Menguak Ayam Kampus Medan (2)

Benarkah alasan ekonomi yang paling berperan untuk memicu  seorang  mahasiswi terjun menjadi ayam kampus? Sepertinya, masih butuh perdebatan panjang untuk itu.

Saya yakin, Anda juga seperti saya, suatu waktu menghabiskan malam di tempat-tempat dugem. Atau nongkrong di warkop Harapan di Jalan Sudirman Medan. Atau kongkow-kongkow di coffe shop Sun Plasa hanya untuk melihat cewek-cewek berrok pendek mempertontonkan paha mulusnya.

Apa yang ada dalam benak Anda saat itu? Hmm.. bisa bermacam-macam tentunya. Tapi, saya ingin memprovokasi Anda. Jika Anda sering duduk di tempat-tempat seperti itu, maka Anda akan semakin yakin bahwa budaya hedonisme kini benar-benar merasuki sebagian besar anak muda negeri ini!

Belum cukup hanya dengan melihat di tempat yang memang tempatnya untuk orang tebar pesona itu? Ok-lah, sekarang coba datang ke beberapa kampus di Medan. Tidak sulit bagi Anda untuk menemukan fakta, bahwa tempat yang semestinya menjadi arena untuk berlomba-lomba menambah ilmu dan wawasan, kini ternyata telah berubah wajah!

Sebagian besar protipe mahasiswa yang terlihat adalah mereka-mereka yang lebih mengedepankan fashion, musik, dan pesta. Menemukan cewek modis menyandang tas kecil dengan pakaian yang membuat jakun pria naik turun, jauh lebih mudah ketimbang menemukan mahasiswi dengan wajah letih menjinjing diktat.

Ada celetukan teman seangkatan saya soal ini, ketika kami bernostalgia dengan duduk-duduk di salah satu warung kopi di Sumber (pintu masuk kampus USU dari Jalan Jamin Ginting), beberapa hari lalu. Dia bilang, “Kita kecepatan yah kuliahnya. Coba kalo dulu teman-teman kuliah kita secantik-cantik ini, sakit-sakit sikitpun awak paksakan kuliah.”

Hahaha… saya tertawa ngikik dengarnya. Tapi saya akui, teman saya itu tidak sepenuhnya salah. Mungkin situasi dan kondisi sudah jauh berbeda dengan sekarang. Saat itu, di tahun 1996, hanya orang-orang yang benar-benar pintarlah yang bisa masuk USU (ups, saya tidak bermaksud narsis!). Ya, karena jalur untuk masuk USU hanya dengan dua pintu, UMPTN atau PMDK.

Saat itu pula, suasana Sumber tidak seramai sekarang. Mahasiswi-mahasiswi yang lewat kebanyakan dengan muka letih karena dikejar berbagai macam tugas dan beban pelajaran. Boro-boro bergaya, mikirin lulus ujian semester saja sudah membuatnya malas mandi.

Berbeda dengan sekarang, setelah berbagai pintu dibuka, rasanya nyaris semua orang bisa masuk USU. Yah, akibatnya kampus USU seperti pukat harimau yang ikan teri pun bisa masuk ke dalamnya. Maka itu, wajarlah jika semakin banyak cewek cantik bersiliweran di USU.

Beban untuk kuliah pun rasanya tidak seberat dulu lagi. Karena regenerasi dosen terus terjadi. Dosen-dosen tua yang perfectsionis mulai mati satu-satu digantikan dosen-dosen muda yang lebih permisif. Alhasil, mahasiswi punya lebih banyak waktu untuk ber make-up sedemikian rupa sebelum berangkat ke kampus.

Mahasiswi sekarang lebih punya banyak waktu untuk shoping baju-baju dan fashion terbaru ke mall atau plasa yang semakin banyak bertebaran di kota ini. Mahasiswi semakin punya waktu untuk menonton televisi yang hampir dari pagi ke pagi lagi terus mempertontonkan kemewahan dan keglamouran. Dari sana mereka belajar banyak bagaimana menjadi wanita yang enak dilihat, dan hmm.. menggairahkan.

Oalah, saya sudah melantur kemana-mana neh. Anggap ajalah tadi sekadar intermezzo.

Saya akan kembali ke ‘jalur yang benar’. Saya hanya ingin mengatakan, sesungguhnya budaya hedonisme itulah yang lebih banyak ambil peranan untuk melahirkan ayam kampus. Beberapa pengakuan mahasiswi ayam kampus yang sempat saya catat semakin menampakkan gejala ke arah itu.

Dengar pengakuan MM berikut. “Kalau lagi bete kuliah, saya suka shoping di mal atau supermarket untuk mengisi waktu luang. Sering juga ke kafe dan diskotek,” aku mahasiswi ayam kampus yang kuliah di kampus P di Jalan Jamin Ginting Medan ini, waktu kami ngobrol di Warkop Kumis, Jalan Sudirman, Medan.

Soal kebiasaan itu, apalagi yang terakhir –diskotek– MM mengaku bisa memenuhinya dari kiriman orang tua. “Cukuplah kalau sekadar main-main ke kafe atau diskotek. Aku nggak mau kayak teman-teman aku yang lain. Jual diri gara-gara pingin main-main ke tempat hiburan malam. Nggak lah yaow..,” kata gadis berparas manis ini.

Tapi itu kata MM. Lain pula kata Y. Mahasiswi semester akhir di kampus A ini juga mengaku doyan mengisi waktu luangnya ke diskotek atau pub. Bahkan, hampir semua tempat hiburan malam di Medan pernah dijambaninya.

Dananya? Apalagi kalau bukan dari pria-pria iseng yang berasal dari kalangan pengusaha maupun pejabat yang dia temani. Untuk menemani mereka enjoy menikmati gemerlap malam, Y mengaku mengenakan tarif Rp500.000 per malam, di luar makan dan minum.

“Kalau mau lebih dari sekadar ditemani, bayarnya berbeda,” kata Y.

Y memaparkan, rata-rata orang yang ditemani tidak cuma menuntut sekadar ngobrol. Sebagian besar malah ada yang meminta dilayani di atas ranjang. “Kalau lagi mood, nggak jadi masalah. Pas lagi bete, sering saya tolak. Alasannya, macam-macamlah. Mulai dari mau ujian sampai mau pulang kampung. Pokoknya biar nolak, jangan sampai membuat mereka kecewa,” ungkap Y yang mengaku sering keluar masuk hotel berbintang bersama tamunya.

Namun, menurut Y, penolakan yang dilakukannya terkadang tak lebih untuk menaikkan tarif!

Olala, ini pelajaran berharga bagi pria-pria pemburu ayam kampus. Y bercerita, semakin dia menolak, biasanya si pria tersebut akan terus penasaran, dan akan semakin santer melakukan pendekatan. “Kalau sudah begitu, aku bisa minta bayar mahal,” paparnya sembari tersenyum manis. Semanis teh tarik yang lagi kami sirup malam itu.

Lain Y, lain pula Ar. Mahasiswi kampus U di kawasan Padang Bulan, Medan, ini saya kenal betul sebagai anak seorang pengusaha. Sehari-hari, gadis berdada montok ini menunggangi Kijang Inova ke kampusnya.

Tapi, di luar statusnya sebagai mahasiswi, ternyata Ar sering meladeni pria-pria yang membutuhkan hiburan. “Saya cuma menemani. Apa salahnya? Lagi pula, aku suka kok nongkrong di tempat-tempat hiburan itu,” kelit gadis berkulit putih dengan tubuh langsing ini.

Bagi Ar, apa yang dilakukannya tak lebih dari tren anak muda. Sebagai gadis metropolis, lanjutnya, selalu punya cara untuk melepaskan gejolak jiwa mudanya melalui fashion dan gaya pergaulan. Diakuinya, tren itu tak bisa dilepaskan dari maraknya siaran televisi yang mempertontonkan gaya hidup hedonis layaknya selebritis.

“Kalau saya sih mau senang-senang aja. Pengaruh tivi, mungkin ada, tapi entahlah,” pungkas Y.

Moral hazard apa yang bisa Anda ambil dari penelusuran saya itu? Yup, Anda benar. Menjadi ayam kampus lebih kepada pilihan bukan keterpaksaan. Pilihan untuk berjuang memperbaiki hidup sembari bersyukur dengan hidup, atau pilihan untuk berjuang menghidupkan yang memang gampang hidup (walah, apalagi neh.. hehehe..).

Semuanya terserah Anda, wahai ayam kampus! (***)

Medan, 17 Desember 2008

Rahmad

About these ads

~ oleh rahmadlbs pada 17 Desember 2008.

33 Tanggapan to “Menguak Ayam Kampus Medan (2)”

  1. Heeemmm,coba liat anak2 polmed-saudara tiri USU kalau pulang kuliah pasti mukanya lecet-lecet,…kalaupun ada yang tetap bermake-up biasanya tuntutan peran, karena memang kuliahnya ngambil jurusan Administrasi Niaga alias sekertaris yang memang dituntut tetap berpenampilan oke….(promosi Polmed)

  2. aku sangat setuju dengan perilaku hedonis dan apatis yang mulai merambah di dunia kampus…udah susah nyari teman yang bisa diajak diskusi yang bersifat KRITIS selain mahasiswa yg aktif di organisasi.

    kirim e-mailnya dong bang ke tian_sangjendral@yahoo.com…biar bisa diskusi jarak jauh hehehe….

    GBU

  3. ya msti nya klo bljar ya yg sungguh2 la jgn jd lonte klo mau jual ehem g usa jd mahasiswa la

  4. @ Rani: Aku pikir fenomena make-up tebal tak hanya di Polmed USU. Nyaris di sebagian besar kampus, mahasiswi sudah mengutamakan penampilan ketimbang ilmu. Tidak semua memang, karena itu masih butuh penelitian lebih jauh tentang ini…

    @ Christian: Thanks bung.. Udah aku kirim..

    @ Iman: Indeed.. :)

  5. Oke

  6. Sudah tidak asing lagi jaman sudah banyak berubah hal tersebul sudah menjadi lumrah…..karena budaya barat yang bebas kita jadi tertarik mencontoh budaya barat.

  7. Betul, sobat… Thanks commennya dan jangan lelah untuk berkunjung ke mari.. ;)

  8. Sudahlah dikasi bebas aja semua, sampai dimana kebebasan itu dibuat.

  9. kenapa ya julukannya ayam? ngak bebek kampus atau burung kampus…iseng pengen tahu aja

  10. Beghh..
    Mnurut aq seh, skrang trgantung manusia ny aj.. Mw hidup enak atau pas”an..

  11. benar, tapi tidak bisa juga segala persoalan kita kembalikan ke manusianya…

  12. dulu taon ’96 an..aq masih ingat klo di kampus USU itu sangat baik..Pagi jam 5 pagi dan jam 5 sore di daerah kampus usu kebanyakan yang sport/olah raga karena aq sering di bawa paman.
    Tapi sekarang…dah ajang TePe-TePe di sekitar kampus USU.
    Ya ngk tabu lagi kayaknya..berpakaian Rok Mini pakaian yang super ketat..kadang orang yang melihatnya jadi mikir yang aneh apalagi cowo..ya wajar la cowo sehat kan??? hahahaha…

  13. ayam kampus pasaran berapa bang?
    sekilo masih 20rb kan.

    jajajajajaja
    ahahahah

  14. Ayam kampus, bukti DEGRADASI MORAL dikalangan sebahagian MAHASISWI kita saat ini.
    Fenomena ini merupakan bagian dari perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat sekali, banyak diantara mereka adalah korban dari gaya hidup/pencitraan dan sebagian lagi akibat himpitan ekonomi yang kian berat untuk survival.
    Tetapi apapun alasan dan latar belakangnya, mereka jauh lebih hina dibandingkan PELACUR MURAHAN yang bisa dijumpai di luaran kampus.
    Sekali PELACUR, AYAM KAMPUS tetaplah PELACUR HINA.

  15. mas mau tanya, di sana ayam sekilo mya berapa. itu ayam potong atau petelur ya?

  16. fenomena,,mahasiswa,,,,yang katanya maha,,,adalah maha bersolek….hehehheeheh

  17. bukan siapa2 yg salah bang…
    hanya asuhan dari kota medan yg g bisa jadi contoh,
    banyak intimidasi (kemana-mana anggar backing).
    banyak laki2 yg suka maenin cewek (cuma mw ambil perawannya aja).
    so, klo dah g perawan ketagihan dech (minta lagi) terus jadi jual diri atw jadi cewek bispak (bisa pake).
    dan lagi dosen yg mengajarkan mahasiswi2nya unutk terjerumus ke lobang hitam (jadi ayam kampus, aq ada fakta + pengalam kuliah di salah satu perguruan tinggi di medan).

  18. hahah..
    saya suka pembahasan nya dan cara dari sudut pandang anda..
    sepertinya perubahan zaman sangat mempengaruhi kualitas pendidikan juga..coba setiap siswa, mahasiswa dan pemuda indonesia punya kesadaran dan sudut pandang yang positif seperti anda ..emmmm..mungkin indonesia akan sedikit berubah dari keterpurukan ini..
    salam.

  19. janganlah jadi ayam kampus. dimana harga dirimu wahai wanita indonesia.

  20. hmmmmm….

  21. ayam campus, perek, psk, lonte, itu profesi bung !!!

  22. cmana la. Pelajaran agama pun cuma 2 sks seminggu. itupun cuma 1 semester..

  23. baik buruk_a manusia targantuk dia sendiri

  24. ya jangan munafik… banyak yang cari ayam kampus ketimbang ayan betelur..

  25. hampir smua kampus yg ada dimedan ada ayam kampus,..

    kampus ,kos & kampung
    kampus, nongkrong,kos n,kampus,nongkrong ,kos,kampus ,nongkrong ,kos,kampung,..kegiatan teman2 mahasiswa usu n kampus lainya ..medan

    rasa senioritas,doktrin,pengkaderan yang kurang menciptakn karakter mahasiswa tegar,Organisasi yang kurang diminati, organisasi yg tidak mampu berdiri diantra kegelapan,oragnisasi yang Mati oleh Birokrasi .bbrapa bulan kamrin sya plang ke medan n jlan2 ke kampus USU, saya sngat prihatin melhat2 tman2 mahsaiswa/wi yg hnya lebih ke gaya , rasanya sya seolah2 berada diatra ciptaan Tuhan paling seksi tak bermoral (maaf ) bahkan mahasiswa/wi yg aktif dlam organissi keagamaan pun tlah disusupi manusia yg tak bermoral ”kalau cinta sekx itu tdak maslah toh nnti kami akn nikah” ??????? sebuah pernyataan yg melayangkan pikiranku ke sebuah jurang penuh duri”
    saya tiidak habis pikir dengan semudah itu seorang mahasiswa mlontar kat2 itu.

    ‘orang pintar yang goblok ,dodong & terombang ambing
    masuk pintar didalam jadi maoto’
    kata2 ini slalu keluar dri tman2 mahasiswa asal medan di makassar.

    ayam kampus”ayam pangkal paha

    mahasiswi USU Mahasiswi pangkal Paha

    ANAK MEDAN UNHAS

  26. saya sngt tdk setuju

  27. Ganyang ayam kampus

  28. saya setuju ada ayam kampus biar gak terjadi banyak pemerkosaan dimana-mana, coba kalau gak ada kan habis sabun dikamar mandi dan memperkosa binatang,anak orang,mamak, dan masuk penjara. yang penting gak meganggu lingkungan dan saling suka yang penting enak dan cocok harga. saya dukung itu biar maju negara ini. hehheheheheheh

  29. ini memang dah zaman nya ya mau d blang ap lagi kita hnya hrus mngikuti zaman itu

  30. asik tulisannya, kritis dan lugas….
    like this bro lubis..
    aku juga sering2 lah ke medan apalagi tempat aku adalah tetangga provinsi paling dekatnya, dan aku suka gaya bahasa Bro Lubis yang ada “hedonisme” nya, aku merasa penulis adalah orang anti maksiat
    salut !

  31. kesuanya itu broz tergantung pda dri kta?
    ap kuat iman kta?kok blm jgn tingl dikota metro ok broz

  32. Terimakasih..

  33. Budaya Hedonisme, memang seiring tuntutan zaman, dimana pola etika dalam berbusana, dan bertuturkata. Masuknya Hedonisme adalah awal dari peradaban bangsa. Terkait dari pada itu kita diminta mampu memilah, menelaah, pola masyarakat sesuai dengan kebajikan, tatanan wawasan Nusantara. Hanya orang yang dinamis mampu melihat perkembangan, dengan memiliki kepribadian sebagai citra bangsa indonesia diharapkan mampu dalam mengaktualisasi perdaban yang terjadi dengan jiwa dinamis, optimis, pekerja keras, dan bertanggungjawab.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: