Medan Macet, Salah Siapa?

Persoalan kemacetan di Kota Medan, sejatinya, bukan hal luar biasa lagi. Buktinya, ketika kota ini mendapat penghargaan WTN dua tahun lalu atas ketertiban lalulintasnya, banyak pihak bertanya-tanya, apa dasarnya?

Dan, tahun ini, ketika tim penilai WTN kembali turun untuk melihat kelayakan Medan diberi penghargaan ketertiban lalu lintas, banyak pihak mencibir. “Tak perlu diamati, bisa dinilai kok kalau Medan ini tak layak mendapat penghargaan lalulintas,” demikian komentar banyak pihak, termasuk dari kalangan kepolisian sendiri.

Komentar-komentar miring itu jelas tak salah. Lihat saja kondisi lalulintas di kota ini. Kita tak butuh waktu berhari-hari untuk menemukan fakta bahwa hampir setiap hari kemacetan luar biasa terjadi di kota ini. Bagi Anda yang kerap melalui Jalan Maulana Lubis hingga ke Jalan Prof M Yamin harus siap-siap ngedumel karena waktu Anda tersita di jalanan yang macet.

Saya juga kerap mengalami hal sama ketika berangkat dari rumah di bilangan Setia Budi ke kantor saya di bilangan Helvetia. Kemacetan mulai terasa dari kawasan Simpang Titi Bobrok, perempatan Jalan Sei Babura, simpang Sei Sikambing, hingga di perempatan Helvetia. Kondisi ini tahun ke tahun semakin parah. Ada apa?

Berbagai teori sudah dikemukakan banyak pakar. Mulai dari semrawutnya planologi kota, banyaknya Angkutan Kota (Angkot), hingga sampai ke peningkatan jumlah kendaraan yang tak sebanding dengan pertumbuhan jalan.

Berbagai teori itu ada benarnya. Peningkatan jumlah kendaraan di kota ini memang sungguh menakjubkan, didukung lagi jor-jorannya pihak leasing menawarkan kredit kendaraan dengan Down Payment (DP) murah.

Demikian juga dengan planologi kota. Harus diakui, semrawutnya pembagian wilayah untuk pertokoan, perkantoran dan tempat tinggal ikut ambil peranan melahirkan kemacetan. Sebab, masyarakat terpaksa harus mondar mandir di jalanan untuk kepentingan-kepentingan berbeda. Belum lagi tak terencananya penambahan jalan untuk mengantisipasi jumlah kendaraan yang terus meningkat.

Lantas, bagaimana solusinya? Berbagai alternatif sudah berloncatan dari mulut para pakar. Ada yang bilang, saatnya Medan membangun jalur khusus angkutan kota (busway) dan memperbanyak jalan layang. Ada pula usulan agar angkutan massal segera direalisasikan. Bahkan, ada yang lebih ekstrim lagi, mengusulkan agar Pemerintah Kota Medan membangun jaringan kereta api bawah tanah (subway).

Berbagai alternatif solusi itu ada benarnya. Namun, merealisasikannya tentu butuh waktu dan dana yang tak sedikit. Dan, di sisi lain, juga tak menyelesaikan masalah secara utuh.

Mari kita berkaca ke Jakarta. Beragam alternatif di atas, kecuali subway, sudah mereka lakukan. Toh, kemacetan luar biasa terus terjadi. Jalan-jalan layang yang dibangun untuk mengurangi kemacetan, kini sama macetnya dengan jalan biasa.

Nah, di balik beragam teori itu, sepertinya kita melupakan salah satu hal yang sangat krusial, yaitu disiplin!

Harus diakui, di semua sektor kita memang tidak disiplin. Kalau ada orang mengatakan korupsi adalah budaya kita, maka tidak disiplin pun demikian juga.

Dalam berlalulintas di kota Medan, sikap tak disiplin inilah yang senantiasa menjadi tontonan sehari-hari di jalanan. Angkot saling mendahului dan berhenti senaknya, atau malah ngetem sembarangan di mulut jalan.

Pemandangan seperti ini dapat kita temui di setiap sudut kota, mulai dari Amplas, Sei Kambing hingga Pinang Baris. Angkot sudah benar-benar tak perduli lagi akan etika, keselamatan penumpang, pemakai jalan, apalagi undang-undang lalulintas. Merupakan pemandangan sehari-hari, kemacetan panjang terjadi hanya karena angkot yang berhenti di mulut jalan.

Sejatinya, bukan supir Angkot saja yang mencerminkan ketidakdisiplinan berlalulintas. Kita, Anda atau saya, pernah menjadi pelakunya. Bukankah kita lebih suka menyalip banyak mobil lain yang antre di lampu merah, walau kita harus menggunakan jalan orang lain atau bahu jalan, agar berada di depan saat lampu hijau menyala?

Kenapa itu bisa terjadi terus menerus? Polisi juga ikut ambil bagian. Lho kok? Ya, polisi kita telah teruji untuk tidak konsekuen dalam tugasnya menegakkan undang-undang lalulintas. Sudah tak terhitung razia dilakukan oleh polisi kita, baik yang resmi atau ‘sembunyi-sembunyi’, toh tak banyak berarti. Hasilnya, setelah razia selesai, kemacetan lalulintas kambuh lagi.

Persoalan sebenarnya, menurut saya, dalam razia polisi kita lebih dididik untuk menemukan kesalahan-kesalahan formal dan administratif, seperti helm, SIM atau STNK yang habis masa berlakunya.

Polisi kita sepertinya menutup mata dengan kesalahan-kesalahan kongkret di jalan raya. Polisi tak bertindak apa-apa bila pengemudi berhenti atau membelokkan kendaraan tanpa mengindahkan peraturan, menyeberang seenaknya, atau memarkirkan kendaraan di persimpangan jalan sementara puluhan kendaraan di belakangnya menunggu untuk bisa jalan.

Tak perlu razia pun, kalau polisi sedikit rajin berkeliling-keliling, hal seperti ini dengan mudah bisa ditemui. Semudah kita menyaksikan kendaraan melaju melebihi kecepatan maksimum. Zig-zag di jalanan seakan jalan itu hanya kepunyaan ayahnya.

Atau, kita juga dengan mudah menyaksikan kendaraan yang keluar jalur dan menggunakan trotoar (yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki) di saat jalan macet, sehingga memaksa orang yang patuh antre untuk berhenti ketika mereka masuk lagi ke jalur yang seharusnya.

Agaknya, tak perlulah kita berdebat panjang dan menghadirkan pakar luar negeri untuk mengeliminir kemacetan di kota ini. Tak perlu pula kita merancang metode-metode di awang-awang. Yang subway-lah, memperbanyak jalan layang-lah, angkutan massal-lah. Semua itu percuma jika pengendara kita masih tidak disiplin.

AKBP Royke, mantan Wadir Lantas Poldasu, mengaku malu dengan kondisi lalulintas. Tapi, apakah Pak Royke sudah pernah mengajari polisi di daerah ini untuk tidak sekadar mencari-cari kesalahan formal pengendara saja?

Sebab, sumber kemacaten, utamanya bukan karena si pengendara tak punya SIM atau STNK, tapi lebih kepada pembiaran terhadap kesewenang-wenangan yang mereka lakukan di jalan raya. (***)

Medan, 19 Desember 2008

Rahmad Nur Lubis

SINDO

~ oleh rahmadlbs pada 19 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: