Buat Mantanku

Buat Mantanku…

Di kala raga diuji untuk tak menyatu, di kala paparan waktu dan lika-liku jalan yang telah kita tempuh, haruskah kita hapus oleh rinai hujan yang tak bisa kita singkirkan?

Kita masih butuh waktu untuk memulai membeli lem kayu, demi merekatkan kembali hati kita yang telah sekian lama sempat menyatu. Kini, diam menjadi sahabat terbaik. Kau diam, aku diam. Kita sama-sama terpekur dengan angan dan cita-cita yang tak pernah bisa kita jilid.

Buku anganmu dan buku anganku masih butuh waktu untuk bisa menyatu dalam suatu diktat yang mengantarkan kita kelak kepada penciptaan insan Tuhan yang lebih terdidik.

Aku masih ingat benar, kita pernah bercerita mimpi, bahwa anak kita kelak harus lebih pintar dari kita. Kamu tanya, kemana mimpi itu, termasuk mimpi desain kamar yang akan kita buat sebagai tempat kita kelak memadu cinta dan melahirkan karya-karya maha-agung? Aku ingat itu dan masih terngiang di telingaku.

Tapi aku masih butuh torehan waktu. Singkatnya, aku belum siap. Masih ada beberapa bintang yang harus aku kejar yang kelak juga akan kupersembahkan buatmu. Uh, kesabaran memang harus dibayar mahal!

Akh, kita tak salah. Aku tak salah, apalagi kamu. Hanya buku angan itu yang belum bisa kita satukan. Selebihnya, kamu adalah orang terbaik bagiku. Dan aku yakin, begitu juga sebaliknya. Aku percaya, kamu masih mencintaiku.

Aku percaya, cincin yang kuberikan itu masih melekat di jarimu. Jari yang selama ini kerap merengkuhku dan mengusapku ketika aku pulang dari kelelahanku. Jari yang tak pernah jemu menyentuh bibirku ketika mulutku memuntahkan kecerewetannya.

Ya keluh kesah kerap kumuntahkan kepadamu, berbagai hal bisa meluncur. Mulai dari bos kantor yang mau benar sendiri, lay out yang banyak cakap, hingga supir angkot yang menyalip dan berhenti seenak udelnya.

Saat itu, jarimu menyilang vertikal di bibirku. “Ups, katanya dah janji ngak mau emosi,” begitu biasa kamu mengingatkanku.

Aku juga masih mencintaimu. Hingga kini. Lihatlah, kalung perak yang kamu berikan, masih menjuntai erat di leherku. Tiap saat dia bersentuhan dengan dadaku. Di dada yang masih mengukir indah namamu. Di dada yang dulu kerap kamu jadikan tempat meneteskan air mata, tatkala aku memarahimu sejadi-jadinya. Tatkala kamu merasa disepelekan. Tatkala kamu bersandar ketika ingin bermanja denganku.

Tapi sudahlah, hidup bukanlah hitung-hitungan waktu. Bukan pula kumpulan memori yang harus didewakan. Hidup adalah hari ini. Ingat kata Dewi Lestari dalam Supernova-nya, detik ini berharga karena ia adalah detik ini. Jadi, lupakan saja memori itu.

Mari berbicara hari ini sebelum melangkah ke hari depan. Hanya dengan begitu, kita bisa melakukan perenungan yang adil. Perenungan yang tidak berdasar love is blind. Melainkan perenungan yang berorientasi masa depan.

Semoga perenungan yang kita jalani sekarang, menghasilkan buah keputusan yang terbaik… !! *

Medan,

15 Oktober 2008

Rahmad Nur Lubis

~ oleh rahmadlbs pada 14 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: