayat penumpangnya tidak pernah ditemukan? Oh, Tuhan!

Tak kurang dua menit, saya rasakan pesawat kembali berusaha naik. Tapi tiba-tiba berguncang lagi. Kembali seperti turun lagi. Saya lihat ke jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB. Olala, bukankah harusnya kami sudah mendarat?

Pesawat rasanya masih tetap tidak stabil. Namun, sudah mulai terasa naik kembali. Masih terasa bergoncang, tapi tidak sekeras tadi lagi. Saya masih tidak tenang. Situasi selama 10 menit itu, sudah cukup membuat telapak tangan saya basah!

Hingga beberapa detik kemudian, terdengar pengeras suara berbunyi, “…dalam beberapa menit lagi kita akan mendarat di Bandara Hang Nadim…”

Begitu suara itu terdengar, Pak Syaiful baru berbicara ke saya. “Gawat kali tadi yah. Sudah sering saya bolak balik pesawat Medan Batam, baru kali ini saya rasakan kayak tadi,” ujarnya masih dengan menyisakan wajah cemas.

Saya tak menanggapinya. Bagi saya, lepas dari drama menegangkan itu jauh lebih penting daripada menanggapi komentarnya yang telat.

Saya pasang safety belt. Saya lihat ke arah si pramugari tadi berdiri. Dia tidak lagi di situ. Bahkan, saya tidak melihat dia mendatangi penumpang sembari menyuruh memasang safety belt sebagaimana biasanya dilakukan seorang pramugari ketika pesawat akan landing. Mungkin sesaat setelah drama tadi, dia sudah duduk di belakang menenangkan diri dan menunggu pesawat landing. Ibu di kursi sebelah masih menggenggam tasbihnya, tapi mulutnya tidak lagi berkomat-kamit.

Pelan-pelan pesawat mulai bersiap landing. Saya melirik ke arah jendela. Lautan luas terhampar ditingkahi pulau-pulau kecil di sekelingnya. Saya tak tahu pasti apakah di pulau itu ada penghuninya. Yang saya bisa pastikan, saya tak akan sanggup berenang menuju pulau itu jika seandainya 10 menit yang lalu badan pesawat ini meluncur ke laut!

Wong berenang di kolam renang Selayang saja saya hanya sanggup sekali lintasan 50 meter. Tapi, bukankah pesawat masih bisa tergelincir saat landing seperti yang terjadi di Bandara Adi Sucipto baru-baru ini?

Waduh, pikiran saya kembali tidak enak. Saya perketat safety belt. Saya baru menyadari ternyata di sekitar Batam saat itu sedang hujan lebat ketika badan pesawat semakin dekat ke darat. Tetes hujan semakin terlihat jelas. Alamak, ini berarti landasan basah. Mampukah pesawat ini mendarat mulus? Jangan-jangan tergelincir dan masuk lagi ke laut yang persis berada di dekat landasan Bandara Hang Nadim? Dan bukankah beberapa waktu lalu pesawat Adam Air juga pernah tergelincir di Bandara Hang Nadim ini?

Walah, kali ini saya menyesal banyak tahu berita. Sedikit banyaknya itu ambil peran membuat saya paranoid ketika mengalami kisah yang nyaris sama.

Wuessss… pesawat akhirnya menukik turun dan meluncur di landasan yang basah. Saya pejamkan mata. Detak jantung saya masih belum stabil benar.

Perlahan, luncuran pesawat semakin pelan hingga akhirnya berhenti. Huah…detak jantung saya perlahan-lahan kembali ke iramanya. Saya ambil tas dan bergegas keluar dari badan pesawat.

Di lorong dari badan pesawat menuju ke ruangan bandara, saya hanya tersenyum tipis ketika beberapa teman mengajak bercanda soal kejadian tadi. “Tahu kalian, kenapa si Rahmad pucat kali pas tadi pesawat turun dan bergoncang? Itu karena dia belum kawin. Kalau tadi pesawat jatuh, aku belum merasakan enak, gitu pikirnya.. hahaha,” ujar Arifin, teman saya yang memang biasa bercanda.

Masa bodo. Yang jelas perjalanan sekitar 55 menit tadi, rasanya jauh lebih menegangkan dari perjalanan 10 jam dari Medan menuju Jayapura. Saya tak tahu apakah perjalanan kembali ke Medan hari ini akan mengalami hal yang sama. Tuhan, jangan lagi. Saya belum kawin!

Kini saya sudah berada di Hotel Nagoya Plaza Batam, salah satu hotel berbintang empat di kawasan pusat kota Batam. Pelatihan selama dua hari telah saya lalui. Untungnya, tidak sepadat yang saya duga sehingga saya masih bisa menyisakan waktu untuk menulis dan mengamati sekelumit dunia malam Batam yang memang fenomenal.

Terkait itu, akan saya tulis sesampainya di Medan. Karena sejujurnya, ketika saya menulis ini, saya tidak tenang-tenang amat. Jika saya paksakan menulis soal dunia malam Batam sekarang, saya khawatir tidak fokus dan membuat Anda tidak jegang membacanya.. hahaha….

Tunggu saya sampai Medan, biar saya buat Anda jegang!

~ oleh rahmadlbs pada 25 Desember 2008.

Satu Tanggapan to “Di atas Pesawat Menuju Batam”

  1. mana cerita dunia malam selanjut nya bang, belum jegang pun ini. hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: