Menguak Ayam Kampus Medan (1)

Sabtu, beberapa malam lalu, untuk tujuan investigasi, saya menemani seorang wanita bertubuh semampai, berkulit putih dan berambut sebahu, berbelanja di salah satu plasa di Medan.

Ya, Anda boleh percaya boleh tidak. Saya tidak punya tujuan apa-apa menemaninya, selain ingin menuliskan kisah wanita penjaja seks yang berasal dari kalangan mahasiswi atau istilah kerennya ayam kampus.

Saya sepakat, investigasi ini jelas tidak bisa mewakili secara utuh, tapi setidaknya bisa memberikan gambaran kepada Anda bahwa sesungguhnya mahasiswi ayam kampus itu bisa saja kini duduk di samping Anda!

Kenapa saya mengkhawatirkan itu? Karena hasil investigasi saya menunjukkan, mahasiswi ayam kampus tidak dapat dilihat dari penampilan luar. Ada memang yang berpakaian dan berprilaku getek seperti pekerja seks komersial pada umumnya. Tapi sesungguhnya, yang berprilaku alim, lembut tutur kata dan pendiam, justru lebih banyak.

Belum usai saya menuntaskan apa yang ada di pikiran, tiba-tiba ponsel milik Ayu, sebut saja begitu nama ayam kampus yang saya gandeng, berdering sesaat kami baru keluar dari pelataran plasa di kawasan Kampung Madras tersebut.

Saya sempat melirik, pada layar Nokia E90 itu, tertulis 0811xxxxx.

“Bapak,” kata Ayu sambil menunjukkan ponselnya.

Gadis berambut setengah pirang yang kerap berpakaian ketat sehingga menonjolkan sex appeal-nya yang membuat mata lelaki tak berkedip ini, lantas berbicara sebentar dengan si penelepon.

Tak lama, dia menutup pembicaraan dengan kecupan mesra.

Setelah menyeka tetes keringat di keningnya, gadis berwajah ayu sesuai dengan namanya itu mengaku pria yang barusan meneleponnya tadi berprofesi sebagai pengusaha. Menurut dia, laki-laki paro baya yang telah beristri itu, seperti biasa setiap Sabtu malam selalu meminta ditemani.

“Biasa, paling dugem,” singkatnya.

Dugem alias dunia gemerlap, belakangan, menjadi bagian dari keseharian Ayu. Gadis asal Kisaran, Kabupaten Asahan, ini tak pernah membayangkan akan melakoni jalan hidup seperti itu. Tapi, lantaran tidak ada pilihan, Ayu tidak bisa menolak. “Saya mau kuliah. Kalau kuliah saya sudah selesai, saya nggak mau menjalani hidup seperti ini,” kata Ayu, yang mengaku seluruh biaya hidup dan kuliahnya ditanggung pria yang dipanggilnya ‘Bapak’ itu.

Namun, kemurahtian sang ‘bapak itu tidaklah gratis..tis…tis… Ayu harus rela menuruti kemauannya, termasuk melayani nafsu arus bawah laiknya seorang istri kepada suami.

Diakui Ayu, mula-mula perbuatan itu membuatnya risi, tetapi belakangan dia tidak peduli. Yang ada di kepalanya saat ini cuma satu, bagaimana agar kuliahnya cepat selesai.

“Mengandalkan uang kiriman dari kampung gimana mau tamat. Untuk bayar makan bulanan saja sudah habis,” jelasnya mencari pembenaran.

Tidak sedikit mahasiswi yang merangkap sebagai wanita simpanan seperti Ayu. Beberapa hari sebelum saya menghabiskan malam bersama Ayu, saya juga sempat berbicara banyak dengan BM, E dan Y, mahasiswi di kampus A di kawasan Padang Bulan, Medan, kampus U di Jalan Sisingamangaraja, dan kampus I di Jalan Sei Deli.

Awalnya, saya rada kurang percaya kalau mereka merupakan ayam kampus. Sebab, mereka terlihat seperti mahasiswi pada umumnya. Bergaul sesama mahasiswi dan memiliki kekasih dari kalangan kampus juga.

Memang tidak semuanya yang berstatus sebagai simpanan. Sebagian besar diantara mereka bekerja freelance. BM misalnya. Mahasiswi yang berasal dari Tanah Karo ini mengaku tidak mau jika ada pria yang menawarkannya sebagai simpanan. Alasannya, dia merasa tidak bebas. Apalagi, menurut pengakuannya, kendati butuh uang, tapi dia juga mempertimbangkan tampang pria yang ingin menikmati tubuhnya.

“Rugilah kalau jadi simpanan, apalagi om-om itu kan membosankan. Enaknya sekali-sekali aja main ama mereka, pas lagi butuh-butuhnya duit. Kalau ada cowok cakep yang mau bayar, kan lebih bagus,” papar gadis berambut sebahu dan berkulit kuning langsat ini sembari tersenyum manis saat kami berbincang di coffe shop lantai II salah satu pusat perbelanjaan besar di Medan.

“Biasanya saya mendapatkannya (pria yang ingin menikmati tubuhnya) di pub atau diskotek,” tambahnya seraya menyebut pub T sebagai salah satu tempat mangkalnya.

BM juga mengaku selalu menyiapkan kondom sebelum ‘bertempur’ dengan ‘kliennya’. Bahkan, dia akan menolak tegas dibayar berapapun jika ‘kliennya’ tak mau memakai alat pengaman tersebut.

Sama seperti Ayu, BM juga menjadikan alasan ekonomi yang membuatnya kecebur ke kancah prostitusi. Semula, hingga tahun kedua kuliah, BM mengaku belum ada persoalan menyangkut biaya kuliah dan biaya hidupnya di Medan.

Namun, memasuki tahun ketiga, seiring dengan melonjaknya harga-harga, kiriman orang tuanya semakin tidak cukup membiayai hidup gadis yang kos di Jalan Jamin Ginting, Medan, ini. “Daripada kuliahku terhenti, apa boleh buat beginilah. Bonyok (orang tuanya-red) tidak tahu aku kerja gini,” kata BM yang mengaku keperawanannya direnggut sang pacar saat dirinya masih duduk di bangku kelas 2 SMU.

Saat saya tanya bagaimana proses awalnya hingga dia kecebur menjadi ayam kampus, cerita BM agak paradoks dengan alasan ekonomi tadi. Saat itu, katanya, dia sering diajak bekas teman satu kosnya ke tempat hiburan malam. Di sanalah kemudian dia bertemu dengan beberapa pria yang mengajaknya kencan.

“Semula aku mau enjoy aja. Apalagi aku lihat temanku itu sepertinya udah biasa. Ya udah, begitulah jadinya, sekalian aja diuangkan. Apalagi, uang dari kampung juga nggak cukup,” tukas gadis yang akan menyelesaikan kuliahnya tahun depan.

Dia bertekad, akan mengakhiri petualangannya begitu kuliahnya selesai.

Hmm.. mudah-mudahan saja, walau saya sendiri tidak terlalu yakin akan tekadnya itu.

Berdasarkan penelusuran, saya juga menemukan satu fakta menarik. Ternyata, sebagian besar mahasiswi ayam kampus di Medan berasal dari daerah. Dan, lagi-lagi, uang kiriman yang tidak cukup menjadi kambing hitam.

Cukup ambivalen memang. Sebab, sebelum menjadi ayam kampus, mereka mengaku telah kehilangan keperawanan setelah direnggut bekas pacar.

Uniknya lagi, mereka tidak saja memberikan kehangatan tubuhnya kepada pria yang mau membayar. Tapi, mereka juga akan memberikan kepada pacarnya secara gratisan. “Biasa sih kalau dengan pacar mainnya di kamar kos. Yah, kan lebih puas dengan pacar. Kalau dengan pria-pria lain itu sih ngarapkan duitnya aja, nggak ada enaknya,” ungkap BM lagi.

Apakah sang pacar tahu? Kali ini Ayu dan BM punya jawaban berbeda. Ayu mengaku pacarnya tidak tahu menahu. Memang, hal itu sempat ditanyakan sang pacar setelah mendengar selentingan dari beberapa teman kampusnya. Namun, Ayu berhasil meyakinkan pacarnya bahwa selentingan itu seolah-seolah tidak benar.

Sedangkan BM mengaku pacarnya telah tahu, tapi sejauh ini belum mempermasalahkannya. “Aku janji ke dia akan berhenti jika sudah tamat. Dia mau mengerti,” ungkap BM.

Kendati tubuhnya telah dinikmati beberapa pria, mereka tetap berharap suatu saat bisa menjadi istri dan ibu yang baik. “Pastilah, siapa sih yang mau kerja seperti ini. Suatu saat saya akan berhenti dan menjadi istri yang baik buat keluarga. Saya tak ingin anak-anak saya kelak merasakan seperti yang saya rasakan sekarang,” kata BM, kali ini dengan mata menerawang jauh. (***)

Medan, 17 Desember 2008

rahmad nur lubis

SINDO

~ oleh rahmadlbs pada 17 Desember 2008.

9 Tanggapan to “Menguak Ayam Kampus Medan (1)”

  1. seperti itukah? bukankah PRIA YG BAIK itu utk wanita yg baik?

  2. bg,bs mnta no hp tuh ayam……….?

  3. mdh mdhan cepat sdr tu ayam kmpus

  4. @ Luka: Logikanya seh gitu.. Tapi ga semua berjalan sesuai dengan logika kan??😉

    @ Pimen: Waduh, off the record tuh…🙂

    @ Andi: Mudah-2 an doamu didengar.. hehehe…

  5. Kasian banget cowoknya,…Atau cowoknya juga jadi simpenannya tante-tante.

  6. silahkan dipesan ayamnya disini.
    yang masih muda banyak. wkwkwkwkw

  7. pa g’ ada ya cara menolong orang2 yang g2 tu??

  8. benarkah di kota ini begitu…
    Aku jd takut terjebak krna aq taun ini mw kuliah di kota medan ini….
    Oy ada tips untuk menghindarinya gk??

  9. ayam berkokok mau gk ya?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: