Supir Taksi, Kakek Tua dan Tiket PSMS

“Apa lagi yang bisa dibanggakan dari kota Medan ini? Walikota dan Wakilnya ditahan gara-gara kasus korupsi, Gubernurnya juga disebut-sebut sedang diusut KPK. Eh, PSMS pun entah bagaimana nasibnya.”

Bagi Anda yang tidak menggilai sepakbola, mungkin ucapan teman saya di atas akan Anda anggap berlebihan. Bahasa gaulnya sekarang; lebay. Namun, jangan langsung mengklaim bahwa teman saya itu gila. Sebab, bagi penggila sepakbola, tim sepakbola kebanggaannya adalah manifestasi dari cermin kebanggaan dirinya sendiri. Bahkan, bisa jadi penawar duka kepahitan hidup yang dia jalani.

Tidak percaya? Suatu hari, dari Bandara Hang Nadim ke kawasan Nagoya, Batam, saya terlibat pembicaraan yang menarik dengan supir taksi yang saya tumpangi. Ringan memang bahasan kami; tentang persaingan dua media cetak besar di kota itu. Di sana, sebelumnya ada satu media besar yang sangat merajai dan boleh dikata memonopoli pasaran.

Belakangan ini, disebut-sebut hegemoni media itu mulai goyah dengan kehadiran salah satu media besar lainnya. Konon, banyak pembaca yang beralih ke media baru tersebut. Nah, salah satu pembaca yang pindah media itu adalah si bapak paruh baya yang menjadi supir taksi ini.

Saya cukup tercengang mendengar alasannya. “Di koran anu (menyebut nama merek media lama), tak pernah mengulas tim favorit saya, Valencia. Tiap hari Real Madrid terus yang mereka tulis. Saya tidak suka Real Madrid. Kalau di koran anu (menyebut nama media baru), tidak hanya tim besar saja yang mereka beritakan. Dan lumayan sering juga Valencia ditulis,” bebernya dengan wajah serius.

Lihatlah, betapa militansi seseorang terhadap bacaan yang telah dia lahap selama bertahun-tahun, bisa saja berubah hanya karena persoalan tim kebanggaannya yang tidak diakomodir. Padahal, apa sih hubungan si bapak ini dengan tim Valencia yang mungkin dalam mimpi pun dia tidak pernah bisa menonton permainannya secara langsung?

Tapi itulah sepakbola. Jargon romantisme ‘jauh di mata dekat di hati itu’ memang sepertinya lebih tepat untuk disematkan kepada penggila olahraga yang berasal dari Inggris ini. Tanpa batas dan tanpa logika. Football without frointers

Kegilaaan pencinta sepakbola terhadap tim kebanggaannya juga pernah saya alami dalam suatu perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Surabaya. Di sebelah saya duduk seorang bapak tua, berkaca mata dan nyaris seluruh rambutnya sudah dipenuhi uban. Bawaannya dingin dan terkesan lelah, sehingga sapaan basa-basi saya tidak begitu banyak dia tanggapi, selain menjawab singkat bahwa dia berasal dari Malang.

Namun, sikap dinginya berubah 180 derajat ketika saya menanyakan satu pertanyaan; “Oya, Bapak tahu Aremania?”

Sontak, dia tersenyum dan menjelaskan kepada saya panjang lebar kalau dia masih sering datang ke Stadion Kanjuruhan Malang untuk mendukung Arema berlaga. Dia juga mengaku sering ikut bernyanyi bersama puluhan ribu suporter lainnya di dalam stadion. “Saya hapal lho lagu-lagu Aremania,” ucapnya.

Dari ceritanya yang berapi-api soal Arema, saya sudah bisa membayangkan bagaimana si bapak tua ini akan merasa jauh lebih muda puluhan tahun saat berada di tengah ribuan suporter Aremania. Sepakbola, setidaknya, telah membuatnya lupa akan umurnya yang sudah mendekati uzur.

Kisah kegilaan ini juga pernah saya dengar dari seorang teman asal Surabaya yang merantau ke Medan. “Awalnya, saya takut juga dengar cerita orang-orang Medan yang katanya kasar dan keras. Tapi ketika saya ingat bahwa saya Bonek, ketakutan saya itu sontak sirna,” ujarnya sembari tertawa ngakak.

Lihatlah, betapa jargon bondo nekat (bonek) yang disematkan kepada suporter Persebaya Surabaya, bisa menyuntikkan api keberanian bagi teman itu. Maklum saja, bonek ini dikenal memiliki darah yang pemberani, bahkan terkesan tidak takut kepada siapapun. Sepakbola, setidaknya, telah membuat teman saya ini lebih tenang dalam menjalani hidupnya di daerah baru.

Apakah masyarakat Medan tidak memiliki orang-orang seperti si supir taksi, bapak tua dan teman saya tadi? Saya yakin cukup banyak. Lantas, kalau ada, kenapa PSMS tidak kunjung berprestasi, paling tidak dalam kurun 15 tahun belakangan? Kemana dan dimana para penggila bola Medan?

Suporter, bagaimanapun, adalah bagian dari sebuah tim. Lewat tiket yang mereka beli, klub mendapatkan pemasukan dana. Lewat yel-yel mereka, 11 pemain yang berlaga di lapangan seakan mendapat suntikan darah baru, sementara 11 pemain lainnya mengalami penurunan nyali. Tak heran, jika faktor tuan rumah cenderung lebih memungkinkan untuk menang, ya itu tadi, karena pengaruh pemain ke 12; suporter.

Namun, jangan dilupakan, rasa memiliki suatu tim tidaklah bisa muncul begitu saja. Ada proses panjang dan perasaan keterwakilan di sana. Cerita romantisme tahun 1980-an kala PSMS berlaga di Jakarta dan kaum inang-inang Pasar Tanah Abang ikut mendukung, menjadi bukti bagaimana proses keterwakilan itu berjalan. PSMS adalah kami dan kami adalah PSMS, begitu mungkin yang tertanam di benak mereka.

Persoalannya, seiring waktu, proses keterwakilan itu seperti tergerus dari masyarakat Medan dimanapun berada. PSMS menjadi barang asing yang tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan mereka. Jangankan bagi mereka yang hanya memiliki darah Sumatera Utara, yang lahir dan besar di Sumut pun sepertinya lebih memilih untuk mencintai MU, Liverpool, Real Madrid, atau tim-tim Eropa lainnya, ketimbang tim yang memang bercokol di tanah kelahirannya.

Ada apa? Selain faktor minimnya prestasi, faktor rasa ketidakterwakilan itu ikut juga ambil peranan. PSMS seakan menjadi milik segelintir orang, sementara suporter atau fans hanya ditempatkan sebagai penggembira yang uangnya bisa digerus untuk pemasukan pengurus. Indikasinya, dapat dilihat dari mahalnya tiket menonton di Stadion Teladan yang minimalnya Rp20 ribu.

Jika saat itu disuguhkan dengan permainan yang apik, mungkin angka Rp20 ribu tidak menjadi soal. Namun, bagaimana kalau dengan angka sebegitu, suporter hanya disuguhi permainan sepakbola kelas antar-kampung? Salahkah jika fanatisme mereka juga ikut tergerus?

Ini tentunya layak menjadi catatan bagi pengurus. Utamanya, bagaimana agar mereka bisa menanamkan rasa memiliki itu kepada publik sepakbola Medan. Cara termudah, turunkan dulu harga tiket dan libatkan mereka yang tergabung dalam kelompok suporter dalam pengambilan keputusan.

Tanpa itu, PSMS akan tetap seperti raksasa yang kesepian, dan akhirnya hanya bisa tertidur lelap! (***)

~ oleh rahmadlbs pada 19 Maret 2010.

2 Tanggapan to “Supir Taksi, Kakek Tua dan Tiket PSMS”

  1. bagus sekali tulisan ini……

  2. bah, mana cerita soal walikota dan gubernurnya? akh kecewa awak krn yg diceritain cm PSMS yg sdh lama mati suri meskipun anggarannya tetap terus mengalir dari apbd…
    lain kali cerita harimau tapanuli aja ya bg…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: