Si Lubis dan Hakim Kita!

Saat membaca koran, tiba-tiba teman saya nyeletuk, “Ah, dari mana pula jalannya si Bagir Manan ini jadi marga Lubis.” Teman saya tak mengigau. Dalam kunjungan ke Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), untuk meresmikan gedung Pengadilan Negeri, beberapa waktu lalu, sekelompok pengetua adat setempat menabalkan marga Lubis kepada Ketua Mahkamah Agung RI tersebut.

Tak ada yang salah dalam penabalan marga itu. Wajar bagi setiap pejabat yang berkunjung ke suatu daerah pemakai marga. Jika kelak jadi pejabat tinggi, bukan tak mungkin ketika berkunjung ke Pariaman, saya diberi marga Koto atau Piliang. Hebat tenan!

Karena itu, saya tak sepakat jika dikatakan pengetua adat Madina kini terkena penyakit latah. Wajar dan sangat manusiawi. Sebab, bagi masyarakat batak, termasuk Mandailing dan Angkola yang sangat mengagung-agungkan hamoraon, hagabeon dan hasanggapon, punya pejabat satu marga menjadi suatu kebanggaan tersendiri.

Namun, layakkah bangga Ketua Mahkamah Agung kini bermarga Lubis? Entahlah. Yang jelas, saat ditabalkannya Bagir Manan jadi marga Lubis, nun kira-kira 4000 KM dari sana, seorang ibu rumah tangga menjerit histeris di Pengadilan Negeri Medan. Dia merasa dipermainkan oknum hakim PN Medan yang menurutnya memerasnya Rp20 juta untuk menahan terdakwa yang telah menipunya hampir Rp 1 Miliar dalam bisnis gula. Ruang PN Medan sontak ricuh, tapi tak lama.

Kenapa? Karena cerita sama sebenarnya bukan hal luar biasa terjadi di gedung PN Medan. Sudah wajar, sewajar Bagir Manan diberi marga Lubis. Beberapa tahun menjadi wartawan dan melakukan peliputan di PN Medan , sudah sering saya menemukan kasus seperti itu, bahkan lebih parah lagi.

Pernah, seorang hakim lari tunggang langgang dari ruangan sidang PN Medan. Biar cepat, sang hakim terpaksa mengangkat jubahnya dan menjinjing sepatunya. Jendela ruang utama yang tingginya hampir 1 meter, dia lompati tanpa ancang-ancang. Sementara di belakangnya, puluhan orang mengejar dan berteriak-teriak.

Pamor hakim, yang waktu saya masih kuliah di FH USU ibarat mahkluk yang turun dari planet lain untuk memberi keadilan, seolah berubah menjadi anak ayam disiram air panas. Beruntung, hakim itu lebih dulu masuk ke ruangannya dan menguncinya rapat-rapat. Amanlah dia dari amukan massa , polisi pun kemudian datang.

Hakim itu dikejar-kejar massa korban MLM yang tak puas atas sidang yang terkesan ditunda-tunda. Mereka mensinyialir ada fulus (baca: uang) di belakang keputusan tersebut dengan tujuan agar masa tahanan terdakwa habis.

Sangat wajar, sewajar Bagir Manan diberi marga Lubis. Bau fulus dalam sidang di pengadilan bukan cerita baru lagi. Ada bisik-bisik di kalangan wartawan yang nge-pos di PN Medan , jika suatu perkara rawan fulus, maka sidangnya sulit untuk diketahui kapan. Atau, biasanya pagi hari kala wartawan belum nongol.

Jelas, sidang yang tidak terawasi dan tidak terekspos mendorong terjadinya kompromi-kompromi berbau korup. Dalam situasi seperti ini, keadilan biasanya berpihak kepada yang berkuasa atau yang beruang. Itu tidak rahasia lagi.

Mungkinkah hakim berbuat salah? Mungkin saja, hakim juga manusia. Berdasarkan asumsi ‘hakim bisa salah’ itulah maka proses peradilan dibuat bertingkat. Namun, masih PN di Medan, pernah terjadi seorang pengedar sabu-sabu dihukum 4 bulan penjara. Tak lama, seorang pengisap ganja yang ditangkap dengan barang bukti selenting ganja dihukum 1,5 tahun. Aneh bukan? Padahal seharusnya dalam perkara-perkara yang sifatnya sangat umum, semua hakim tentulah punya dasar sama atau setidaknya mirip untuk menentuan mana yang adil dan tidak.

Sayangnya, kewajaran putusan semacam itulah yang hingga kini sering tak tercermin di pengadilan. Perkara sederhana, seperti utang piutang biasa, bisa terjadi keputusan berbeda, padahal tak ada hal luar biasa terungkap di persidangan. Akibatnya, menebak keputusan hakim di pengadilan terkadang bagaikan menebak pertandingan sepakbola. Sulit dipastikan sebelum wasit meniup pluit panjang. Lagi-lagi sama seperti sepakbola, mafia pun sering ditengarai ikut bermain menentukan hasil akhir. Dan unsur uang bermain di dalamnya.

Di tengah kondisi seperti itu, Bagir Manan buat kebijakan baru yang termaktub dalam Pedoman Perilaku Hakim. Dikatakan, Hakim boleh menerima hadiah pada acara tertentu. Alasannya, gaji, tunjangan, dan fasilitas yang diberikan negara kepada para hakim belum memadai. Berarti, Bagir sadar benar bahwa uang sering bermain di lembaga yang dia pimpin.

Tragisnya, untuk membasmi itu Bagir harus berlindung di bawah jargon gaji rendah. Bukankah para hakim justru bergaji paling besar di antara pegawai negeri sipil? Bukankah pemerintah sengaja memberi gaji lebih besar agar mereka benar-benar tak bisa disuap? Berapa maunya gaji para hakim di negeri yang utangnya menggunung dan angka kemiskinannya kian membesar ini?

Sederet pertanyaan bisa muncul. Faktanya, fenomena ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengadilan justru semakin mengental di kala gaji hakim semakin naik. Sebab, sesungguhnya faktor mental dan rekrutmen lebih menentukan. Seorang teman saya sesama alumni FH USU yang kini menjadi hakim dengan terang-terangan mengaku, untuk masuk hakim, bapaknya harus mengeluarkan tak kurang Rp150 juta!

Dia tahu betul pelakunya bukan dirinya saja. Setidaknya puluhan temannya yang sama-sama tes di MA melakukan hal serupa.

“Calonya biasanya datang ketika kita sudah di asrama. Malam sebelum ujian wawancara, dia tanya, berapa berani bayar? Dia tak bohong, buktinya semua teman yang nyetor ke dia pada lulus semua. Yang nggak kayak si A (menyebut nama teman saya yang lain-red) pulang kampunglah, walau waktu di Medan nilai ujiannya termasuk tertinggi,” bebernya kepada saya di kantin sumber, beberapa waktu lalu.

Wajarlah, dengan uang sogok begitu besar, kemudian berpikir mengembalikan secepatnya. Atau, terus menerima suap agar ‘sang bos’ punya alasan menuntut pemerintah menaikkan gaji hakim. Begitu dan terus begitu. Wah, ‘bos’-nya hakim itu rupanya Lubis marganya!

* Medan, 14 Agustus 2006

~ oleh rahmadlbs pada 14 Desember 2008.

2 Tanggapan to “Si Lubis dan Hakim Kita!”

  1. Bagus kali pengalamanmu itu Rachmat,singkat tapi menggelitik.Kata orang yang belajar hukum(anda SH):Hukum itu diberlakukan seperti sarang laba2.Hanya terkena jaring makhluk kecil.”Ijuk dipara-para,hotang diparlabian.Nabisuk nampuna/ampuna hata,naoto tu panggadisan.Ah…..tulisan anda membuat aku senyum kecut.

  2. makasih bang. Itulah fakta yang masih terjadi hingga kini di belantara hukum kita. Sayangnya, entah pada generasi keberapa semua itu bisa berubah ke arah yang lebih baik. Mudah-2 an kita masih bisa menikmati perubahannya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: