Hentikan Kecanduan Sakit Hati

Saya akan mulai dengan mengajak Anda mengingat semua pengalaman Anda selama ini, yang selalu gagal dalam urusan romansa. Penolakan demi penolakan Anda alami, dan meskipun ternyata Anda cukup beruntung hingga akhirnya berhasil mendapatkan pacar beberapa kali, namun semua berakhir singkat dengan cara yang tragis dan menyedihkan.

Patah hati, sakit hati, pilu, pedih, perih, sedih, miris, kesepian, merasa tidak diinginkan, merasa menjadi korban kejamnya dunia dan semua emosi negatif lainnya menjadi bagian dari realita Anda. Ditambah dengan penyakit mengharap, sok romantis, sok perhatian dan penyakit-penyakit romansa kronis lainnya, Anda menjadi sosok yang sangat melankolis dan penuh kepahitan.

Anda tenggelam dalam lagu-lagu cengeng dan mellow, film-film lokal dan Asia yang penuh dengan air mata dan momen-momen nan penuh pengharapan menjadi konsumsi sehari-hari Anda. Semuanya itu seolah-oleh semakin mengkonfirmasi apa yang Anda rasakan selama ini, “Tuh kan benar, dunia ini gak adil.”

Dan Anda menarik diri dari lingkungan sosial Anda. Dari keluarga, kuliah, atau kantor. Anda menjadi seorang penyendiri, dan Anda memberikan alasan yang kuat pada diri Anda sendiri untuk menjadi seperti itu, “This is what I am! I’m a loner. No body understands what I feel.”

Atau apabila Anda memiliki banyak teman yang senasib sepenanggungan, yang Anda lakukan adalah menghabiskan waktu untuk mengeluh, meraung dan meratapi nasib percintaan Anda yang rasanya makin lama makin kelam.

Anda membiarkan diri Anda tenggelam dalam lautan emosi yang begitu kelam dan menyedihkan.

Saya mengerti rasanya, karena saya juga pernah berada di situ dan mengalami hal yang sama. Ie know how it feels. We feel you.

Tidak ada yang menyalahkan Anda kalau Anda sedih dan sakit hati. Anda berhak untuk merasakan semua hal itu. Apabila sesuatu yang menyakitkan terjadi pada diri seseorang, tentu respon yang normal adalah merasakan rasa sakit.

Tapi masalahnya, apabila Anda terus larut dan terpuruk dalam keadaan itu, dan membiarkan diri Anda terus merasakan emosi-emosi tersebut, tanpa Anda sadari Anda membuat diri Anda kecanduan.

Saya bisa mendengar Anda bertanya, “Hah? Kecanduan? Kecanduan apa?”

Kecanduan rasa sakit.

Rasa sakit, pedih, sedih, miris, pilu, senang, bahagia, berbunga-bunga, marah, kesal, jatuh cinta dan sebagainya yang Anda rasakan, itu semuanya adalah emosi. Emosi adalah proses fisiologi yang terjadi di dalam tubuh yang timbul ketika Anda mendapat stimulasi-stimulasi tertentu. Dan emosi memiliki pengaruh yang sangat kuat pada tubuh dan otak Anda. Begitu kuat sehingga apabila Anda membiarkan diri Anda larut dalam emosi, Anda akan kehilangan akal sehat Anda.

Semakin sering Anda merasakan gejolak emosi yang sama, maka makin mudah bagi Anda untuk memicu emosi tersebut. Semakin sering Anda mengakses emosi yang sama terus menerus, maka itu akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan tanpa Anda sadari Anda sudah kecanduan.

Ketika Anda merasakan rasa sakit hati, sedih, dan pilu terus menerus, maka Anda telah membiasakan diri Anda untuk merasakan hal-hal tersebut. Semakin sering Anda merasakan pedih, miris dan kesepian, maka akan semakin mudah bagi Anda untuk memicu emosi tersebut. Tidak perlu seorang wanita datang dan menolak Anda, Anda cukup melihat sosok wanita yang mirip dengan si dia saja dan Anda akan langsung merasakan semua rasa sakit hati Anda. Lagi dan lagi.

Tapi saya yakin Anda ingin protes kepada saya saat ini, “Aku gak kecanduan rasa sakit kok! Justru aku gak pengen sakit hati lagi!”

Ya, logika Anda memang berpikir seperti itu, karena akal sehat Anda tahu bahwa rasa sakit hati itu adalah sesuatu yang negatif dan merusak. Namun apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tidak selalu sejalan. Saya rasa Anda juga mengerti, kan?

Anda pasti mengenal seseorang yang terkenal sebagai seorang pemarah berat. Sebenarnya pemarah bukanlah sifat ataupun karakter bawaan, tapi hanyalah sebuah kebiasaan. Dengan kata lain, si pemarah kecanduan rasa marahnya sendiri. Dia mungkin menyadari kalau kebiasaannya marah-marah itu adalah sebuah kebiasaan buruk. Tapi, baik disadari maupun tidak, seorang pemarah merasakan suatu kenikmatan tersendiri setiap kali dia mengerahkan amarahnya secara lepas.

Hal yang sama dapat terjadi pada semua orang dengan jenis kasus yang berbeda. Ganti saja kata ‘amarah’ dengan kata lainnya. Seorang yang kecanduan ‘cinta’, misalnya, sangat menikmati perasaan ‘sedang jatuh cinta’. Rasa berbunga-bunga dan getar-getar yang dia rasakan ketika bertemu dengan lawan jenis baru yang menarik hatinya, sehingga membuat dia sering bergonta-ganti pasangan. Dia jatuh cinta pada perasaan jatuh cinta itu sendiri. Kecanduan.

Hal yang sama terjadi pada Anda.

Kalau Anda tidak kecanduan rasa sakit, lalu mengapa Anda sangat menikmati rasa pilu yang meresap ketika Anda mendengarkan lagu D’Masiv, Cinta Ini Membunuhku, berulang-ulang kali?

Kalau Anda tidak kecanduan rasa sakit, lalu mengapa Anda sangat menikmati rasa miris yang menyayat hati ketika Anda menonton drama percintaan, di mana sang pria menunggu semalaman dibawah hujan deras dan membawa kue kesukaan sang wanita hanya untuk melihat sang wanita berpelukan mesra dengan pria lain?

Kalau Anda tidak kecanduan rasa sakit, lalu mengapa Anda sangat menikmati rasa kesepian yang melanda setiap malam, ketika Anda mengingat-ingat semua detil kejadian yang menyakitkan saat si dia sepertinya memberi harapan lalu akhirnya menolak dan menjauhi Anda?

Anda sudah kecanduan.

Tapi Anda tidak menyadarinya, dan ini yang membuat keadaan Anda semakin parah..

Bagi Anda yang baru mendengar tentang semua ini sekarang, mungkin hal ini kedengarannya absurd. Tapi kecanduan emosi tertentu adalah realita yang terjadi pada setiap orang. Setiap orang memiliki kecanduannya sendiri.

Semakin cepat Anda menerima dan mengakui keadaan Anda, semakin cepat Anda dapat mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Karena hal ini akan sangat merusak hidup Anda apabila Anda tidak menyadarinya dan melakukan sesuatu.

Anda terjebak dalam rasa harap dan self-pity. Kalau sudah begini, hasilnya akan sesuai dengan prediksi Anda. Si dia menolak dan menjauhi Anda. Jelas saja, siapa sih yang ingin bersama dengan orang yang selalu mengasihani diri sendiri dan menyedihkan seperti itu?

Saya tahu penyakit ini tidak mudah untuk diatasi. Sama seperti orang yang kecanduan rokok, alkohol atau obat-obatan, sangat susah untuk menghentikan kebiasaan yang Anda nikmati. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Nah ini dia caranya untuk menghentikan Anda dari kecanduan sakit hati itu. Tapi cara ini akan sia-sia, jika Anda tidak berani menerapkannya secara konsisten.

Pertama, Anda harus mengambil keputusan untuk mengatasi kecanduan Anda. Berjanjilah pada diri Anda sendiri.

Kedua, Anda harus menghindar jauh-jauh dari semua sumber kecanduan Anda. Lagu-lagu cengeng, film-film percintaan, dan pikiran-pikiran negatif yang kerap kali menganggu Anda.

Ketiga, Anda harus merubah kebiasaan Anda yang selalu mellow itu. Pergilah bersenang-senang dengan teman-teman Anda, dan lupakan semua memori buruk yang pernah Anda alami. Jangan pernah Anda ingat-ingat lagi.

Perlahan namun pasti, apabila Anda terus melakukan ketiga hal itu, Anda pasti akan merasakan perubahan yang signifikan. Hidup Anda akan terasa lebih cerah dan berhubungan dengan lawan jenis tidak lagi menjadi sebuah hal yang menimbulkan rasa sakit dan pilu.

Anda mungkin pernah mendengar nama Plato, bukan? Hah, apa hubungannya Plato dengan perasaan sakit hati?

Dengarkan cerita ini.

Plato, dalam orasinya sering sekali menggunakan perumpamaan tentang manusia yang hidup dalam gua yang melihat dunia luar hanya lewat bayangan yang dipantulkan matahari pada dinding gua. Manusia yang berada dalam gua selalu melihat bayangan orang-orang lain yang lewat di depan gua tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar gua. Mereka tidak akan pernah mencoba untuk keluar dari gua mereka karena mereka dengan sangat yakin dan percaya kalau gua yang mereka tinggali adalah tempat yang memang harus mereka tinggali, tidak ada realita baru di luar gua tersebut.

Mereka telah hidup puluhan tahun dalam gua mereka sendiri dan tidak mau mengalami kengerian untuk bergerak keluar dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.

Anda sudah menemukan benang merahnya kan? Belum?

Tanpa kita sadari, kita sering mengurung diri kita dalam gua ketika kita gagal atau hubungan percintaan kita berakhir. Ya, kita memilih hidup di dalam gua dan hanya bisa menatap bayang-bayang keindahan dari dalam gua sambil mengutuk dan memberikan beratus-ratus alasan. Kita tidak pernah berupaya keluar dari gua itu, tapi menikmati situasi dalam gua, walau sesungguhnya yang ada di sana tidak lebih jelas daripada yang ada di luar.

Mungkin saja alasan Anda memang benar kenapa Anda tidak berupaya keluar dan berbicara dengan banyak orang. Tetapi kenyataannya Anda tidak akan pernah berhasil, jika Anda terus menerus mendengarkan berjuta-juta alasan tersebut dan lama kelamaan alasan-alasan tersebut akan membenarkan dirinya sendiri dan menjadi realita baru Anda. Realita baru bahwa Anda memang layak disakiti!!

Nah, kembali ke Plato. Salah satu arti dari filosofi manusia di dalam gua yang dimaksud Plato itu tentu tidak sulit untuk dipahami. Intinya, sering kali manusia hidup di dalam realita yang palsu yang telah dibentuk sebelumnya. Dan bahwa sebenarnya ada realita lain dibalik bayangan-bayangan di dalam gua tersebut (yaitu di luar gua) dan realita lain tersebut hanya dapat ditemukan oleh mereka yang benar-benar mencoba mencarinya dan menembus rantai realita yang selama bertahun-tahun mengurung mereka.

So, keluarlah dari gua kesakithatian Anda, jika Anda ingin keindahan hidup Anda menjadi berwarna. Dan, hentikan kecanduan sakit hati Anda sekarang juga!

www.hitmansystem.com

~ oleh rahmadlbs pada 14 Desember 2008.

Satu Tanggapan to “Hentikan Kecanduan Sakit Hati”

  1. setubuh …eh setuju bro…horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: